Oleh: Faisol Ramdhoni
Malam itu turun seperti selimut rahmat yang menyentuh bumi dengan pelan dan lembut. Udara Surabaya mulai lembab oleh embun dini hari yang merayap dari celah-celah genting. Suara motor memudar di kejauhan, berganti bisik kipas angin dan nyanyian lirih jangkrik dari sudut jendela.
Langit baru saja selesai menampung gema adzan Isya. Abdullah duduk bersimpuh lebih lama dari biasanya, wiridnya telah usai, tapi hatinya belum selesai bicara. Sajadah di bawahnya masih menyimpan sisa panas sujud yang dalam. Di balik keheningan malam, dadanya perlahan-lahan dipenuhi oleh sesuatu yang tak bisa ia eja—sebuah rindu yang bukan sembarang rindu.
Bukan rindu pada kekasih. Bukan pada ibu, bukan pula pada masa kecil. Tapi rindu yang lebih sunyi, lebih dalam, seperti desir angin yang membawa nama yang tak diucapkan. Ia tahu betul apa yang sedang mengetuk hatinya: Giri.
Giri, makam Sunan Giri, tempat yang pernah ia datangi dalam keadaan gelisah dan pulang dengan dada lega. Tempat yang wanginya bukan dari bunga, tapi dari doa yang mengendap berabad-abad lamanya. Ia teringat langit malam di sana—sepi tapi tak sunyi, teduh tapi penuh gema ruhani. Ia teringat kayu tua yang diam berdzikir dan batu nisan yang lebih banyak bicara dibanding manusia. Di tempat itu, waktu tak sekadar berjalan, tapi berzikir. Dan ada sesuatu yang belum selesai antara ia dan tempat itu. Sebuah pintu yang belum benar-benar tertutup. Sebuah salam yang belum sempat ia balas.
Bahkan, saat datang ke Giri kala itu, Abdullah menemukan sebuah secangkir doa yang tak tertulis dalam kitab manapun—ia disajikan hangat di sebuah warung kopi pangku, bersama uap pahit dan sepasang mata bening yang menyimpan luka dan harap. Seorang perempuan berusia kepala tiga, cantik beranak dua, melayani Abdullah dengan santun. Tapi bukan senyum ramah atau kata-katanya yang membekas, melainkan getar doa yang tersembunyi di balik setiap gerak tubuhnya. Ia bukan hanya menjual kopi, tapi sedang mengaduk jalan pulangnya sendiri kepada Tuhan.
Malam itu, Abdullah bangkit perlahan dari sajadah. Ia menyeduh kopi, bukan untuk mengusir kantuk, tapi untuk menemani perjalanan batinnya yang belum selesai. Lalu ia duduk di depan laptopnya yang sudah menua. Layar putih terbuka seperti lembaran hati yang belum diisi. Ia tak ingin menulis status, bukan pula cerita pendek biasa. Tapi ingin menumpahkan rindu yang terlalu sunyi untuk diucapkan, terlalu dalam untuk disimpan.
Dan ia beri judul: Giri, Aku Rindu
Giri, aku rindu. Segalanya. Seutuhnya. Dari bawah hingga ke atas, dari gerbang masuk hingga langkah terakhir keluar. Aku rindu udara pagi yang menampar pelan wajahku saat kaki ini pertama kali menginjak tanah sucimu. Aku rindu suasana halaman yang sepi tapi penuh zikir, suara sandal para peziarah yang pelan tapi khusyuk, pohon-pohon yang berdiri tak banyak bicara tapi seolah ikut mendoakan. Aku rindu langkah-langkah yang terasa lebih ringan setiap kali mendekat.
Giri, aku rindu saat melangkah masuk menuju ke makammu. Aku rindu kakiku menaiki 99 anak tanggamu. Tangga-tangga itu bukan hanya batu yang tersusun menuju puncak bukit, tapi jalan panjang menuju puncak kesadaran. Sebuah riyadhoh diam-diam yang tak disadari banyak orang. Setiap pijakan seperti huruf yang membentuk satu kalimat agung: Asmaul Husna. Sembilan puluh sembilan nama-Nya. Nama-nama yang bukan hanya indah untuk disebut, tapi dalam untuk diselami. Tangga pertama: Ar-Rahman, yang membuatku sadar bahwa hanya kasih sayang-Nya yang membuatku sampai sejauh ini. Tangga kedua: Ar-Rahim, yang mengajariku bahwa rahmat-Nya selalu menyelimutiku, bahkan saat aku menjauh.
Di anak tangga ketiga, Al-Malik, aku ingat betapa aku selalu merasa memiliki, padahal tak ada yang benar-benar milikku. Al-Quddus, nama keempat, menyentakku bahwa hidup ini butuh disucikan—bukan hanya tubuh dan pakaian, tapi hati dan niat. Tangga demi tangga, satu nama demi satu nama, pelan-pelan mengikis keangkuhanku. Aku merasa didekonstruksi sebagai manusia—dilucuti dari gelar, kedudukan, kebisingan dunia.
Di tengah perjalanan, langkahku bertemu As-Salam, yang membuatku menangis dalam hati. Damai yang selama ini kucari ke sana ke mari ternyata hanya bisa kutemukan saat menyebut nama-Nya. Di Al-Mu’min, aku merasa ditenangkan, seakan Dia berkata: “Aku tahu hatimu gelisah. Tapi tenanglah, Aku bersamamu.” Lalu di tangga Al-Ghaffar, aku tak tahan, aku menangis diam-diam. Bagaimana mungkin Tuhan bisa terus mengampuni makhluk sepertiku, yang hampir setiap hari berbuat salah?
Tangga Ar-Razzaq membuatku malu. Betapa sering aku mengeluh soal rezeki, padahal napas ini pun adalah pemberian yang tak bisa kubayar. Di Al-Fattah, aku mohon agar hatiku dibukakan. Sebab terlalu banyak kunci yang kusimpan, tapi terlalu sedikit pintu yang benar-benar terbuka untuk cahaya. Hingga akhirnya di tangga ke-99, As-Sabur, aku berhenti sejenak. Tuhan yang Maha Sabar. Dan aku belajar bahwa perjalanan spiritual bukan tentang kecepatan, tapi tentang kesabaran yang terus dipelihara.
Maka mendaki 99 anak tanggamu, Giri, adalah suluk panjang yang mendidik batin. Bukan ziarah yang selesai setelah doa dibacakan dan foto diambil. Tapi ziarah yang terus hidup dalam hati. Ziarah yang membuat setiap langkah buka n hanya mendekat pada makam, tapi pada makna.
Aku datang, bukan karena kuat atau karena aku sudah siap. Tapi karena ada sesuatu yang tak selesai di dalam dadaku. Sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh buku, tak bisa ditenangkan oleh musik, tak bisa diselesaikan oleh debat atau status media sosial. Maka aku datang ke Giri. Bukan untuk mencari keajaiban, tapi untuk menyimpan rindu yang sejak lama tak punya wadah. Rindu ini bukan sekadar pada nisan dan tanah, tapi pada nur yang tersembunyi, yang diam-diam memancar dari maqbarahmu. Cahaya yang tak menyilaukan mata, tapi menyinari batin yang hampir padam.
Aku duduk di bawah atap kayu tua yang penuh keteduhan. Angin menyentuh perlahan, seperti ingin menyampaikan salam dari langit. Di antara doa-doa orang yang datang dan pergi, aku memilih diam. Menyebut namamu dalam riyadhoh yang sunyi. Bukan untuk memohon dunia, bukan juga untuk menawar nasib, tapi untuk belajar mencintai seperti para wali: mencintai dengan tulus, tanpa menuntut dibalas. Mungkin kau tak mendengar langsung suaraku, tapi aku percaya jiwamu mendengar yang lebih dalam dari sekadar ucapan.
Aku datang membawa luka yang tak sempat kuperban, membawa harapan yang rapuh seperti kertas basah. Tapi di tempat ini, aku tak merasa perlu menyembunyikannya. Di hadapanmu, segala yang retak terasa wajar, segala yang patah diterima apa adanya. Sebab bukankah ziarah bukan hanya soal datang ke makam? Tapi soal mendekat pada cahaya, meski lewat jalan berdebu. Mendekat pada keteladanan, meski jiwa masih penuh pertanyaan. Mendekat pada Allah, lewat jejak orang-orang yang lebih dahulu menghadap-Nya dengan cinta.
Di pusaramu, aku belajar bahwa hidup bukan tentang tinggi pangkat atau panjang usia. Tapi tentang seberapa dalam jejak yang ditinggalkan. Kau pernah memimpin, tapi tak pernah memamerkan kuasa. Kau pernah berada di puncak, tapi hatimu tetap bersila di bumi. Itulah yang membuat namamu abadi. Dan itulah yang membuatku kembali ke sini: mencari bukan hanya riwayat, tapi ruh. Bukan hanya kisah, tapi suluh.
Giri, aku rindu. Dan mungkin, rindu ini tak akan selesai. Tapi biarlah ia menjadi jalan. Biarlah ia menjadi doa yang pelan, menjadi suluk yang panjang, menjadi alasan untuk terus melangkah—meski tertatih. Aku tak ingin pulang dengan karomah, cukup dengan satu percikan cahaya kecil dari nur maqbarahmu. Agar aku tahu ke mana arah, ketika dunia mulai kehilangan langitnya.
Malam memudar perlahan, disambut semburat fajar yang malu-malu mengintip dari sela jendela. Azan Subuh baru saja rampung, dan Abdullah menutup laptopnya perlahan, seolah menutup selembar doa yang baru saja dituliskannya di langit malam. Kopi di cangkir telah mendingin, tapi hangatnya telah berpindah ke dada yang kini terasa lapang oleh cahaya.
Fajar menjelma kidung cahaya, melantun ;embut di antra sela waktu, yang mulai melukis pagi. Abdullah bergegas bersiap, mengenakan kemeja lusuh tapi bersih, dengan langkah yang tenang namun pasti. Hari ini, seperti hari-hari sebelumnya, ia akan kembali menjalani tugasnya sebagai pesuruh negara—bukan pejabat, bukan pengusaha, tapi pengantar berkas dan pemungut tanda tangan. Gajinya tak besar, cukup untuk membeli beras dan sesekali sebatang rokok, tapi ia tetap mensyukurinya seperti mensyukuri matahari yang tak pernah absen menyapa bumi.
Pagi mengantarnya dengan doa-doa tak bersuara. Ia tahu, meski pekerjaannya tak disebut-sebut dalam pidato atau berita, ada kehormatan yang hanya bisa dipahami oleh hati yang bersujud. Rindu pun tak ia bawa sebagai beban, tapi sebagai arah. Sebab rindu sejati selalu mengarah pada pulang—bukan pulang ke rumah semata, tapi ke asal cahaya.
Di sela persiapan pagi, Abdullah sempat melirik berkas cerpen yang semalam ia tulis. Sebaris judul masih berkedip di pikirannya, seperti langit yang masih menyisakan bintang terakhir. Ia berencana akan mengirimkan naskah itu ke sebuah media massa. Bukan untuk mengejar ketenaran, apalagi kekayaan—menulis baginya adalah sebentuk ibadah sunyi, jalan batin yang ia tempuh tanpa peta, tapi penuh makna.
Cerpennya bukan sekadar rangkaian kata, melainkan getaran rindu yang ditata dengan kalimat, doa-doa yang menyaru jadi dialog, dan luka-luka yang menjelma alur. Ia tahu, barangkali tulisannya hanya akan dibaca segelintir mata, atau bahkan ditolak tanpa kabar. Tapi itu tak pernah menyurutkan langkahnya. Sebab menulis bukan untuk dinilai, tapi untuk menyembuhkan.
Kalaupun nanti dimuat dan diberi honor, ia pun akan sangat bersyukur. Tak peduli besar atau kecil, semua adalah rezeki yang telah disisirkan angin dari langit. Tambahan itu mungkin cukup untuk membeli setengah tabung gas, atau sebungkus nasi pecel di warung sebelah kantor. Tapi lebih dari itu, ada kenikmatan yang tak bisa ditakar: perasaan bahwa hidupnya tak hanya berjalan, tapi juga berarti.
Siapa tahu, esok atau lusa, ia benar-benar akan berangkat. Bukan sekadar membawa tulisan di pundaknya, tapi membawa jiwanya yang ingin sujud di tanah para kekasih. Menuju Giri—bukan sebagai pengunjung, tapi sebagai peziarah yang merindukan cahaya, yang mendaki bukan untuk melihat, tapi untuk disucikan.*
Penulis adalah Pendiri dan Aktivis Nahdliyin Bergerak (NABRAK) Madura dan Kolumnis di berbagai media massa.