
JAKARTA (wartadigital.id) – Pakar Kesehatan sekaligus Dokter Relawan Covid-19 dr Muhamad Fajri Adda’i mengingatkan akan potensi Omicron yang bisa berubah menjadi serius di masa depan.
Ia meminta masyarakat Indonesia mengambil contoh dari kasus yang terjadi di Amerika Serikat (AS) saat ini. “Iya secara umum Omicron gejalanya ringan, tapi kan tidak semuanya 100 persen ringan. Buktinya kan ada juga yang berat. Di Amerika contohnya sudah ada 100 ribu lebih orang yang terinfeksi,” kata dr Fajri, Jumat (7/1/2022).
Lebih lanjut, dr Fajri mengatakan bahwa di AS kasus positif per hari bisa lebih dari satu juta. Dan terbukti bahwa Omicron ternyata lebih serius daripada varian Delta. Fakta lain yang perlu diketahui adalah, jumlah pasien yang di rawat inap mencapai 100 ribu lebih. “Padahal jumlah virus yang menyerang Amerika, 95 persen lebih adalah varian Omicron. Itu berdasarkan data seminggu terakhir dari CDC. Artinya Omicron bisa saja jadi lebih berat,” lanjutnya.
Ia menambahkan bahwa dari 100 ribu kasus Covid-19 yang dirawat inap mungkin tidak semuanya disebabkan karena varian Omicron. Tapi dari jumlah itu dipastikan ada kasus Omicron. “Karena lebih dari 90 persen. Jadi intinya Omicron secara lebih umum mungkin bisa lebih ringan, tapi tetap aja semakin banyak kasus meningkat bisa mengalami perburukan juga,” tuntasnya.
Kasus Global Catatkan Rekor
Sementara itu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan kasus Covid-19 diseluruh dunia mencatat rekor dengan 9,5 juta kasus pada pekan lalu. Ini menandai lonjakan mingguan 71% yang sama dengan “tsunami” Covid-19 ketika varian Omicron baru menyapu seluruh dunia.
Meski begitu, menurut WHO, jumlah kematian akibat Covid-19 tercatat menurun. “Pekan lalu, jumlah kasus Covid-19 tertinggi dilaporkan sejauh ini dalam pandemi,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus seperti dilansir dari ABC News, Jumat (7/1/2022).
Dia mengatakan WHO yakin itu adalah perkiraan yang terlalu rendah karena adanya penumpukan dalam pengujian sekitar liburan akhir tahun.
Badan kesehatan Amerika Serikat (AS), dalam laporan mingguannya tentang pandemi, mengatakan jumlah mingguan berjumlah 9.520.488 kasus baru dengan 41.178 kematian tercatat minggu lalu dibandingkan dengan 44.680 pada minggu sebelumnya.
Pejabat WHO telah lama menyebutkan adanya ketertinggalan antara jumlah kasus dan kematian, dengan perubahan jumlah kematian sering tertinggal sekitar dua minggu di belakang evolusi jumlah kasus. Tetapi mereka juga mencatat bahwa karena beberapa alasan – termasuk meningkatnya tingkat vaksinasi di beberapa tempat, dan tanda-tanda bahwa Omicron lebih mempengaruhi hidung dan tenggorokan daripada paru-paru, varian itu tidak tampak mematikan seperti varian Delta yang mendahuluinya. sin, cik, ins