
SIDOARJO (wartadigital.id) – Ratusan karya beraliran ilustrasi doodle karya Dwi Marluddiyanto atau yang lebih dikenal dengan nama Dwi Duest memenuhi ruang pameran di sekretariat Dewan Kesenian Sidoarjo. Hampir semua karya Dwi Duest menunjukkan sosok orang dengan beragam aktivitas dan ekspresi dengan ciri khas adanya sentuhan pena dalam setiap karya.
Dwi Marluddiyanto mengatakan semua karyanya dia tujukan untuk mengapresiasi keluarga dan teman-temannya yang selama ini telah mewarnai perjalanan hidupnya.
“Pameran tunggal ini sebagai wujud ekspresi diri dan hasil karya saya ini sekaligus saya jadikan ajang bereksperimen terhadap budaya dan output budaya itu sendiri, ” jelas Dwi Duest di sela-sela kegiatan pembukaan Pameran Tunggal di Sekretariat Dewan Kesenian Sidoarjo, Sabtu (10/8/2024) sore.
Sarjana Desain Komunikasi Visual ITS Surabaya ini menambahkan dia mulai membuat karya sejak 2022 atau setelah pandemi. Di mana, karya pertamanya lebih banyak bernuansa hitam putih lalu dirinya mencoba untuk mengeksplor dengan memberikan sentuhan-sentuhan mix media pada tahap finishing pada beberapa karyanya.
“Semua karya saya tetap menggunakan bolpoint dan ada beberapa karya yang finishingnya menggunakan mix media namun sentuhan bolpoint tetap ada, ” ungkap pria yang sudah tertarik pada dunia lukis sejak duduk di bangku SMP ini.
Saat ditanya tentang target dari pameran tunggal perdananya ini, Dwi Duest mengungkapkan target pameran ini adalah respon masyarakat. “Target saya bagaimana masyarakat itu rileksing diri karena sejatinya setiap orang itu adalah seniman, ” tegasnya.
Di tempat yang sama, Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo Ribut Wijoto mengatakan Mas Dwi ini merupakan pendatang baru di dunia seni rupa namun dia sangat potensial karena Dwi ini lulusan desain komunikasi visual ITS.
“Jadi secara teknik Mas Dwi Duest ini sangat menguasai. Namun Mas Dwi Duest menyeberang dari seni komunikasi visual ke find art atau seni rupa murni. Teknik-teknik yang dia pelajari di DKV ITS bisa memberikan warna lain dari karya dari Mas Dwi dan satu hal lagi Mas Dwi Duest ini tidak membatasi media, “papar Ribut di sela-sela kegiatan melihat karya-karya sang pendatang baru.
Ribut menambahkan Dwi Duest tidak membatasi media yang digunakan, di mana dia ketemu kertas bekas dijadikan media, ketemu dengan papan bekas dijadikan media, ketemu dengan sterofom dijadikan media.
“Sehingga Mas Dwi Duest ini benar-benar mendapatkan kebebasan yang selama di kampus tidak didapatkannya. Karya Mas Dwi Duest ini mempunyai warna sendiri punya ciri khas sendiri , punya ciri khas sendiri. Dengan lingkungan dan orang-orang sekitarnya yang menjadi inspirasi dalam setiap karyanya, ” tandasnya. sis