
SURABAYA (wartadigital.id) – Bank Indonesia (BI) siap mendukung eksplorasi potensi komoditas kopi, cokelat, dan rempah Jatim di tengah terbukanya pasar global. Mengingat Jatim merupakan produsen kopi terbesar di Jawa dan menjadi sentra perkebunan dan agrobis.
“Jatim adalah produsen utama kopi di Jawa, dengan kontribusi 48 persen terhadap total produksi. Kami ingin pertumbuhan ekonomi daerah berkelanjutan, bukan hanya dinikmati perusahaan besar, tetapi juga mengangkat pendapatan UMKM,” kata Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti saat penutupan Java Coffee and Flavors Fest (JCFF) 2025, Senin (25/8/2025) malam. Penutupan ini juga dihadiri Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dan perwakilan dinas, instansi terkait.
Untuk diketahui Jawa Timur masuk empat besar produsen kopi nasional dengan luas areal 122.623 hektare dan produksi mencapai 78.688 ton dan berkontribusi pada ekspor kopi se-Jawa tercatat 87 persen. Beberapa sentra utamak kopi Jatim di antaranya Bondowoso dengan Java Ijen Raung Coffee, Jember yang menjadi pusat penelitian kopi dan kakao (Puslitkoka), serta Malang, Pasuruan, Lumajang, Situbondo, dan Banyuwangi.
Selain kopi, cokelat atau kakao juga menjadi andalan perkebunan Jatim dengan areal 50.096 hektare dan produksi 23.599 ton. Sentra kakao tersebar di Blitar, Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, Tulungagung, dan Malang Selatan. Sejumlah daerah bahkan telah mengembangkan hilirisasi menjadi produk olahan cokelat bernilai tambah.
Jawa Timur turut menjadi pusat perdagangan dan pintu ekspor dari wilayah lain seiring peran krusialnya sebagai Gerbang Baru Nusantara.
Sementara itu gelaran JCFF 2025 berlangsung mulai 23-25 Agustus 2025 di Kawasan Kota Lama Surabaya mengusung tema “Crafting Futures Through Local Flavors”. Adapun Java Coffee and Flavors Fest merupakan sebuah kebaruan dari pelaksanaan Java Coffee Culture (JCC) yang telah dilaksanakan sejak 2022, di mana saat ini JCFF tidak hanya berfokus pada komoditas kopi, namun turut menjadi etalase komoditas potensial ekspor lainnya, yaitu cokelat, dan rempah.
Penyelenggaraan di Kawasan Kota Lama Surabaya untuk pertama kalinya diadakan di tahun 2025, setelah sebelumnya diselenggarakan di Jl. Tunjungan. Pemilihan Kota Lama Surabaya sejalan dengan upaya Bank Indonesia untuk mendukung branding Kota Lama sebagai ikon pariwisata Kota Surabaya maupun Jawa Timur, yang di dalamnya juga terdapat Museum De Javasche Bank.
Pada kesempatan yang sama, dilakukan juga launching QRIS Tap sebagai bentuk upaya memberikan kemudahan dan kecepatan proses pembayaran digital dimana pengguna tak lagi harus memindai QR Code saat bertransaksi.
Selama 3 hari penyelenggaraan, rangkaian JCFF yang meliputi Business Matching, Showcasing UMKM, Talkshow, Workshop, Competition, Fashionpreneur, Fashion Show, dan Semarak JCFF, telah melibatkan lebih dari 60 UMKM Kopi, Cokelat, dan Rempah dari binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia seluruh Jawa, serta UMKM binaan Pemerintah Kota Surabaya.
Adapun JCFF 2025 mendapatkan atensi tinggi dari masyarakat di Kota Surabaya dan sekitarnya, dengan kehadiran luring maupun daring yang mencapai lebih dari 31 ribu pengunjung, dan total nilai transaksi pada Business Matching mencapai Rp 107 miliar, baik dari perdagangan maupun pembiayaan.
Capaian ini jauh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu yang sebesar Rp 29 miliar. JCFF 2025 diharapkan dapat memperkuat peran komoditas kopi, rempah, dan cokelat sebagai komoditas unggulan dan potensi ekspor, serta mendukung promosi kawasan wisata sejarah di Kota Lama Surabaya sehingga mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan. nti





