
LUMAJANG (wartadigital.id) – Di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi dunia digital, tradisi ruwatan masih menunjukkan denyut kehidupan yang kuat. Hal ini tampak dalam Ruwatan Massal 2025 yang digelar di Alun-alun Lumajang, Sabtu (6/9/2025), diikuti 65 peserta dari 48 keluarga, bahkan sebagian datang dari Malang, Jember, hingga Nganjuk.
Yang menarik, bagi mereka yang tak bisa hadir, tradisi tetap berjalan dengan cara unik: mengirimkan potongan rambut dan pakaian layak pakai sebagai simbol keterlibatan. Inovasi ini memerlihatkan bagaimana tradisi tua bisa beradaptasi dengan zaman, tanpa kehilangan makna spiritualnya.
Ketua Sabdaaji Kabupaten Lumajang, Sarwo Darmono, menegaskan, ruwatan bukan sekadar ritual, melainkan bagian dari filosofi hidup masyarakat Jawa.
“Tantangan eksistensi ruwatan tidak hanya globalisasi dan teknologi media massa, tapi juga perubahan gaya hidup yang membuat masyarakat lebih sibuk mengejar aktivitas sehari-hari. Namun kenyataannya, antusiasme masyarakat justru terus meningkat,” ujarnya.
Ruwatan yang dipercaya sebagai upaya membersihkan diri dari sukerta atau hal-hal buruk dalam hidup, kini dimaknai lebih luas sebagai bentuk refleksi diri, doa keselamatan, sekaligus sarana mempererat tali sosial.
“Kami hanya fasilitator. Dukungan penuh datang dari masyarakat. Fakta bahwa jumlah peserta terus bertambah adalah bukti bahwa ruwatan masih relevan,” tambah Sarwo.
Acara tahun ini diperkaya dengan pergelaran wayang kulit yang menyajikan lakon Murwokolo pada siang hari dan Wahyu Katentreman pada malam harinya. Kehadiran karawitan Guyub Rukun PWRI dan Karawitan Sekar Arum membuat suasana semakin kental dengan nuansa tradisi Jawa yang penuh makna.
Tradisi ruwatan tidak hanya menyoal masa lalu, tetapi juga menyimpan potensi masa depan. Dalam era digital, ruwatan dapat dipromosikan sebagai warisan budaya tak benda yang memperkuat identitas lokal sekaligus memperkaya khazanah budaya nasional.
“Pelestarian ruwatan bisa dilakukan melalui internalisasi nilai-nilai spiritual, pemanfaatan teknologi, serta pengembangan komunitas dengan dukungan semua pemangku kepentingan,” tutur Sarwo menutup acara.
Lebih dari itu, ruwatan kini menjadi ruang bertemu lintas generasi. Anak muda bisa belajar filosofi leluhur, sementara orang tua merasakan kesinambungan nilai hidup. Bagi masyarakat, ruwatan bukan sekadar warisan, melainkan jembatan harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Dari Lumajang, ruwatan memberi pesan kuat: di tengah dunia yang serba cepat dan digital, masyarakat tetap membutuhkan ruang spiritual untuk meraih keselamatan dan keseimbangan hidup. uja