PPKM Luar Jawa Bali Diperpanjang hingga 31 Januari 2022

Dok
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto

 

JAKARTA (wartadigital.id)  – Pemerintah memperpanjang masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat ( PPKM ) untuk luar Pulau Jawa-Bali hingga 31 Januari 2022. “Perpanjangan dilakukan untuk 14 hari ke depan yaitu 18-31 Januari,” kata Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Minggu (16/1/2022).

Bacaan Lainnya

Airlangga mengungkapkan bahwa jumlah daerah dengan kategori level 1 terjadi peningkatan. Sementara di beberapa level terjadi penurunan. “Komposisi jumlah kabupaten kota PPKM level 1 menjadi 238 kabupaten/kota meningkat dari yang lalu 227. Kabupaten kota level 2 turun menjadi 138 kabupaten/kota dari 148 kemarin karena mereka sudah bergeser ke level 1. PPKM level 3 tinggal 10 kabupaten/kota dan di level 4 (tetap) 0 kabupaten/kota,” katanya.

Airlangga mengatakan bahwa pemerintah tengah mempersiapkan vaksin Merah Putih dan vaksin lainnya yang diproduksi di dalam negeri untuk pertengahan tahun. “Bahwa terkait dengan vaksin itu dipersiapkan baik itu vaksin Merah Putih maupun vaksin yang berproduksi di dalam negeri, di mana ini untuk dipersiapkan pertengahan tahun ini atau yang diperkirakan di semester 2,” kata Airlangga.

Selain itu, kata Airlangga, pemerintah mengingatkan agar masyarakat dan semua pihak untuk terus menjaga protokol kesehatan karena virus Covid-19 varian Omicron telah memasuki Indonesia. “Masyarakat perlu bersiap-siap dan perlu terus menjaga protokol karena puncak dari kasus ini diperkirakan masih akan terus berbasis berbagai negara dalam 40 hari ke depan,” katanya.

Sebelumnya Ketua Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih meminta pemerintah mulai ambil ancang-ancang untuk meningkatkan level dari PPKM. Sebab, kasus Covid-19 varian Omicron menyebar dengan cepat melalui maraknya mobilitas warga. “Peningkatan level PPKM itu harus mulai direncanakan pemerintah guna membatasi mobilitas. Kalau tidak, meskipun ini ringan tetap saja kecepatan penularan itu tinggi,” jelas Daeng dalam diskusi, Sabtu (15/1/2022).

Dia mengungkapkan, penularan varian Omicron tak terpaku pada periode usia tertentu. Namun, lebih bagaimana massalnya mobilitas masyarakat. “Sebenarnya kalau usia-usia begitu dari segi daya tahan tubuh tidak lebih jelek dari lansia komorbid. Mobilitas itu faktor yang mendorong penularan akan lebih cepat lagi,” ungkapnya.

Daeng mengatakan, penyebaran Omicron yang ada di Indonesia sebesar 75% disebabkan pelaku perjalanan ke luar negeri. Oleh karenanya, pintu kedatangan haruslah lebih diperketat. “Ini mengisyaratkan bahwa seharusnya dan sebaiknya kita perketat itu yang dari luar. Kalau nggak nanti volumenya tambah lagi, meskipun sekarang sudah terjadi transmisi lokal. Tapi kalau volumenya dari luar terus banyak itukan lebih masif,” katanya. set, sin