Inflasi Oktober 2026 Tembus 3,23%, Cabai Rawit dan Beras Jadi Pemicu

Istimewa
Cabai rawit menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi tahunan pada Oktober 2026.

JAKARTA (wartadigital.id) — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan sebesar 3,23% pada Oktober 2026, dengan komoditas pangan seperti cabai rawit dan beras menjadi salah satu penyumbang utama.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi Oktober 2026 mencapai 0,22%. Sementara itu, secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi mencapai 3,23%.

Bacaan Lainnya

Adapun secara tahun kalender (year-to-date/ytd), inflasi tercatat sebesar 2,40%. Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terutama didorong oleh tiga kelompok. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 4,82% dengan andil terbesar, yakni 1,40%. “Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau terutama cabai rawit, ikan segar, beras, minyak goreng, daging ayam ras, sigaret kretek mesin atau SKM, dan juga daging sapi,” kata Ateng dalam Berita Resmi Statistik BPS, Senin (2/11/2026).

Selain kelompok pangan, kelompok transportasi juga menjadi pendorong inflasi tahunan. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 4,87% dengan andil 0,59%. Ateng menjelaskan kenaikan pada kelompok transportasi terutama dipengaruhi oleh bensin, tarif angkutan udara, pelumas atau oli mesin, sepeda motor, biaya pemeliharaan atau servis, serta mobil.

Selanjutnya, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami inflasi sebesar 4,52% dengan andil 0,32%. Kenaikan harga emas perhiasan menjadi penyumbang utama inflasi pada kelompok tersebut.

Berdasarkan komponennya, BPS mencatat seluruh komponen mengalami inflasi tahunan. Komponen inti mengalami inflasi 2,56% yoy dengan andil terbesar, yakni 1,64% yoy. Komoditas yang dominan menyumbang inflasi pada komponen ini antara lain emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, laptop atau notebook, serta pelumas atau oli mesin. Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi 3,24% yoy dengan andil 0,63% yoy. Komoditas penyumbangnya meliputi bensin, tarif angkutan udara, SKM, dan bahan bakar rumah tangga.

Adapun komponen harga bergejolak mencatat inflasi tertinggi sebesar 5,81% yoy dengan andil 0,96% yoy. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen ini adalah cabai rawit, beras, daging ayam ras, daging sapi, tomat, dan cabai merah.

Ateng menyebut perkembangan produksi hortikultura seperti cabai merah dan cabai rawit turut memengaruhi pergerakan harga sejumlah komoditas pangan selama Oktober 2026. “Untuk cabai merah, mencatat penurunan produksi di seluruh daerah sentra, terutama di Lombok Timur, Cianjur, dan Banyuwangi,” ujarnya.

Di sisi lain, peningkatan produksi tercatat di Aceh Tengah, Kulon Progo, dan Kerinci. Penurunan produksi juga terjadi pada cabai rawit di sejumlah daerah sentra, terutama Jember, Sampang, dan Brebes. Sebaliknya, produksi meningkat di Situbondo, Lombok Timur, dan Aceh Tengah.

Dari sisi wilayah, BPS mencatat seluruh provinsi mengalami inflasi secara tahunan pada Oktober 2026. Inflasi tertinggi terjadi di Sulawesi Utara sebesar 8,07%, sedangkan yang terendah tercatat di DKI Jakarta sebesar 2,52%. bis

Pos terkait