
SURABAYA (wartadigital.id) – Suasana kawasan Graha Semanggi Jambangan Surabaya, Kamis (29/8/2025) kemarin, berbeda dari biasanya. Pada saat itu Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggelar penyuluhan Merdeka TBC secara luring dan daring yang diikuti semua RW se-Surabaya.
Penyuluhan itu dilaksanakan serentak di semua RW di Kota Surabaya yang puncak kegiatan berlangsung di Balai RW 03, Kelurahan Jambangan, Kecamatan Jambangan.
Acara itu dimaksudkan guna meningkatkan kesadaran dan penanganan tuberkulosis (TBC), agar mampu memahami cara mendeteksi, mencegah, dan mengobati TBC.

Total ada 1.361 RW, dan 27.520 peserta terlibat dalam penyuluhan TBC. Kegiatan tersebut juga sekaligus memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri).
Walikota Surabaya Eri Cahyadi menyayangkan warga yang terkena TBC namun enggan memeriksakan diri, hingga akhirnya menularkan kepada lingkungan di sekitarnya.
Hal tersebut terjadi akibat masih adanya stigma negatif terhadap penderita TBC, sehingga warga yang menderita takut akan dikucilkan.
“Padahal TBC bisa sembuh kalau minum obat enam bulan dengan disiplin. Maka saya minta, jangan ada lagi stigma. Justru kita harus mendampingi,” tutur Eri Cahyadi yang didampingi Ketua TP PKK Kota Surabaya Rini Indriani Eri Cahyadi.

Eri menegaskan pentingnya kerja sama seluruh pihak untuk mencegah peningkatan kasus TBC. Dengan menggerakkan masyarakat hingga ke tingkat RW diharapkan mampu menekan kasus TBC di Kota Surabaya.
“Kalau kita cuek, sekencang apa pun Pemkot dan DPRD bergerak, ya jebol. Tapi kalau tiap RW saling peduli, In sya Allah bisa ditekan. Kuncinya empati,” ujarnya.
Dikatakan, gotong royong bersama antara pemerintah dengan warga, merupakan langkah utama untuk membuat Kota Surabaya bebas dari TBC.
“Kota ini tidak dibangun walikotanya. Kota ini dibangun oleh cinta warganya. Kalau kita saling peduli, saling mendampingi, Surabaya bisa terbebas dari TBC, kemiskinan, dan masalah sosial lain,” tutur Eri.
Sedangkan Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Nanik Sukristina, menjelaskan kegiatan tersebut diikuti Ketua RT dan RW, Kader Surabaya Hebat, hingga mahasiswa dari 13 universitas di Surabaya yang dilibatkan sebagai supervisor.
“Setiap kader ditugasi mendampingi 20 rumah di wilayah RW masing-masing. Mereka melakukan penyuluhan, mendeteksi dini gejala, dan memastikan pasien yang sakit meminum obat dengan tuntas,” ungkap Nanik.
Berbagai upaya dilakukan Dinkes untuk mengupayakan kesembuhan para penderita TBC, mulai dari skrining dan pemberian PMT (pemberian makanan tambahan) berupa susu bagi pasien TBC dari keluarga miskin.

“Penderita TBC tidak hanya kita obati, tapi juga kita dampingi hingga benar-benar sembuh. Bahkan ada program pemberian susu untuk memerbaiki gizi pasien dari keluarga tidak mampu,” kata dia.
Nanik juga menyampaikan, Pemkot Surabaya telah melakukan tindakan tegas kepada pasien yang menolak untuk berobat.
“Yang mengatur tentang pemasangan stiker pada rumah-rumah warga yang menolak untuk pengobatan. Kemudian kita juga bekerja sama dengan Disdukcapil untuk menonaktifkan KK dan BPJS Kesehatan pada KK yang menolak untuk berobat,” kata dia.
Usai acara utama, Walikota Eri, Ketua TP PKK dan jajaran terkait lainnya, sempat menyimak pemaparan dan penjelasan kader kepada peserta dan undangan di ruang yang lain. Juga mengunjungi PAUD yang berada di ruang sebelahnya. edt





