wartadigital.id
Headline Opini

Memberdayakan Perempuan Melalui Sinergitas

Oleh : Dr Andriyanto SH MKes

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa Timur

Para perempuan, khususnya sejumlah janda yang selama ini masih dipandang menjadi beban secara ekonomi  akan diberdayakan. Bekerjasama dengan sejumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jatim serta sejumlah instansi terkait, mereka akan diberdayakan menjadi wanita-wanita produktif.

Memberdayakan para janda yang dimaksud, yakni meningkatkan kemampuan, pengetahuan dan keterampilannya dengan metode literasi, sehingga secara ekonomi mereka diharapkan menjadi manusia-manusia produktif yang pada akhirnya bermanfaat bagi keluar hingga lingkungan.

Ada kasus-kasus tertentu yang membuat perempuan para janda itu tidak produktif. Dengan metode literasi yang melibatkan SMK, mereka diajak memelajari sesuatu yang sesuai dengan yang dibutuhkan.

Selama ini SMK sendiri pada kenyataan tidak menguasai materi semisal bagaimana mencegah stunting, harus mempunyai mitra yang mengetahui secara jelas hal tersebut, dan ini para ahlinya berada di kota/kabupaten. Literasinya pakai IT dan itu dikerjakan SMK. Pihak SMK yang akan membantu bagaimana membuat web, membuat vlog. Jadi peningkatan literasi ini nantinya yang masok dan menjalankan SMK, sedang pembuatan aplikasinya akan dibantu ITS atau PENS dan yang berdaya keluarga.

Para janda nantinya diharapkan akan menjadi manusia-manusia mandiri. Misalnya, mereka bisa memproduksi produk makanan dan minuman. Selanjutnya, produk ini akan dipasarkan secara langsung maupun tidak langsung. Yakni bisa melalui koperasi atau menggunakan pemasaran berbasis teknologi (aplikasi).

Bukan hanya para janda, lanjutnya, para duda pun atau mereka yang single parent pun ingin diberdayakan. Mengapa para duda juga jadi sasaran? Karena mungkin di situ ada anak-anak yang butuh perhatian.

Lantaran ditinggal istrinya, mereka tidak mengerti bagaimana memberikan makan yang baik sesuai kebutuhan anak. Kesulitan yang dihadapi, misalnya dalam pola asuh, bisa jadi bukan hanya dialami kaum laki-laki, tapi juga di kalangan perempuan. Di situlah perlunya dilakukan intervensi. Intervensi yang sifatnya sensitif, yaitu intervensi yang menyentuh, yang peka terhadap kebutuhannya. Juga bisa para duda itu bertindak ekonomi seperti para janda-janda.

Dari 35% kasus stunting, gizi buruk, angka kematian ibu, angka kematian bayi tinggi itu karena kemiskinan, lebih banyak atau 55% karena faktor pola asuh, karena ketidaktahuan dan kurangnya informasi.

Sehingga kalau SMK itu punya banyak profil pembelajaran, maka para janda itu bisa dikumpulkan untuk dilatih misalnya membuat kue, dilatih menangani anak stunting, sedang pada ibu hamil dilatih cara menyusui.

Penyetaraan Gender

Penyetaraan gender bukan berarti pemisahan hak dan kewajiban, ini pria, ini perempuan. Melainkan menyatukan bagaimana peran keduanya supaya tidak ada dominasi. Sehingga kalau ada keluarga yang ditinggal ibunya bekerja di luar negeri dalam jangka lama, si ayah bisa menggantikan perannya dengan baik.

Saat ini masih banyak bapak-bapak yang tidak mengerti bagaimana memberi makanan yang baik supaya anaknya jadi cerdas. Mereka biasanya hanya memberikan uang sekolah untuk jajan, tanpa memerhatikan apa saja yang dikonsumsi anaknya.

Keinginan memberdayakan itulah impian yang ingin diwujudkan bersama jajarannya di DP3AK. Dibutuhkan pula sinergi dari unsur swasta, media, dan masyarakat, supaya tidak timpang. Ini yang disebut konvergen, semuanya akan menuju ke tujuan yang sama.

Diketahui dari total penduduk Jatim 40.821.150, jumlah laki-laki dan perempuan-nya berimbang dengan rincian laki-laki 20.407.728 dan perempuan 20.413.422. Yang menarik, dari 38 kota/kabupaten sebanyak 16 kota/kabupaten di antaranya memiliki jumlah penduduk laki-laki yang lebih banyak.

Adanya tren lebih banyaknya jumlah laki-laki itu disebabkan perubahan situasi. Kalau dulu angka morbiditas (kesakitan) paling tinggi pada perempuan dan angka mortalitas (kematian) paling tinggi laki-laki. Dan sekarang penyakit lebih banyak terjadi pada perempuan, 90% kanker menimpa perempuan, penyakit autoimun dari 10 penderita, 9 di antaranya terjadi pada perempuan, juga karena pola makannya yang kurang lantaran lebih mengutamakan keluarga. Sehingga bisa dikatakan sekarang angka morbiditas pada perempuan tinggi dan angka mortalitasnya pun tinggi. *

 

Related posts

Angkutan Logistik Kereta Api di TPS Secara Regular Mulai Beroperasi Kembali

redaksiWD

Jelang Musim Penghujan, Gus Muhdlor Cek Kesiapan Lima Rumah Pompa Air

redaksiWD

Aplikasi PeduliLindungi Jadi Syarat Semua Perjalanan Mulai Hari Ini

redaksiWD