wartadigital.id
Headline Manca

Ratusan Tentara AS Bunuh Diri, Ketidakpastian Kehidupan Militer Jadi  Pemicu

Kasus bunuh diri tentara Amerika Serikat saat ini berada dalam kondisi mengkhawatirkan.

WASHINGTON (wartadigital.id)  – Melonjaknya  kasus bunuh diri tentara Amerika Serikat berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Kepala Pentagon atau Menteri Pertahanan Lloyd Austin menyatakan keprihatinannya tentang lonjakan angka kasus bunuh diri.

Untuk diketahui pada 2020, sebanyak 385 tentara aktif meninggal karena bunuh diri, menandai peningkatan tajam dari 326 kasus serupa yang dilaporkan oleh Pentagon pada 2018.

“Saya sangat prihatin dengan tingkat bunuh diri, tidak hanya di sini tetapi di seluruh angkatan,” kata Austin akhir pekan lalu dalam kunjungan ke Pangkalan Udara Eielson di Alaska yang dilansir The Guardian, Selasa (27/7/2021).

Sejak 30 Desember lalu hingga saat ini, setidaknya enam tentara tewas karena diduga bunuh diri di Alaska. “Satu kerugian karena bunuh diri terlalu banyak. Sementara kami bekerja keras untuk masalah ini, masih banyak yang harus kami lakukan,” imbuh Austin.

Menurut Departemen Pertahanan, faktor stres bagi pasukan termasuk ketidakpastian kehidupan di militer menjadi pemicu bunuh diri. Berbicara dengan syarat anonim kepada USA Today, seorang pejabat mengutip tuntutan komandan yang semakin agresif untuk lebih banyak pasukan, sebagian besar karena munculnya pengaruh Tiongkok.

Pasukan yang ditempatkan di Alaska menghadapi kondisi cuaca yang buruk, isolasi geografis dan sosial, serta pelatihan dan penempatan yang sering. Tentara, bersama dengan penduduk sipil negara bagian lainnya, juga menghadapi biaya hidup yang tinggi, penyalahgunaan alcohol dan gangguan tidur.-

Dalam kunjungan awal tahun ini ke pangkalan militer Fort Wainwright Alaska, pejabat militer berjanji untuk membuat perubahan signifikan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup tentara. Para pemimpin termasuk Sekretaris Angkatan Darat Ryan McCarthy dan Sersan Mayor Michael Grinston berjanji untuk meningkatkan barak, fasilitas makan dan gym, serta melakukan “investasi jangka panjang”.

Menurut komandan Angkatan Darat AS untuk Alaska, Mayor Jenderal Peter Andrysiak, tentara telah mulai menerapkan perubahan. Ini termasuk sistem transportasi baru untuk mengangkut tentara lebih mudah selama bulan-bulan musim dingin, memperpanjang jam gym menjadi 24 jam sehari, meningkatkan fasilitas makan dengan internet nirkabel dan meningkatkan dana tunjangan makanan sehari-hari sebesar 10% untuk memberikan pilihan kualitas yang lebih baik bagi tentara.

Pada Januari lalu, komandan militer AS juga memerintahkan pembatasan jam penjualan alkohol di Pangkalan Udara Alaska. “Beberapa studi ilmiah yang ditinjau oleh National Institutes of Health telah menyimpulkan bahwa membatasi jam ketika alkohol dapat dijual adalah strategi yang efektif untuk mengurangi konsumsi alkohol yang berlebihan dan bahaya terkait,” kata Pangkalan Gabungan Elmendorf-Richardson dalam sebuah posting Facebook.

Selain perbaikan fisik, pejabat militer telah menekankan perlunya meningkatkan aksesibilitas kesehatan mental di pangkalan. Pada Februari, tim komando dari pangkalan udara Hawaii mengunjungi Fort Wainwright untuk mengadakan sesi penginderaan bagi pasukan. Sesi, di mana pasukan membahas kesehatan mental, kehilangan dan kesedihan, terjadi setelah dua insiden bunuh diri di Fort Wainwright.

Dalam kunjungannya baru-baru ini ke Pangkalan Udara Eielson Austin meminta tentara untuk mengurangi stigma yang terkait dengan mencari bantuan untuk masalah kesehatan mental.  “Kesehatan mental adalah kesehatan, titik. Jadi jika Anda terluka, ada sumber daya yang tersedia. Dan saya tahu bahwa para pemimpin kami di sini berkomitmen untuk membuat sumber daya itu lebih mudah diakses dan tersedia,” katanya. gdn, sin

Related posts

AJI Desak Penghapusan Pasal yang Mengancam Kebebasan Pers di RUU KUHP dan RUU ITE

redaksiWD

Peringati Hari Jadi ke-728, Pemkot Surabaya Gelar Lomba Promosi Produk UMKM

redaksiWD

15 Produk Inovasi Kolaborasi Unair untuk Tangani Covid-19

redaksiWD