Kesepakatan Tarif Trump dan Indonesia, Warga AS Keluhkan Mereka Jadi Bayar Mahal

Istimewa
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan rombongan melakukan negosiasi soal tarif resiprokal yang sebelumnya diumumkan Presiden Donald Trump.

WASHINGTON (wartadigital.id)  – Sejumlah warga Amerika Serikat (AS) mengungkapkan kekecewaannya terhadap kesepakatan perdagangan baru antara Presiden Donald Trump dan Presiden Prabowo Subianto, yang dinilai merugikan konsumen AS.

Dalam kesepakatan tersebut, barang-barang dari AS dapat masuk ke Indonesia tanpa tarif (0%) , sementara barang dari Indonesia dikenakan tarif 19% saat masuk ke AS. Presiden Trump menyebut kesepakatan ini sebagai kemenangan besar bagi AS karena memberikan akses penuh ke pasar Indonesia.

Bacaan Lainnya

Namun, warganet seperti influencer TikTok @nic6867 dan @kclmft justru menilai sebaliknya bahwa beban tarif 19% akan dibebankan kepada konsumen Amerika sendiri. Mereka menyebut, kebijakan tersebut justru membuat harga barang-barang asal Indonesia yang kerap digunakan oleh warga AS menjadi lebih mahal. Sementara itu masyarakat Indonesia bisa menikmati barang-barang buatan AS seperti iPhone, MacBook, hingga mobil tanpa biaya tambahan, membuatnya lebih murah di pasar Indonesia.

Kritik juga dilontarkan terkait klaim Trump soal pembelian 50 pesawat Boeing oleh Indonesia, yang disebut sebagai bagian dari kesepakatan padahal merupakan transaksi lama era Presiden Joe Biden. Banyak warga AS mempertanyakan apakah kesepakatan ini benar-benar menguntungkan rakyat Amerika seperti yang digembar-gemborkan.

Sebagai informasi Amerika Serikat dan Indonesia mencatat kesepakatan komersial antara perusahaan AS dan perusahaan Indonesia. Di antaranya yakni pengadaan pesawat senilai 3,2 miliar dolar AS setara Rp 51,5 triliun (kurs Rp 16.115/dolar AS). Pembelian produk pertanian, termasuk kedelai, bungkil kedelai, gandum, dan kapas dengan perkiraan nilainya mencapai 4,5 miliar dolar AS yang setara Rp 72,5 triliun. Ditambah pembelian produk energi, termasuk gas petroleum cair, minyak mentah, dan bensin, dengan estimasi nilai 15 miliar dolar AS yang jika dirupiahkan mencapai Rp 241,7 triliun. sin

 

Pos terkait