wartadigital.id
Headline Mataraman

Kasus Stunting di Jombang Masih Tinggi, Capai 13,1%

 

Wabup Sumrambah SP,MAP saat membuka Rembuk Stunting yang dilaksanakan di Ballroom Horison Yusro Hotel Jalan Soekarno – Hatta  Jombang, Selasa (21/9/2021).

 

JOMBANG (wartadigital.id) – Angka kasus stunting, yakni kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan, cukup tinggi di Kabupaten Jombang. Yakni sekitar 13,1 persen atau menimpa sekitar 9.700 anak.

“Angka (kasus stunting) kita cukup tinggi, 13,1 persen. Ini perlu mendapatkan perhatian serius karena menyangkut persoalan investasi ke depan, menyangkut sumber daya manusia,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang Budi Nugroho, Selasa (21/9/2021).

Pernyataan Budi Nugroho disampaikan saat Rembuk Stunting yang dilaksanakan di Ballroom Horison Yusro Hotel Jalan Soekarno – Hatta Jombang. Acara Rembuk Stunting dibuka oleh Wabup Sumrambah SP,MAP.

Karena itu Pemkab Jombang berupaya melakukan langkah-langkah agar stunting di Jombang menurun. Budi Nugroho mengatakan, untuk menurunkan kasus stunting di Jombang ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan. “Karena kita memang dengan konsep penthahelix, ini supaya semua terlibat, semua memahami kondisi permasalahan seperti apa, sehingga masing-masing yang bertanggungjawab terkait indikator penyebab stunting bisa berkontribusi maksimal untuk penurunan stunting,” katanya.

Dijelaskannya action plan yang harus dilakukan dengan melibatkan semua stakeholder. Dan kesiapan pranikah bukan persoalan sepele, itu sangat serius. “Karena menyiapkan generasi penerus harus dengan sungguh-sungguh,” ungkapnya.

Dijelaskan Budi, dampak pandemi Covid-19, pada Februari angka stunting mulai kelihatan. Karena otomatis kondisi pandemi menyebabkan perekonomian banyak rumah tangga terganggu. Makanya intervensi pemerintah dengan bantuan sosial juga dalam rangka melindungi.

“Selain itu akses kesehatan juga terganggu. Di posyandu pasti terganggu dengan pantauan berkalanya. Meski bisa dilakukan secara online, namun itu menjadi salah satu hambatan,” jelasnya.

Stunting yang paling tingi, papar Budi, dari 11 Desa Lokus Stunting, tertinggi Desa Murukan, Kecamatan Mojoagung yang mencapai 41 persen dari jumlah balita dan dari latar belakang yang beragam.

“Pemenuhan gizi adalah kebutuhan utama dan harus terpenuhi dulu. Makanya sejak awal, pemberian tablet tambah darah pada usia remaja untuk menurunkan anemia, untuk menyiaokan kehamilan, ini unsur gizi harus terpenuhi,” paparnya.

Jadi ada 30 persen intervensi di gizinya itu sangat penting. Makanya, catatan kekurangan energi kronis itu juga sebagai penyebab terjadinya stunting.

“Langkah riil dari rembuk ini, secara analisa jelas intervensi dari gizi dan pengasuh. Disamping persiapan sebelum nikah. Ini nanti akan memetakan apa yang menjadi 11 desa lokus tadi supaya berdampak lebih cepat penanganannya,” ujarnya.

“Jadi tidak bisa parsial. Makanya dengan rembuk ini masing-masing menyadari posisinya dengan berkontribusi secara maksimal untuk penanganan. Karena penyebab stunting tidak hanya satu, sehingga harus terpadu,” pungkasnya.

Sementara itu Wakil Bupati Jombang Sumrambah SP,MAP saat mengawali sambutannya mengibaratkan bahwa untuk melahirkan tanaman padi yang baik, bibit unggul, harus memiliki ilmu melalui proses yang benar dan baik. Pun demikian dengan dalam melahirkan sumber daya manusia. Agar lahir generasi unggul, anak tidak lahir dengan kondisi stunting, para calon pengantin harus diberikan bekal ilmu pengetahuan.

Oleh karenanya dia sangat menyambut positif jika ada sekolah pra nikah sebagai ilmu pengetahuan bagi calon pengantin. Menurutnya ini adalah untuk kepentingan masa depan generasi selanjutnya. “Mengajari anak untuk memberikan ilmu pengetahuan yang akan melahirkan kesadaran itu penting. Ini semua demi masa depan generasi kita. Bahwa ibu hamil harus mendapatkan nutrisi yang tepat. Bahkan ajaran agama kita juga memberikan ilmu tentang itu. Kekayaan jabatan tidaklah berarti, karena sesungguhnya yang berarti dalam hidup kita adalah anak kita sehat, tidak stunting, menjadi  anak yang baik, anak yang saleh dan anak yang berbakti,” urai Sumrambah.

Dia berharap melalui Rembuk Stunting ini semua pihak dapat bekerjasama untuk terus meningkatkan upaya menurunkan stunting di Kabupaten Jombang apalagi di era pandemi ini. Semua harus berpartisipasi secara aktif dalam upaya mendukung terwujudnya masyarakat dengan konsumsi gizi seimbang, percepatan perbaikan gizi, pemenuhan sanitasi dasar dengan menyusun rencana kegiatan dan penganggaran sesuai dengan lokus yang disepakati bersama dan diperluas secara bertahap.

Hadir dalam acara tersebut Perwakilan Unicef Surabaya, Rektor Unusa, Bappeda dan Dinkes Provinsi Jatim, Kepala OPD terkait lingkup Pemkab Jombang, Camat, kepala Puskesmas, dan perwakilan organisasi massa serta organisasi profesi. oni

Related posts

Kunjungan Virtual Dubes RI di Ankara, ITS Jajaki Perluasan Kerjasama

redaksiWD

Kebijakan Dibatalkan, Pemprov Jatim Wacanakan Santunan Pengganti Korban Meninggal akibat Covid-19

redaksiWD

Dukung Sikap Israel, Turki Kecam Austria

redaksiWD