wartadigital.id
Headline Manca

PBB Sebut 38 Orang Tewas dalam Hari Paling Berdarah di Myanmar

AFP
Polisi Myanmar mengejar massa pendemo penentang kudeta militer.

YANGON (wartadigital.id) – Gejolak di Myanmar tak kunjung mereda, malah semakin kacau. Negara itu telah berada di jurang kehancuran ketika aksi protes tidak kunjung usai dan semakin menimbulkan korban.

Utusan Khusus PBB untuk Myanmar, Christine Schraner Burgener mengatakan sedikitnya 38 orang telah tewas dalam kekacauan negeri dan menjadi ‘Hari Paling Berdarah’ semenjak kudeta militer 1 Februari 2021 lalu. “Hari ini, itu adalah hari paling berdarah sejak kudeta terjadi pada 1 Februari,” kata Burgener di New York seperti dikutip dari BBC, Rabu (3/3/2021).

Ia memperkirakan lebih dari 50 orang total yang tewas dan banyak orang yang terluka. Sebuah kelompok hak asasi manusia mengatakan militer telah menewaskan sedikitnya 18 orang pada Rabu, tetapi pada akhirnya jumlah itu meningkat tajam hingga puluhan. Di antara korban, terdapat anak-anak. Empat anak dilaporkan termasuk di antara korban tewas terakhir, termasuk seorang anak laki-laki berusia 14 tahun yang ditembak mati oleh seorang tentara dalam konvoi truk militer yang lewat di Myingyan, seperti dilaporkan Radio Free Asia.

Pasukan keamanan menembakkan gas air mata, peluru karet dan peluru tajam di beberapa kota dan kota untuk membubarkan aksi protes.

Di kota utama Yangon, mereka mengklaim sedikitnya delapan orang tewas, satu pada pagi hari dan tujuh lainnya pada sore hari. Sementara, enam orang tewas di pusat kota Monywa dan dua orang tewas dalam bentrokan di Mandalay, kata seorang saksi mata dan laporan media.

Myanmar berada dalam kekacauan sejak 1 Februari ketika militer menggulingkan dan menahan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi. Tekanan datang dari dunia internasional. Negara-negara Barat telah berulang kali mengecam para jenderal dengan sanksi. Inggris telah menyerukan pertemuan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) pada Jumat, dan setelah kematian banyak warga pada Rabu, Amerika Serikat mengatakan sedang mempertimbangkan tindakan lebih lanjut. Namun, hingga saat ini junta militer mengabaikan semua kecaman dunia internasional bahkan menanggapi pemberontakan dengan kekuatan yang justru meningkat.

Lebih lanjut Schraner meminta PBB untuk mengambil ‘tindakan yang sangat keras’ terhadap para jenderal. Dia menambahkan bahwa dalam percakapannya dengan mereka, para jenderal telah menepis ancaman sanksi.Para jenderal telah berjanji untuk mengadakan pemilihan dalam “satu tahun”. “Saya akan terus maju, kami tidak akan menyerah,” kata Schraner.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Ned Price mengatakan kekerasan membuat Amerika Serikat “terkejut dan jijik”. “Kami meminta semua negara untuk berbicara dengan satu suara untuk mengutuk kekerasan brutal oleh militer Burma terhadap rakyatnya sendiri,” ungkapnya

Sementara itu Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) mengatakan dalam sebuah pernyataan kesiapan ASEAN untuk membantu Myanmar dengan cara yang positif, damai dan konstruktif.  riz, bbc, rmo

Related posts

Bantu Distribusikan Gas Bumi, Mahasiswa ITS Rancang Tongkang Bertangki Coselle

redaksiWD

Semen Tonasa Jalin Kerjasama Optimalisasi Suplai Tenaga Listrik PLN

redaksiWD

Kisruh Demokrat Bikin AHY Melesat ke Empat Besar Bursa Capres 2024

redaksiWD