Invasi Hari ke-10, Rusia Terus Mengepung dan Bombardir Kota Mariupol Ukraina

Twitter
Kobaran api di mana-mana saat Maripol Ukraina diserang pasukan Rusia.

 

MARIUPOL (wartadigital.id) – Pasukan Rusia mengepung dan membombardir kota pelabuhan Mariupol ketika invasi ke Ukraina memasuki hari ke-10 pada Sabtu (5/3/2022). Invasi ini tercatat sebagai serangan terbesar di negara Eropa sejak Perang Dunia II.

Bacaan Lainnya

Pertempuran telah memaksa lebih dari 1 juta warga Ukraina mengungsi dan memicu kekhawatiran Barat bahwa konflik akan meluas. Moskow mengatakan serangannya adalah “operasi khusus” untuk menangkap para individu yang dianggapnya sebagai bagian dari kelompok nasionalis berbahaya, dan

Walikota Mariupol, Vadym Boychenko, mengatakan pasukan Rusia telah mengepung dan menembaki kota pelabuhan tenggara. Menurutnya, itu menjadi pelengkap penderitaan setelah tidak ada air, gas, atau pun listrik dan kota itu kehabisan makanan. “Kami hanya dihancurkan,” keluhnya yang disiarkan televisi, menggambarkan penembakan tanpa pandang bulu di daerah pemukiman dan rumah sakit. “Mereka ingin memusnahkan penduduk Mariupol dan Mariupol dari muka bumi,” katanya lagi, seperti dikutip Reuters.

Pasukan Ukraina mempertahankan garis melawan upaya serangan Rusia di Mariupol, tetapi membutuhkan dukungan yang signifikan. Demikian disampaikan seorang wakil komandan unit militer Azov, bagian dari Garda Nasional Ukraina. “Ini adalah kota terakhir yang mencegah pembuatan koridor darat dari Rusia ke Crimea,” katanya dalam sebuah posting di halaman Telegram resmi Azov, mengidentifikasi dirinya dengan nama panggilan Kalyna. “Mariupol tidak bisa hilang,” tambahnya.

Pada Kamis lalu, Rusia dan Ukraina menyepakati perlunya koridor kemanusiaan untuk membantu warga sipil melarikan diri dari pertempuran, terobosan nyata pertama dalam pembicaraan. Tetapi hanya sedikit kemajuan yang telah dibuat sejak saat itu dalam implementasinya. Beberapa penduduk Mariupol telah melarikan diri ke pusat kota untuk menghindari penembakan terberat di pinggiran.

Hal itu dipaparkan pengusaha setempat, Ivan Yermolayev (30), yang telah berlindung di ruang bawah tanah kecil rumahnya dan mengantre untuk mendapatkan air di sebuah toko lokal. “Mereka bersama anak-anak mereka di tengah dan mendengar perang semakin dekat,” katanya kepada Reuters melalui pesan online. “Ada tangisan, ketakutan, ketidakpastian, kepanikan,” katanya lagi.

Kuasai Wilayah Udara

Rusia secara efektif sudah menguasai wilayah udara atau langit Ukraina dan hanya menyisakan sedikit ruang bagi pesawat tempur Kiev yang tersisa untuk beroperasi. Hal itu dipaparkan penerbang yang juga pensiunan komandan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) Ward Carroll.

Carroll, yang memiliki pengalaman menerbangkan jet tempur F-14, mengatakan kepada Newsweek bahwa sangat berbahaya bagi pilot tempur untuk beroperasi di wilayah udara Ukraina. Dia bahkan menduga konvoi bala bantuan Moskow ke Ukraina akan terhenti karena rentan jadi korban salah sasaran. “Mereka pada dasarnya dilarang terbang. Jika mereka terbang, mereka mati,” kata Carroll tentang Angkatan Udara Ukraina yang diperangi Moskow, yang dilansir Sabtu (5/3/2022).

Menurutnya, mengingat kekuatan udara Rusia yang luar biasa, ini akan menjadi aset yang bisa dimanfaatkan Moskow saat perang memasuki minggu kedua. Seperti diketahui, Moskow belum menggunakan jet-jet tempur canggihnya sejak memulai invasi pada 24 Februari. Taktik itu telah membingungkan para pakar militer Barat.

Carroll, yang sekarang menjadi penulis dan pembawa acara saluran YouTube yang membahas urusan militer, mengatakan setiap serangan mendadak yang diterbangkan oleh jet tempur Ukraina pada tahap konflik ini akan menjadi misi terakhir. “Itulah sebabnya, gagasan untuk mengirim lebih banyak pesawat seperti MiG-29 masih diperdebatkan saat ini,” katanya.

Dikatakannya Ukraina dapat terbang untuk serangan singkat, serangan cepat, dan kemudian kembali ke dek dan menyembunyikan jet.

Situasinya sedemikian rupa sehingga Rusia menegaskan kontrol efektif atas ketinggian 10.000 kaki, dan Carroll mencatat bahwa “Siapa pun yang memiliki kekuasaan di atas 10.000 memiliki superioritas udara.” “Dan ini tidak berarti Ukraina memiliki di bawah itu,” ujarnya.

Ukraina masih mempertahankan beberapa kemampuan anti pesawatnya, termasuk dalam bentuk rudal Stinger yang ditembakkan dari bahu yang disediakan oleh Amerika Serikat. “Tetapi ancaman yang ditimbulkan oleh platform ini sebagian besar terbatas pada helikopter serbu dan pesawat angkut yang mencoba mendarat,” kata Carroll.

“Begitu Anda memiliki langit di atas 10.000, Anda dapat mengelola ancaman rudal permukaan ke udara yang muncul,” imbuh dia. Situasi ini sangat membatasi kemampuan Ukraina untuk mencapai target yang bahkan berpotensi menggiurkan seperti konvoi Rusia yang membentang sekitar 40 mil barat laut Kiev. sin, ins