Tentara Israel Sesumbar Akan Melanjutkan Serangan setelah Gencatan Senjata Berakhir, Hamas Siapkan Kejutan

Al Jazeera
Pejuang Hamas membebaskan sandera warga negara asing gelombang pertama berdasar kesepakatan gencatan senjata selama empat hari dengan militer Israel.

 

GAZA (wartadigital.id) – Panglima militer Israel memastikan bahwa pasukan Israel akan melanjutkan serangan di Jalur Gaza segera setelah jeda kemanusiaan sementara dengan Hamas berakhir. Di pihak lain, Hamas pun berjanji akan menyiapkan kejutan untuk membalas serangan Israel.

Bacaan Lainnya

“Kami akan segera kembali bermanuver di Gaza, membasmi Hamas dan memberikan tekanan signifikan untuk membebaskan sebagian besar sandera yang ditahan di Gaza,” kata Kepala Staf Umum Herzi Halevi kepada Israel Broadcasting Corporation dikutip, Senin (27/11/2023).

“Kami telah menyelesaikan prosedur pengembalian gelombang pertama sandera perempuan dan anak-anak yang ditahan oleh Hamas pada Jumat. Hari ini (Sabtu), dan beberapa jam kemudian, saya berharap gelombang kedua sudah tiba,” imbuhnya.

Israel dan Hamas menukar 24 warga Israel dan warga asing dengan 39 warga Palestina dari penjara Israel pada Jumat, hari pertama dari jeda kemanusiaan selama empat hari.  Berdasarkan kesepakatan antara pihak-pihak yang bertikai, para sandera dan tahanan akan dibebaskan secara bertahap selama empat hari.

Israel melancarkan kampanye militer besar-besaran di Jalur Gaza menyusul serangan lintas batas yang dilakukan Hamas pada 7 Oktober. Sejak itu, konflik ini telah menewaskan sedikitnya 14.854 warga Palestina, termasuk 6.150 anak-anak dan lebih dari 4.000 wanita, menurut otoritas kesehatan di wilayah tersebut.

Sementara itu, Ismail Haniyeh, pemimpin kelompok pejuang Palestina Hamas, mengatakan kelompok tersebut berkomitmen terhadap perjanjian gencatan senjata dan pertukaran sandera selama Israel juga berkomitmen. “Para korban perang di Gaza adalah harga kebebasan, pembebasan dan kemerdekaan,” kata Haniyeh, dilansir Al Arabiya.

Pertempuran antara pasukan Israel dan Hamas terhenti pada Jumat untuk pertama kalinya dalam tujuh minggu dalam gencatan senjata sementara menjelang rencana pembebasan sandera Israel yang ditahan oleh pejuang Palestina dengan imbalan warga Palestina yang dipenjara.

Tidak ada pemboman besar-besaran, serangan artileri atau serangan roket yang dilaporkan, meskipun Hamas dan Israel sama-sama saling menuduh melakukan penembakan sporadis dan pelanggaran lainnya. Keduanya mengatakan perang akan dilanjutkan dengan kecepatan penuh segera setelah gencatan senjata selesai.

Perbedaan Gencatan Senjata

Ada pemandangan berbeda dari kubu Israel dan Palestina ketika gencatan senjata berlangsung. Salah satunya justru berbuat licik seakan melanggar ketentuannya. Sebelumnya, gencatan senjata telah disetujui masing-masing pihak. Meski belum bisa menghentikan konflik sepenuhnya, namun jeda tersebut setidaknya dapat meredakan situasi yang sebelumnya bergejolak.

Berkaitan dengan kesepakatan gencatan senjata, kubu Israel dan Hamas yang mewakili Palestina sendiri menanggapinya dengan berbeda. Berikut perbandingannya yang bisa disimak. Perbandingan Israel dan Palestina ketika Gencatan Senjata 1.

Palestina

Pada Jumat, (24/11/2023), Hamas membebaskan setidaknya 24 sandera. Kumpulan tawanan tersebut termasuk perempuan dan anak-anak Israel. Selain itu, ada juga beberapa pekerja pertanian dari Thailand. Mengutip Reuters, para sandera dibebaskan dari Gaza kepada pihak berwenang di Mesir, tepatnya melalui Perbatasan Rafah.

Qatar yang menjadi mediator gencatan senjata menyebut ada sekitar 13 warga Israel yang sudah dibebaskan. Sisanya, ada 10 warga Thailand dan Filipina. Lebih jauh, pembebasan tersebut baru awalan saja. Pada kesepakatan yang diraih bersama ketentuan gencatan senjata, nantinya bakal ada gelombang berikutnya terkait pemulangan dan pembebasan sandera.

 Israel

Pada kubu Israel, mereka sebenarnya juga membebaskan sejumlah sandera warga Palestina. Namun, ada satu tindakan lain yang sempat dilakukan negara Yahudi tersebut. Pasukan Israel dilaporkan sempat menembaki warga Palestina, padahal gencatan senjata tengah berlangsung.

Mengutip Al Jazeera, setidaknya ada 2 warga Palestina yang tewas serta 11 lain luka-luka akibat penembakan tersebut. Lebih jauh, warga Palestina ditembaki ketika hendak kembali ke rumahnya di Beit Lahiya, Jalur Gaza bagian utara.

Dalam hal ini, pasukan Israel beralasan bahwa warga Palestina tidak mendengarkan peringatan sebelumnya. Jadi, saat gencatan senjata diadakan, pasukan Israel memperingatkan warga Gaza yang mengungsi agar tidak kembali ke rumah.

Namun, karena mereka menerobos masuk, maka pasukan Israel mulai menggunakan cara kekerasan dengan menembakinya. Itulah perbandingan tindakan Israel dan Palestina saat gencatan senjata berlangsung.   ibc, ala, sin