
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan keterangan ke media.
JAKARTA (wartadigital.id) – Ketidakpastian harga minyak mentah dunia mulai berdampak pada harga bahan bakar domestik. Setelah PT Pertamina menaikkan harga Pertamax Turbo dan Dexlite per 18 April 2026, kini perhatian tertuju pada Pertamax 92.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan sinyal bahwa fluktuasi Indonesia Crude Price (ICP) yang melambung dapat memicu penyesuaian harga tahap berikutnya bagi konsumen BBM non-subsidi jenis RON 92 tersebut.
Menurut Bahlil, kenaikan harga terhadap bensin non subsidi seperti Pertamax Turbo yang telah terjadi merupakan penyesuaian yang dilakukan oleh pihak PT Pertamina di tahap pertama dalam menyikapi dinamisnya harga minyak dunia. “Saya katakan bahwa kalau yang untuk BBM non-subsidi itu ada penyesuaian harga. Tahap pertama mungkin sekarang dilakukan seperti sekarang,” kata Bahlil saat jumpa pers di Kantor Kementerian ESDM RI Jakarta, Senin (20/4/2026).
Bahlil menyebutkan, penyesuaian harga ini juga berpotensi merembet ke Pertamax (RON 92) yang saat ini dibanderol Rp 12.300 per liter. Kenaikan harga di level pengecer, kata Bahlil sulit dihindari apabila tren harga minyak mentah global terus bertahan tinggi. “Tahap berikutnya kita lihat penyesuaian. Kalau harga (minyaknya) turun, ya (Pertamax) tidak naik. Tapi kalau harganya begini terus, ya mungkin pasti ada penyesuaian,” ungkap Bahlil.
Meski demikian, Bahlil menegaskan pemerintah tidak memiliki kapasitas untuk menjamin harga BBM non subsidi akan tetap stabil.
Menurut Bahlil, jaminan harga dari pemerintah hanya berlaku bagi BBM bersubsidi, yakni Pertalite (RON 90) dan Solar (CN 48). “Karena kan yang bisa kita jamin negara, pemerintah bisa menjamin itu kan adalah harga subsidi, dan itu kan peraturan Menteri ESDM 2022 kan sudah jelas itu ada formulasinya. Begitu ya,” katanya.
Adapun saat ini kata Bahlil , harga minyak mentah dunia yang menjadi acuan dari Indonesia Crude Price (ICP) berada di angka USD76 per barel, kondisi harga minyak mentah tersebut masih terus fluktuatif dan menunjukkan tren kenaikan. “Hari ini ya, kalau kemarin kan 77, karena pernah naik sampai 105, 106. Sekarang kan sudah turun kan? sudah di bawah 100 ya Pak Dirjennya? jadi rata-rata tadi pagi saya bangun tidur, bacaan saya sekarang adalah harga ICP dunia, dan ICP rata-rata. Kita mungkin 76,” tandas Bahlil.
Sebelumnya pada 18 April 2026, PT Pertamina (Persero) resmi mengumumkan kenaikan harga BBM non subsidi, di mana Pertamax Turbo dijual dengan harga Rp 19.400-Rp 20.250, harga berbeda di masing-masing provinsi. Padahal pada tanggal 1 Maret 2026 lalu, harga BBM Pertamax Turbo masih di angka Rp 13.100. Tidak hanya Pertamax Turbo, kenaikan harga juga terjadi untuk BBM Dexlite yang kini dijual Rp 23.600-Rp 24.650 per-liter di mana pada tanggal 1 Maret 2026 harganya masih Rp 14.200 per liter.
Sementara Pertamina Dex dibanderol Rp 22.700-Rp 24.950 per liter, di mana harga pada 1 Maret 2026 masih berkisar Rp 13.800-Rp 15.100 per liter (harga berbeda tergantung dengan provinsi masing-masing). Lalu untuk BBM bersubsidi seperti Pertalite dan solar harganya masih tetap yakni Rp 10.000 per-liter untuk Pertalite dan Rp 6.800 per-liter untuk solar.
Kenaikan juga tidak terjadi untuk BBM non subsidi RON 92 Pertamax, harga 1 Maret 2026 masih berlaku untuk saat ini dan tidak ada penyesuaian harga di seluruh daerah.
Minyak Dunia Melambung
Pada perdagangan awal, Minggu (19/4/2026) harga minyak dunia naik karena kebuntuan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) mencegah kapal tanker menggunakan Selat Hormuz, jalur air Teluk Persia yang sangat penting bagi pasokan energi global.
Harga minyak mentah AS naik 6,4 persen menjadi 87,90 dolar AS per barel satu jam setelah perdagangan dilanjutkan di Chicago Mercantile Exchange. Lalu, harga minyak mentah Brent, standar internasional, naik 5,8 persen menjadi 95,64 dolar AS per barel.
Reaksi pasar tersebut menyusul lebih dari dua hari harapan yang meningkat dan kekecewaan terkait Selat Hormuz. Harga minyak mentah anjlok lebih dari 9 persen pada Jumat (17/4/2026) setelah Iran mengatakan akan sepenuhnya membuka kembali Selat Hormuz, yang secara efektif dikuasainya, untuk lalu lintas komersial.
Teheran membatalkan keputusan itu dan menembaki beberapa kapal pada Sabtu (18/4/2026) setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan blokade Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan Iran akan tetap berlaku.
Pada Minggu, Trump mengatakan AS menyerang dan secara paksa menyita kapal kargo berbendera Iran yang diduga mencoba menghindari blokade tersebut. Selanjutnya, komando militer gabungan Iran bersumpah akan membalas.
Negara di Asia dan Eropa Terdampak
Kenaikan harga minyak pada Minggu menghapus sebagian besar penurunan yang terlihat pada Jumat, menandakan munculnya kembali keraguan tentang seberapa cepat kapal akan kembali mengangkut sejumlah besar minyak yang diperoleh dunia dari Timur Tengah.
Perang AS-Israel melawan Iran, yang kini memasuki minggu kedelapan, telah menciptakan salah satu krisis energi global terburuk dalam beberapa dekade.
Negara-negara di Asia dan Eropa yang mengimpor sebagian besar minyak mereka dari Teluk telah merasakan dampak paling besar dari terhentinya pasokan dan pengurangan produksi, meskipun kenaikan harga bensin, solar, dan bahan bakar jet yang pesat memengaruhi bisnis dan konsumen di seluruh dunia.
Dilansir AP News, harga minyak mentah – bahan utama dalam bensin – telah berfluktuasi secara dramatis sejak AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026, dan ketika Iran membalas dengan serangan udara terhadap negara-negara Teluk lainnya.
Minyak mentah diperdagangkan sekitar 70 dolar AS per barel sebelum konflik, melonjak hingga lebih dari $119 pada beberapa waktu, dan sebelumnya ditutup pada hari Jumat di 82,59 dolar AS untuk minyak AS dan 90,38 dolar AS untuk Brent. Para analis industri telah berulang kali memperingatkan bahwa semakin lama Selat Hormuz ditutup, semakin buruk harga yang bisa terjadi. ine, rmo





