
SURABAYA (wartadigital.id) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta rumah sakit di daerah itu adaptif terhadap perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan teknologi kesehatan guna memperkuat kualitas layanan kesehatan yang cepat, aman, dan berkualitas.
“Teknologi kedokteran yang ada di Jawa Timur harus sangat adaptif terhadap berbagai teknologi kedokteran di dunia, termasuk di dalamnya AI,” kata dia dalam keterangan diterima di Surabaya, Rabu (20/5/2026).
Ia menyebut dari berbagai booth yang dia lihat, semuanya sudah dengan AI. Hal tersebut berarti teknologi kedokteran harus adaptif dengan perkembangan berbagai teknologi, termasuk AI.
Menurut dia, rumah sakit tidak lagi hanya dituntut memberikan layanan kuratif, tetapi juga harus memperkuat layanan promotif, preventif, dan rehabilitatif secara terintegrasi.
Selain itu, rumah sakit dinilai harus semakin adaptif terhadap perubahan regulasi, transformasi digital, sistem pembiayaan kesehatan, peningkatan mutu layanan, keselamatan pasien, serta harapan masyarakat terhadap pelayanan yang cepat dan berkualitas. “Saya rasa melalui raker dan pameran seperti ini akan memberikan penguatan pengayaan kepada para dokter maupun tim manajemen di rumah sakit terhadap update berbagai teknologi kedokteran temuan terbaru,” ucapnya.
Khofifah menilai kegiatan tersebut dapat menjadi referensi bagi rumah sakit di berbagai daerah di Indonesia untuk melihat perkembangan terbaru teknologi kedokteran. “Mereka bisa datang ke sini dan kemudian bisa melihat bagaimana update teknologi kedokteran yang dipamerkan,” katanya.
Ia menyebut Jawa Timur memiliki posisi strategis dalam penguatan sistem pelayanan kesehatan nasional karena saat ini memiliki 448 rumah sakit, menjadikannya salah satu provinsi dengan kapasitas layanan kesehatan terbesar di Indonesia. “Peningkatan jumlah rumah sakit seyogyanya juga sejalan dengan berbagai perkembangan teknologi kedokteran yang ada. Karena bagaimanapun keselamatan pasien tetap menjadi prioritas,” ujarnya.
Terkait produk alat kesehatan yang dipamerkan, ia juga menyoroti pentingnya peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) pada setiap produk. “TKDN memang harus dikhtiarkan supaya makin hari makin tinggi. Walau memang ada yang masih 100 persen harus diimpor,” ujarnya.
Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Jawa Timur dr Bangun T. Purwaka mengatakan pameran tersebut menjadi sarana menunjukkan perkembangan teknologi kedokteran di Indonesia, khususnya Jawa Timur. “Jadi semakin lama semakin baik berkualitas dan tidak melupakan keamanan keselamatan,” katanya. pri





