Israel Bombardir Jalur Gaza Lewat Udara, 232 Warga Palestina Tewas

Reuters
Serangan udara Israel di Jalur Gaza yang diluncurkan setelah serangan mendadak Hamas menewaskan sedikitnya 232 warga Palestina.

 

GAZA (wartadigital.id)  – Serangan udara Israel di Jalur Gaza yang diluncurkan setelah serangan mendadak Hamas menewaskan sedikitnya 232 warga Palestina. Hal itu diungkapkan Kementerian Kesehatan di wilayah itu. Dalam pembaruan di akun Facebook-nya, Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza mengatakan 1.697 warga Palestina juga terluka.

Bacaan Lainnya

Pihak kementerian menambahkan bahwa tim medisnya bekerja dengan kapasitas penuh untuk menyelamatkan puluhan kasus serius dan kritis di ruang operasi dan unit perawatan intensif, seperti dikutip dari Anadolu, Minggu (8/10/2023).

Israel memulai Operasi Pedang Besi di Gaza sebagai pembalasan atas Operasi Badai Al-Aqsa yang dilakukan pasukan Hamas ke Israel pada hari sebelumnya. “Tentara Israel memulai operasi skala besar untuk membela warga sipil Israel dari serangan gabungan yang dilancarkan Hamas terhadap Israel pagi ini,” kata militer Israel dalam sebuah pernyataan.

Ketua Hamas Ismail Haniyeh menggambarkan serangan itu sebagai epik heroik sebagai respons terhadap agresi Israel terhadap Masjid Al Aqsa dan kekerasan terhadap pemukim Palestina. Sebelumnya, ratusan pemukim Israel memaksa masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa yang menjadi titik konflik selama hari raya Yahudi di Sukkot baru-baru ini. Brigade Al-Qassam, sayap bersenjata gerakan Hamas, mengatakan pihaknya menargetkan lokasi musuh, bandara, dan instalasi militer dengan roket.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan negaranya sedang dalam keadaan perang, dan prioritas tentaranya adalah membersihkan kekuatan musuh.  Pemerintah Israel mengumumkan perang pada Sabtu (7/10/2023) ketika ribuan roket yang diluncurkan Hamas menghantam negara itu. Setelah serangan ribuan roket, para milisi perlawanan Palestina itu terlihat memasuki berbagai kota di Israel dan menembaki orang-orang. Hamas menamai serangan ini sebagai Operasi Badai Al-Aqsa.

Pecahnya perang besar ini terjadi setelah berbulan-bulan meningkatnya kekerasan dalam konflik Israel-Palestina, dengan korban jiwa di Tepi Barat yang diduduki rezim Zionis mencapai skala yang belum pernah terjadi sebelumnya selama bertahun-tahun. Beberapa video yang telah diunggah di media sosial menunjukkan kelompok Hamas telah menyusup ke kota-kota di wilayah selatan Israel dengan menggunakan sepeda motor, SUV, dan paralayang dalam sebuah tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Salah satu video, yang diambil oleh seorang warga di Sderot, menunjukkan para milisi Hamas menembaki mobil sipil yang lewat di jalan. Warga tersebut merekam video tersebut dari teras rumahnya dan terlihat buru-buru berlindung saat seorang pria bersenjata melihat ke arahnya. “Benar-benar nyata! Rekaman teroris Hamas Palestina yang menyusup ke Israel dari Gaza, menembaki warga di Sderot dari sebuah SUV,” tulis pengacara hak asasi manusia (HAM) Arsen Ostrovsky dengan nama akun @Ostrov_A, di media sosial X saat membagikan rekaman video aksi milisi Hamas, seperti dikutip NDTV, Minggu (8/10/2023).

Beberapa video di media sosial, yang dilaporkan berasal dari warga Gaza, juga menunjukkan kelompok menyeret jenazah beberapa tentara Israel ke jalan-jalan untuk merayakannya. Kekerasan tersebut pecah sehari setelah Hamas yang menguasai Gaza, mengatakan: “Rakyat harus menarik garis untuk mengakhiri pendudukan” dan menambahkan bahwa Israel terus melakukan kejahatan di tanah Palestina, dan khususnya di situs suci Al-Aqsa.

Dalam pidato yang direkam sebelumnya, pemimpin sayap militer Hamas; Brigade Izz ad-Din al-Qassam, Mohammed Deif mengatakan pihaknya telah memutuskan untuk mengakhiri semua ini, dengan bantuan Tuhan, sehingga musuh memahami bahwa masa kecerobohan tanpa akuntabilitas telah berakhir. “Kami nyatakan Operasi Badai Al-Aqsa, dan serangan pertama telah melampaui 5.000 rudal dan peluru dalam 20 menit pertama,” katanya. sin, ana, ins