
Kilang minyak di Rusia.
JAKARTA (wartadigital.id) – Harga gas di Eropa pada Senin (7/3/2022) melesat mencapai lebih dari 3.900 dolar AS (sekitar Rp 55,77 juta, kurs Rp 14.300/dolar AS ) per 1.000 meter kubik, untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Kontrak berjangka April di pusat TTF di Belanda tercatat melonjak menjadi 3.899 dolar AS per 1.000 meter kubik, atau hampir 374 dolar AS per megawatt-jam dalam istilah rumah tangga pada pukul 10.00 GMT, menurut data dari bursa ICE London.
Harga gas terus merangsek naik seiring kekhawatiran pelaku pasar akan dampak dari perang Rusia-Ukraina.
Sebagai perbandingan, harga gas dari jaringan gas (jargas) rumah tangga untuk pelanggan rumah tangga-2 di Indonesia hanya sekitar Rp 6.000 per meter kubik.
Sementara itu, raksasa energi dan pengekspor gas utama Rusia, Gazprom, menyatakan bahwa pihaknya masih tetap memasok gas untuk transit ke Eropa melalui wilayah Ukraina. “Gazprom memasok gas Rusia untuk transit melalui wilayah Ukraina dalam mode reguler, sesuai dengan aplikasi konsumen Eropa (sebesar) 109,6 juta meter kubik untuk 7 Maret,” ungkap perwakilan resmi Gazprom Sergey Kupriyanov seperti dilansir Russia Today, Senin (7/3/2022).
Kendati demikian, memang ada kekhawatiran bahwa krisis di Ukraina dapat menyebabkan penghentian pengiriman gas Rusia, baik karena kemungkinan kerusakan pipa atau akibat sanksi yang dikenakan Barat kepada Moskow.
Sementara itu, harga minyak dunia juga terus beranjak naik akibat kekhawatiran yang sama. Berdasarkan data hingga pukul 12.40 WIB, minyak Brent kontrak Mei 2022 naik 9,83% di 129,72 dolar AS per barel, dan sempat menyentuh level 139,13 dolar AS per barel.
Angka itu mendekati level 140 dolar AS per barel, yang merupakan level tertinggi Brent sejak 2008. Kenaikan harga itu terjadi menyusul langkah negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat (AS) yang mempertimbangkan untuk melakukan embargo minyak dari Rusia. Sementara itu, penundaan pasokan minyak dari Iran ke pasar global juga semakin mendongkrak harga minyak di pasaran. sin, ins