Pasca Insiden Peretasan Kripto Rp 114 Triliun, Bos Keuangan Binance Mundur

Pergantian pimpinan keuangan itu diumumkan beberapa hari setelah Binance mengungkap insiden peretasan yang menyebabkan pencurian aset kripto senilai Rp 114 triliun.

BEIJING (wartadigital.id) – Chief Financial Officer (CFO) Binance Kaiser Ng memutuskan mundur dari jabatannya di tengah sorotan terhadap keamanan platform perdagangan aset kripto terbesar di dunia tersebut.

Pergantian pimpinan keuangan itu diumumkan beberapa hari setelah Binance mengungkap insiden peretasan yang menyebabkan pencurian aset kripto senilai 6,3 miliar dolar aS atau setara Rp 114 triliun. “Kaiser Ng telah memutuskan untuk mengembangkan usaha baru setelah lebih dari lima tahun bekerja di Binance, dengan rencana transisi yang telah dilaksanakan selama enam bulan terakhir,” ujar Co-Chief Executive Officer Binance Yi He seperti dikutip dari Reuters, Minggu (8/11/2026).

Bacaan Lainnya

Binance menunjuk Justin Yek untuk menggantikan Ng sebagai CFO. Yek merupakan eksekutif keuangan yang sebelumnya menjabat Wakil Presiden Bidang Keuangan di perusahaan teknologi keuangan Airwallex. Pergantian tersebut menandai perubahan di jajaran manajemen keuangan Binance ketika perusahaan menghadapi perhatian publik terhadap aspek keamanan dan perlindungan aset pengguna.

Kaiser Ng telah menjabat sebagai CFO Binance sejak Januari 2022 atau selama lebih dari lima tahun. Berdasarkan profil LinkedIn miliknya, Ng juga pernah berkarier di Kraken, salah satu bursa perdagangan aset kripto yang menjadi pesaing Binance.

Keputusan pengunduran diri Ng menjadi perhatian karena berlangsung setelah Binance mengungkap serangan siber pada 29 Oktober 2026 yang mengakibatkan pencurian aset kripto senilai 6,3 miliar dolar AS. Insiden tersebut disebut sebagai salah satu aksi peretasan terbesar dalam sejarah industri aset kripto.

Binance menjelaskan serangan bermula dari kompromi terhadap sejumlah komputer milik karyawan yang diduga telah berlangsung selama beberapa bulan sebelum insiden terungkap. Pelaku disebut memanfaatkan perangkat lunak berbahaya atau malware yang disisipkan melalui unduhan perangkat lunak serta modus perekrutan kerja palsu yang menyasar para insinyur perusahaan.

Menanggapi insiden tersebut, Binance menyatakan akan mengganti sepenuhnya kerugian yang dialami pelanggan terdampak. Langkah itu menjadi bagian dari upaya perusahaan menangani dampak serangan siber sekaligus mempertahankan kepercayaan pengguna terhadap platform perdagangan aset digitalnya.

Sementara itu, Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) mengaitkan aksi pencurian tersebut dengan kelompok peretas asal Korea Utara. Namun, pemerintah Korea Utara membantah tuduhan tersebut. sin

Pos terkait