
Obat batuk sirop.
JAKARTA (wartadigital.id) – BADAN Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia (RI) memperbarui daftar obat yang mengandung cemaran Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG). Sebelumnya, BPOM hanya menyebutkan 3 jenis obat sirop yang tercemar.
Pada kesempatan lain, BPOM menyebutkan 4 obat tambahan yang mengandung cemaran EG dan DEG. Dengan demikian, saat ini ada sekitar 7 obat sirup berbahaya yang diduga menjadi penyebab peningkatan kasus gagal ginjal aku pada anak.
Berikut daftar obat sirup terbaru yang mengandung cemaran EG dan DEG.
- Paracetamol Drops
- Paracetamol Sirop Rasa Peppermint
- Vipcol Sirop
- Flurin DMP Sirop
- Unibebi Couh Syrup
- Unibebi Demam Drop
- Unibebi Demam Syrup
Paracetamol Drops dan Paracetamol Sirup baru-baru ini masuk ke dalam daftar obat yang aman untuk dikonsumsi menurut Kemenkes. Namun BPOM meralat pernyataan itu dan membuat obat tersebut masuk ke dalam daftar obat berbahaya.
Informasi ini membuat masyarakat kalang kabut. Bagaimana tidak, yang sebelumnya dinyatakan aman, lalu direvisi jadi tidak aman karena mengandung cemaran EG dan DEG.
Kementerian Kesehatan menanggapi masalah ini. Dijelaskan Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril, obat tersebut masuk dalam daftar 102 obat yang ditemukan di rumah pasien yang sakit gangguan ginjal akut. Setelah itu, Kemenkes meminta BPOM untuk mengecek keberadaan cemaran EG dan DEG di dalam obat sirop tersebut dan keluarlah rilis bahwa obat itu aman.
“Kami sebetulnya hanya merujuk pada satu kategori, yaitu obat sirop. Artinya, rekomendasi kami sampaikan ke BPOM bahwa semua obat sirop yang diduga ada komposisi pelarutnya, dan dimungkinkan ada cemaran EG dan DEG agar menjadi prioritas pemeriksaan BPOM,” terang Syahril di konferensi pers secara daring, Selasa (1/11/2022).
Dengan kata lain, kalau pun memang ada perubahan status keamanan obat yang dirilis BPOM, itu merupakan hasil pemeriksaan BPOM. Kemenkes hanya memberikan rekomendasi untuk melakukan pengujian pada sejumlah obat yang diduga ada kaitannya dengan penyebab anak-anak alami gangguan ginjal akut.
Sementara itu, berdasarkan data terakhir yang dirilis Kemenkes pada Rabu (2/11/2022), jumlah kasus gangguan ginjal akut di Indonesia telah mencapai angka 325 kasus dengan total 179 kasus kematian.
Terdapat konsentrasi di beberapa provinsi tertentu khususnya di daerah Sumatera Utara, Jawa bagian Barat dan Timur, serta Sulawesi Selatan. DKI Jakarta masih mendominasi jumlah kasus, kemudian disusul Jawa Barat, Jawa Timur, dan Banten. “Yang unik adalah Aceh, Sumatera Barat, dan Bali. Ini yang unik, ya,” ungkap Menkes.
Selain itu, Budi memastikan bahwa peran obat Fomepizole dalam kasus gangguan ginjal akut terbukti positif. Ini terlihat dari pasien di RSCM yang diberikan Fomepizole dan kebanyakan dari mereka menunjukkan perbaikan kondisi kesehatan.
“6 dari 12 pasien gangguan ginjal akut yang dirawat di RSCM menunjukkan perbaikan setelah diberikan Fomepizole,” terang Menkes Budi. okz, cik