
KATHMANDU (wartadigital.id) – Ancaman banjir kembali membayangi Nepal ketika ribuan tim penyelamat berpacu dengan waktu untuk menemukan orang-orang yang masih hilang, enam hari setelah longsoran gletser memicu bencana mematikan di sepanjang perbatasan dengan Tibet.
Menurut data terbaru dikutip Senin (31/8/2026), jumlah korban tewas akibat banjir bandang dahsyat di Nepal dan Tibet telah tembus 800 orang, sementara lebih dari 3.000 orang masih dinyatakan hilang.
Peringatan banjir besar kembali dikeluarkan setelah otoritas China memberi tahu pihak Nepal mengenai peningkatan aliran air di bagian hulu sungai. Otoritas di Kathmandu mengatakan permukaan air Sungai Bhotekoshi meningkat ke level berbahaya, sementara cuaca yang memburuk mengancam memicu banjir bandang lainnya.
Di tengah kondisi tersebut, tim penyelamat terus bekerja membersihkan jalan yang menghubungkan Kathmandu dengan wilayah-wilayah yang terdampak banjir. Ancaman Banjir Dahsyat Baru Kantor berita pemerintah China, Xinhua, mengutip Kementerian Sumber Daya Air China, melaporkan bahwa sebuah danau baru terbentuk setelah banjir pada Rabu di wilayah pegunungan sebagian besar telah surut. Namun, Xinhua menyebut kementerian tersebut memperingatkan bahwa sebuah cekungan yang berada 5,6 kilometer di bagian hulu masih menyimpan risiko. Cekungan itu diperkirakan menampung sekitar 1,4 juta meter kubik air sehingga membutuhkan pemantauan ketat.
Hujan yang turun sepanjang malam dan meningkatnya debit sungai juga menghambat operasi penyelamatan. Menurut Angkatan Darat Nepal, air sempat menggenangi area penggalian sebelum kondisi kembali membaik.
Menurut Badan Penanggulangan Bencana Nepal, jumlah korban tewas telah mencapai 788 orang dengan 2.502 orang masih hilang. Sementara itu, otoritas China melaporkan 16 orang tewas dan 546 orang hilang di sisi perbatasan China. Mereka yang hilang termasuk ratusan warga dari lebih dari selusin negara, termasuk India.
Mereka berada di wilayah tersebut untuk bekerja, mengunjungi pegunungan, atau melakukan ziarah ke sebuah puncak yang dianggap suci. Media pemerintah China mengatakan 261 warga asing masih hilang di Tibet, termasuk lebih dari 100 warga Nepal dan warga negara lain dari berbagai penjuru dunia.
Mulai Memakamkan Jenazah
Di Nepal, keluarga yang dilanda kepanikan di distrik Rasuwa dan Nuwakot memenuhi pos-pos penyelamatan serta rumah sakit untuk mencari kerabat mereka yang hilang. Sebagian lainnya menghadapi tugas berat untuk mengidentifikasi jenazah di kamar-kamar mayat yang telah penuh.
Karena jumlah jenazah sangat banyak dan fasilitas pendingin yang memadai tidak tersedia, otoritas Nepal terpaksa mulai memakamkan sejumlah jenazah sebelum proses identifikasi selesai. Pejabat mengatakan sampel DNA telah diambil dari jenazah sehingga keluarga dapat mengambilnya di kemudian hari dan menjalankan ritual pemakaman sesuai tradisi mereka. Para penyintas juga menghadapi tantangan besar untuk membangun kembali kehidupan mereka dari nol. “Semua permukiman di dekat sungai tersapu banjir. Tidak tersisa lagi,” kata seorang warga bernama Buddhi Ram Dangol kepada AFP di distrik Nuwakot, Nepal, Senin (31/8/2026).
Sebanyak 933 pekerja Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) juga termasuk dalam daftar orang yang belum diketahui keberadaannya di Nepal. Pasukan Angkatan Darat Nepal dan para insinyur menggali puing-puing untuk mencapai para pekerja yang diyakini terjebak di dalam sebuah terowongan di proyek PLTA Trishuli 3A di lembah sungai Himalaya. Mereka berhasil memasukkan sebuah pipa ke dalam terowongan tersebut. Para pekerja yang berhasil menyelamatkan diri menggambarkan kondisi mengerikan ketika bencana terjadi.
Surendra Dowluri (33) asal negara bagian Andhra Pradesh, India, mengatakan air bah menerjang proyek Upper Trishuli-1, tempat dia bekerja. “Kami mendengar suara yang sangat keras… dan melihat lantai turbin terendam lumpur, sementara enam pekerja terjebak di dalamnya. Kami berhasil menyelamatkan lima dari mereka, tetapi satu orang kehilangan nyawanya,” kata Dowluri kepada AFP setelah diselamatkan empat hari setelah bencana.
Dia mengatakan sejumlah pekerja berhasil mencapai tempat yang lebih tinggi atau area konstruksi yang tidak terjangkau arus deras.
Nepal Minta Bantuan Internasional
Perekonomian Nepal yang sudah berada di bawah tekanan kini menghadapi beban yang semakin berat. Pemerintah mengatakan sumber daya yang dimiliki terbatas untuk menangani bencana sebesar ini.
Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal mengatakan biaya rekonstruksi dapat mencapai miliaran dolar Amerika Serikat. Dia meminta bantuan khusus, termasuk drone pengangkut beban berat dan teknologi untuk membantu menemukan orang-orang yang masih terjebak. Khanal juga meminta bantuan berupa perangkat pengujian forensik untuk mengidentifikasi jenazah serta unit pendingin untuk menyimpannya. Dia mengatakan jenazah yang sempat terendam air dapat membusuk lebih cepat. Sang menteri juga menyoroti ketidakadilan yang harus dihadapi Nepal karena mengalami dampak ekstrem perubahan iklim, meskipun negara tersebut memiliki salah satu tingkat emisi karbon per kapita terendah di dunia.
Menanggapi permintaan tersebut, Amerika Serikat dan Kanada masing-masing menyatakan akan memberikan bantuan kemanusiaan sebesar 3,6 juta dolar AS kepada Nepal. Inggris menawarkan bantuan sebesar 6,8 juta dolar AS, sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelontorkan dana darurat sebesar 2,5 juta dolar AS. Sejumlah bantuan lainnya juga dijanjikan oleh Uni Eropa, Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah, serta berbagai pihak lainnya. sin, afp
