
APBN hingga akhir Februari 2025 tercatat defisit Rp 31,2 triliun atau 0,13% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
JAKARTA (wartadigital.id) – Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Februari 2025 tercatat defisit Rp 31,2 triliun atau 0,13% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit per Februari ini adalah yang pertama dalam empat tahun terakhir.
Pendapatan negara hingga akhir Februari 2025 mencapai Rp 316,9 triliun. Komponen terbesar adalah pajak yang mencapai Rp 187,8 triliun dan bea cukai Rp 52,6 triliun.
Sementara itu, belanja negara dalam dua bulan pertama adalah Rp 348,1 triliun atau 9,6% dari target APBN. Pemerintah pusat menghabiskan Rp 211,5 triliun dan transfer daerah Rp 136,6 triliun.
Defisit APBN per Februari tahun ini berbanding terbalik dengan tiga tahun sebelumnya di mana pada periode tersebut masih mencatat surplus. Defisit ini menunjukkan besarnya ketergantungan Indonesia terhadap harga komoditas.
Sebagai catatan, Indonesia mendapatkan berkah lonjakan harga komofditas sejak 2022 atau setelah meletusnya perang Rusia-Ukraina. Perang membuat harga batu bara, nikel hingga minyak kelapa sawit mentah (CPO) terbang. Harga komoditas mulai menuju normalisasi pada 2023. cnb