
JAKARTA (wartadigital.id) – Diabetes tipe 5 kini resmi diakui sebagai bentuk baru dari penyakit diabetes yang berbeda dari tipe 1 dan tipe 2. Tidak terkait dengan obesitas atau gaya hidup, diabetes ini muncul akibat kekurangan gizi kronis dan paling sering menyerang remaja serta dewasa muda yang kurus di negara-negara berkembang.
Setelah puluhan tahun tidak diakui secara resmi, Federasi Diabetes Internasional (IDF) akhirnya menetapkan kondisi ini sebagai diabetes tipe 5 pada Kongres Diabetes Dunia di Bangkok. Pengakuan ini menjadi tonggak penting dalam dunia medis untuk meningkatkan kesadaran, diagnosis, serta penanganan terhadap penyakit yang selama ini terabaikan namun berdampak serius pada jutaan orang di seluruh dunia.
Jenis diabetes ini dikenal sebagai MODY (Malnutrition-Related Diabetes in the Young). Meredith Hawkins, profesor kedokteran di Albert Einstein College of Medicine, mengatakan bahwa diabetes yang berhubungan dengan kekurangan gizi secara historis sangat kurang terdiagnosis dan kurang dipahami. “Pengakuan IDF terhadap penyakit ini sebagai diabetes tipe 5 merupakan langkah penting dalam meningkatkan kesadaran terhadap masalah kesehatan yang sangat menghancurkan bagi banyak orang,” kata Hawkins dikutip dari Diabetes.co.uk, Rabu (14/5/2025).
Berbeda dari diabetes tipe 2 yang umumnya dikaitkan dengan obesitas dan gaya hidup, diabetes tipe 5 terjadi akibat kerusakan fungsi sel beta pankreas, yang menghambat produksi insulin secara normal. Hal ini disebabkan oleh malnutrisi berat sejak usia muda. Kondisi ini juga bersifat turunan, dan diperkirakan memengaruhi sekitar 25 juta orang di seluruh dunia, terutama di kawasan Asia dan Afrika. Sebagian besar penderitanya adalah pria muda dengan indeks massa tubuh (IMT) di bawah 19 kg/m².
Nihal Thomas, profesor endokrinologi di Christian Medical College di India dan anggota Kelompok Kerja Diabetes Tipe 5, menjelaskan kondisi tersebut menyebabkan fungsi sel betapankreas tidak normal, yang menyebabkan produksi insulin tidak mencukupi.
Kasus diabetes ini pertama kali tercatat di Jamaika pada tahun 1955, dan sempat dikategorikan oleh WHO sebagai “diabetes akibat malnutrisi” pada dekade 1980-an. Namun, kategori tersebut dihapus pada 1999 karena kurangnya bukti ilmiah yang mendalam. “Saya pertama kali mendengar tentang kondisi ini pada tahun 2005 dari rekan-rekan dokter di negara berkembang. Mereka menceritakan pasien muda, kurus, dan tidak responsif terhadap insulin,” ujar Hawkins.
Pasien-pasien ini tidak menunjukkan gejala khas diabetes tipe 1 atau tipe 2, dan kerap mendapatkan penanganan yang tidak tepat, seperti terapi insulin berlebihan, yang justru berisiko menurunkan kadar gula darah secara ekstrem.
Hingga saat ini, belum ada protokol pengobatan standar untuk diabetes tipe 5. Banyak pasien tidak bertahan lebih dari satu tahun setelah diagnosis karena lambatnya intervensi medis dan kurangnya pemahaman akan kondisi tersebut.
Namun, Hawkins menyarankan pola makan tinggi protein dan rendah karbohidrat, serta penanganan intensif terhadap kekurangan zat gizi mikro sebagai langkah awal yang mungkin membantu. Kini, dengan mandat resmi dari IDF, para peneliti dan praktisi kesehatan global diharapkan bisa menyusun pendekatan pengobatan yang lebih tepat, sekaligus mendorong studi lanjut untuk menyelamatkan jutaan jiwa yang hidup dalam risiko. “Diabetes tipe 5 tidak hanya lebih umum daripada tuberkulosis, tapi juga mendekati tingkat prevalensi HIV/AIDS di beberapa wilayah. Pengakuan ini sangat diperlukan agar dunia tidak lagi menutup mata,” pungkas Hawkins. sin