
SURABAYA (wartadigital.id) – Keterbatasan kepemilikan jaminan, menjadi salah satu kendala para petani untuk akses pembiayaan ke perbankan. Dukungan kalangan perbankan sangat dinanti petani untuk pengembangan produk, apalagi yang berorientasi ekspor. Salah satunya, kebijakan menjadikan tanaman kopi sebagai jaminan pembiayaan.
Hal itu mencuat dalam kegiatan Business Coaching Pembiayaan pada Java Coffee & Flavor Festival (JCFF) 2026 di Hotel Kampi, Jumat (17/7/2026). Kegiatan ini dihadiri ratusan UMKM binaan/mitra KPwBI se-Jawa, UMKM rekomendasi trader/eksportir dan UMKM rekomendasi perbankan/lembaga keuangan. Menghadirkan narasumber dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan) Jatim, Bank Jatim dan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Jatim.
Owner PT Ijen Lestari Indonesia, Herry Achmad Suyanto mengatakan umumnya petani kopi di Banyuwangi tidak memiliki jaminan yang dipersyaratkan perbankan untuk akses pembiayaan, misalnya sertifikat rumah atau kendaraan. Karena itu kebijakan tanaman kopi bisa sebagai jaminan pembiayaan di bank menjadi angin segar bagi mereka. “Kalau memang tanaman kopi milik petani bisa menjadi jaminan atau agunan pembiayaan di bank seperti yang disampaikan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Jatim, kami sambut baik. Ini hal baru bagi kami, akan kami coba,” katanya.
Dikatakan Herry, kelompok petani di Desa Srono yang menjadi mitranya selama ini belum tersentuh bantuan permodalan dari perbankan. Mereka mandiri, banyak menggunakan dana pribadi untuk pengembangan produk. Karena itu perkembangannya tidak maksimal, padahal pasar sangat menjanjikan. “Baru kali ini kami ikut kegiatan Business Coaching Pembiayaan. Ini membantu membuka wawasan kami,” katanya.
Kapasitas produksi dari 200 petani yang menjadi mitra, kata Herry, mencapai 400 ton per musim (panen sekali setahun). Setelah melalui serangkaian pengolahan, produk kopi diekspor ke Jerman, Australia. Saat ini pihaknya juga tengah mengembangkan pasar ke Timur Tengah seperti Dubai, Saudi Arabia. Juga ke negara tetangga seperti Malaysia, Jepang, Singapura. “Kami juga sudah kirim sampel produk, yakni biji kopi yang sudah diroasting ke Slovakia dan Swiss. Ini menjadi bukti, jenis kopi Arabika yang kami kembangkan di lereng Gunung Ijen diminati mancanegara. Kami berharap ada kontribusi pihak perbankan, lembaga keuangan agar produk kami bisa diekspor ke lebih banyak negara,” katanya.
Selain itu bantuan perbankan dibutuhkan untuk mengembangkan areal penanaman setiap tahun dan meningkatkan value petani kopi. Dijelaskan Herry, selama ini petani menjual ceri, buah yang baru dipetik. Pihaknya ingin ceri diolah agar nilai jualnya lebih tinggi. “Petani bisa bahagia karena kalau ceri diolah harga jualnya jadi tinggi. Kami juga bisa lega, kalau setiap tahun bisa menyerap hasil petani lebih banyak jika ada perluasan areal tanam setiap tahunnya,” katanya.
PT Ijen Lestari Indonesia adalah prosesor kopi dari hulu sampai hilir. Bekerjasama dengan kelompok petani di Desa Srono, perusahaan ini terlibat dalam penanaman kopi Arabika, proses membentuk karakter buah kopi hingga bisa menghasilkan rasa yang diinginkan pasar, misalnya rasa honey, natural dll hingga pemasarannya. Saat ini kapasitasnya sebagai prosesor kopi sudah diakui dunia internasional.
Sementara itu Mohamad Edi Kuncoro selaku Founder Punjere Kopi dari Wonosalam Jombang mengaku terbantu mengikuti kegiatan seperti ini. Tak hanya informasi akses permodalan, pihaknya juga bisa mendapatkan bantuan akses pemasaran.
“BI membuat kami tumbuh. Melalui kegiatan semacam ini, BI memberikan banyak informasi, pemahaman mulai sistem manajemen, pengelolaan SDM, pengelolaan keuangannya hingga menghubungkan dengan Bank Himbara untuk akses permodalan. Itu sangat bermanfaat bagi kami,” kata pria yang akrab disapa Cak Godex’s ini.
Cak Godex’s juga berharap kalangan perbankan khususnya Bank Himbara konsisten ikut mendorong pengembangan komoditas unggulan Jawa Timur yang bernilai tambah, berkelanjutan dan berorientasi pasar yang lebih luas. Salah satunya kopi.
Untuk diketahui, Punjere Kopi bergerak di pertanian kopi, mulai proses perkebunan hingga hilir. Selama ini bermitra dengan para petani mengelola lahan kopi seluas 30 hektare di Wonosalam Jombang melalui program Bapak Tani, Ibu Tani, Anak Tani. Kapasitas produksi mencapai 20-25 ton per tahun. Punjere Kopi sudah menjadi mitra binaan Bank Indonesia dan menerima bantuan peralatan dan pembinaan.
Sedangkan pasar produk menjangkau hampir semua kota di Indonesia. Selain itu menyasar pasar internasional seperti Jerman, Malaysia, Thailand hingga Singapura.
Java Coffee & Flavor Festival (JCFF) 2026 diselenggarakan sebagai high level event tahunan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jatim yang diarahkan untuk memperkuat eksposur, nilai tambah, serta rantai nilai komoditas kopi, cokelat, dan rempah dari Jawa sebagai komoditas unggulan nasional dan potensial ekspor.
Pada tahun 2026, JCFF mengusung tema “Java Coffee: From Local Flavours to Global Horizons” dan dilaksanakan pada 17-19 Juli 2026 di Alun-Alun Surabaya dan Hotel Kampi Surabaya. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, JCFF tidak hanya menjadi ruang promosi produk, tetapi juga sarana penguatan ekosistem usaha, kolaborasi, dan perluasan akses pasar bagi pelaku UMKM. nti





