
MALANG (wartadigital.id) – Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Universitas Airlangga (Unair) menjalin kolaborasi untuk mengembangkan model inovasi pendampingan ”Remaja” calon pengantin berbasis digital dan lintas sektoral sebagai strategi akselerasi penurunan stunting di Indonesia.
Periset di Pusat Riset Kependudukan BRIN Dr Iswari Hariastuti MKes menjelaskan bahwa kegiatan riset telah dilakukan 8-12 Juli di Kabupaten Malang. Tim Peneliti yang survei di lapangan terdiri dari Dr Iswari Hariastuti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional bersama Widayatun MA, Weny Lestari MSi dan bermitra dengan Prof Ira Nurmala, Dr Mutmainnah (Unair).
“Kolaborasi ini diwujudkan melalui kegiatan Fokus Group Duscusion mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan serta di level Sekolah SMP dan SMA di Kecamatan Sumber Pucung dan Kecamatan Singosari Kabupaten Malang, ” jelas Iswari kepada media wartadigital.id , Sabtu (20/7/2024).
Iswari menambahkan penelitian dilakukan di Kabupaten Malang dengan prevalensi stunting sebesar 23 persen (tahun 2022), lebih tinggi dari prevalensi Jawa Timur maupun nasional. Meskipun saat ini angka stunting telah menurun menjadi 19 persen namun masih tingginya perkawinan anak menjadi kontributor terjadinya risiko anak stunting di Kabupaten Malang.
Dia menjelaskan kolaborasi antara BRIN dan Unair bertujuan untuk mengembangkan model pendampingan calon pengantin yang lebih efektif dan efisien dalam mencegah stunting.
Masih menurut Iswari, pengembangan sebuah model inovasi pendampingan bagi remaja calon pengantin berbasis digital ini dilakukan melalui aplikasi “Konco SREGEP” serta memaksimalkan dukungan lintas sektoral dalam rangka akselerasi penurunan stunting.
“Model ini akan memanfaatkan teknologi digital dan melibatkan berbagai sektor terkait, seperti Bappeda, Dinas kesehatan, Dinas Pengendalian Penduduk dan KB, Balitbangda,TP PKK, Dinkes, DP3A, Kepala Sekolah di lokus penelitian,” paparnya.
Mengacu pada implementasi pada Peraturan Presiden No 72 Tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting, pemerintah menargetkan penurunan stunting 14%. Prevalensi stunting di Indonesia saat ini adalah 21,6%, sementara target yang ingin dicapai adalah 14% pada tahun 2024 (Kemenkes RI, 2023). Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, prevalensi stunting di Provinsi Jawa Timur sebesar 19,2 % (Kemensetneg RI, 2023). Berdasarkan SSGI, Kabupaten Malang pada tahun 2022 memiliki persentase stunting 18-19% (Kab Malang, 2022).
Melihat angka stunting yang masih di atas target nasional (14%), nampaknya belum bisa tercapai seperti yang diharapkan. “Oleh karena itu, perlu upaya yang semakin masive lagi dalam upaya percepatan penurunan angka stunting, ” terangnya.
Program pencegahan dan penurunan stunting selama ini lebih banyak berfokus pada batita, baduta, dan ibu hamil, namun upaya penncegahan stunting perlu dilakukan secara komperehensif dan dimulai sejak dari hulunya yaitu sejak remaja. Kondisi remaja sebagai calon pengantin yang siap hamil dan melahirkan merupakan manifest terjadinya resiko stunting bilamana sudah terjadi kekurangan asupan gizi yang menyebabkan anemia. Calon pengantin memiliki peran yang penting dalam meningkatkan kualitas keluarga ketika terjadi pernikahan dan memiliki anak. “Catin merupakan upaya strategis pencegahan stunting sejak masa Prakonsepsi, khususnya pengantin wanita karena akan mengalami kehamilan ,” imbuhnya.
Sebelumnya, pada 2009, pemerintah melalui Kementerian Agama sudah membuat kelas persiapan pernikahan, akan tetapi tidak efektif karena materi yang diberikan sangatlah umum dan diberikan dalam waktu yang singkat.
“Oleh karena itu dalam penelitian ini akan mendesain dengan menyiapkan kelas pendampingan yang dapat diakses kapanpun, baik oleh remaja sebagai calon pengantin maupun stakeholder yang dilakukan sejak remaja khususnya masih dalam kondisi menjadi siswa disekolah sehingga dapat dilakukan pemantauan dan evaluasi edukasi yang diberikan oleh para pendamping remaja di sekolah, ” jelasnya.
Upaya ini dilakukan melalui literasi digital dan dukungan peran lintas sektoral yang diharapkan setiap saat remaja membutuhkan dapat memberi akses pelayanan. Model pendampingan calon pengantin berbasis digital dan lintas sektoral ini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak remaja calon pengantin, meningkatkan kualitas pendampingan, dan mendorong perubahan perilaku yang dapat mencegah stunting. Hal ini merupakan faktor penting mewujudkan akselerasi penurunan angka stunting.
Diharapkan model pendampingan remaja calon pengantin berbasis digital dan lintas sektoral ini dapat berkontribusi dalam upaya pemerintah Indonesia untuk menurunkan prevalensi stunting dan mewujudkan generasi muda yang sehat dan berkualitas di Indonesia dan khususnya di Kabupaten Malang. sis





