wartadigital.id
Ekbis Headline

Juli 2021, Ekspor Jatim Turun 17,75%

Perkembangan ekspor dan impor Jatim Juli 2021.

 

SURABAYA (wartadigital.id)  – Ekspor Jawa Timur sepanjang Juli 2021 mencapai 1,69 miliar dolar AS atau mengalami penurunan sebesar 17,75 persen dibandingkan Juni 2021. Namun nilai tersebut dibandingkan Juli 2020 justru meningkat sebesar 7,33 persen.

Koordinator Fungsi Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim Umar Sjaifudin mengatakan bahwa ekspor non migas Juli 2021 mencapai 1,63 miliar dolar AS atau menurun sebesar 13,55 persen dibandingkan Juni 2021. Namun nilai tersebut dibandingkan Juli 2020 naik sebesar 11,26 persen.

Sementara ekspor migas Juli 2021 mencapai 63,32 juta dolar AS atau turun sebesar 63,44 persen dibandingkan Juni 2021.  “Nilai tersebut turun sebesar 43,81 persen jika dibandingkan Juli 2020,” ujar Umar  dalam keterangan persnya secara virtual, Rabu (18/8/2021).

Untuk golongan barang utama ekspor non migas Juli 2021 adalah Lemak dan Minyak hewan/nabati (HS 15) dengan nilai sebesar 167,30 juta dolar AS disusul Kayu dan Barang dari kayu (HS 44) dengan nilai sebesar 144,89 juta dolar AS serta Perhiasan/permata (HS 71) dengan nilai sebesar 127,78 juta dolar AS.

Namun secara kumulatif, selama Januari – Juli 2021, ekspor yang keluar Jawa Timur sebesar 12,61 miliar dolar AS atau naik 12,40 persen dibandingkan Januari – Juli 2020.

Sedangkan negara tujuan ekspor non migas Jatim terbesar pada Januari – Juli 2021 adalah Amerika Serikat yang mencapai 1,85 miliar dolar AS (dengan peranan 16,05 persen) disusul ekspor ke Jepang sebesar 1,80 miliar dolar AS (dengan peranan 15,58 persen) dan ke Tiongkok sebesar 1,55 miliar dolar AS (dengan peranan 13,40 persen).

Ekspor non migas ke kawasan ASEAN mencapai 2,09 miliar dolar AS (dengan kontribusi sebesar 18,13 persen), sementara ekspor non migas ke Uni Eropa sebesar 1,00 miliar dolar AS (dengan kontribusi 8,67 persen).

Dijelaskan Umar, neraca perdagangan Jawa Timur selama Juli 2021 mengalami defisit sebesar 438,91 juta dolar AS. Defisit ini disebabkan karena adanya selisih nilai perdagangan yang negatif baik pada sektor migas maupun pada sektor non migas. “Selisih nilai perdagangan pada sektor migas adalah defisit sebesar 389,12 juta dolar AS, sedangkan selisih nilai perdagangan pada sektor non migas mengalami defisit sebesar 49,79 juta dolar AS, “ katanya. nti

Related posts

SIG Salurkan Bantuan Rp 1,36 Miliar di Dua Daerah Tapal Kuda

redaksiWD

BincangShopee 10.10 Brands Festival Kupas Rahasia Kebahagiaan Ibu dan Anak di Tengah Pandemi

redaksiWD

Dampingi KRI Rigel, Pencarian KRI Nanggala-402 Libatkan MV Swift Rescue Bantuan Singapura

redaksiWD