
ALOR (wartadigital.id) – Ratusan warga Alor, Nusa Tenggara Timur ikut menyaksikan Festival Al-Qur’an Tua di Desa Alor Besar yang sudah empat kali digelar sejak 2020 lalu. Agenda tahunan yang memperlihatkan sebuah Al-Qur’an yang terbuat dari kulit kayu berusia berusia ratusan tahun ini selalu berhasil menarik minat dan antusias warga Alor. Sedangkan Festival Al-Qur’an Tua merupakan rangkaian Visit Alor 2023 yang digelar sejak 13 Juni sampai dengan 17 Juni 2023.
Kepada reporter wartadigital.id, Nurdin Gogo yang merupakan keturunan ke-14 dari Sultan Iang Gogo menjelaskan bahwa Festival Al-Qur’an Tua ini digagas oleh Gubernur NTT Viktor Laiskodat yang berkunjung ke Alor Besar pada 2019 yang lalu.
“Di depan Pak Gubernur, saya menceritakan tentang perjalanan masuknya Al-Qur’an Tua ini dan Pak Gubernur meminta dinas terkait untuk dibuatkan sebuah festival tahunan yang dimulai sejak 2020 dan hari ini adalah Festival Al-Qur’an Tua yang ke-4, ” jelas Gogo yang selama ini bertugas menjaga dan merawat Al-Qur’an Tua tersebut.
Saat disinggung berapa tahun usia Al-Qur’an dan terbuat dari kulit kayu apa, Nurdin menjelaskan dia tidak mengetahui tahun berapa Al-Qur’an ini dibuat dan terbuat dari kulit kayu jenis apa. “Karena leluhur saya tidak menceritakan. Namun yang saya tahu, Al-Qur’an ini ada di Alor Besar sudah 180 tahun, ” terang Nurdin, Rabu (14/6/2023).
Pada kegiatan festival kali ini, Al-Qur’an Tua dari rumah keluarga Gogo dibawa oleh adik Nurdin Gogo yang bernama Haris Gogo menuju ke rumah adat dengan diiringi alunan selawat dan bersangi (sejenis selawat) yang dibaca oleh seluruh warga yang hadir dengan menggunakan busana muslim berwarna putih. Setelah kotak Al-Qur’an Tua diletakkan pada tempatnya di dalam rumah adat, Sira Hudin Ali, generasi penerus dari salah satu ulama besar di Alor Besar.
Sementara Hudin Ali menceritakan kembali perjalanan Al-Qur’an Tua tersebut. Menurutnya Al-Qur’an Tua itu dibawa ke Alor Besar oleh Iang Gogo yang melakukan perantauan bersama dengan keempat saudaranya dengan membawa misi penyebaran agama Islam hingga ke Alor pada masa Kesultanan Baabulah 5, yakni sekitar1528 hingga 1583. Kelima bersaudara tersebut berlayar dari Ternate hingga Alor dengan menggunakan perahu layar yang menurut riwayat bernama Tuma Ninah yang memiliki arti berhenti atau singgah.
Kelima saudara tersebut untuk pertama kalinya singgah di daratan Alor di Vetelei atau saat ini bernama Tanjung Bota, Desa Alila. Akibat rasa haus yang sudah dirasa dari perjalanan, kelima saudara tersebut memutuskan untuk mencari sumber air di sekitar pantai, tetapi tidak menemukan adanya sumber air di sekitar pantai tersebut.
Rasa haus yang semakin menyerang dan tidak ditemukannya sumber mata air di sekitar pantai tersebut menyebabkan Iang Gogo memutuskan untuk menancapkan tongkatnya ke pasir yang kemudian memancarkan air tawar. Sampai dengan saat ini, sumber mata air tersebut masih ada dan diberi nama mata air Banda. Sumber mata air Banda terletak di Bota, Desa Alila, Kecamatan Alor Barat Laut.
Kemudian perjalanan dilanjutkan hingga kelima saudara tersebut kembali singgah di sebuah tempat yang bernama Tang-tang yang pada saat ini bernama Desa Aimoli. Di tempat tersebut, kelima bersaudara bertemu dengan raja setempat yang bernama Raja Baololong 1.
Dalam pertemuan tersebut, mereka saling bertukar cenderamata dan berjanji akan bertemu kembali di Pusung Rebong yang pada saat itu merupakan pusat Kerajaan Bungabali. Kelima saudara Gogo memberikan cenderamata berupa nekara dan Raja Baololong memberikan pisau khitan.
Pertemuan mereka di Pusung Rebong menghasilkan kesepakatan bahwa salah satu di antara lima bersaudara Gogo harus tinggal di Kerajaan Bungabali untuk menyebarkan agama Islam. Kesepakatan tersebut dilaksanakan oleh Iang Gogo dengan berbekal Al-Qur’an kulit kayu dan sebuah pisau khitan. Kemudian Iang Gogo menikah dengan seorang puteri bangsawan Kerajaan Bungabali bernama Bui Haki. sis