
SURABAYA (wartadigital.id) – Gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus memicu perhatian dari berbagai kalangan, mulai dari pelaku pasar hingga masyarakat awam. Fenomena penurunan nilai mata uang domestik ini kerap menimbulkan kekhawatiran terkait dampaknya terhadap roda perekonomian nasional, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Menanggapi situasi tersebut, Dosen Perbankan dan Keuangan Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Andi Estetiono SE MM membedah dinamika pergerakan kurs ini secara mendalam dari kacamata industri perbankan nasional.
Andi menjelaskan bahwa pelemahan rupiah membawa dampak langsung terhadap tiga risiko utama perbankan, yaitu risiko likuiditas, risiko pasar, dan risiko kredit. Kenaikan dolar AS terhadap rupiah tentu berdampak terhadap perbankan, bukan hanya dampak terhadap harga atau inflasi.
Pertama dari sisi likuiditas perbankan, khususnya likuiditas valas. Menurut Andi, terdapat kecenderungan seseorang memilih mengamankan asetnya dengan mencairkan simpanan rupiah di bank lalu menyimpan dalam bentuk dolar AS. Atau mereka malah mencairkan simpanan dolarnya untuk mendapatkan keuntungan sesaat dan konversi ke aset lain seperti emas atau aset lainnya yang dianggap aman.
“Ini tergantung persepsi dan respons masyarakat terhadap kondisi saat ini. Yang jelas LDR Valas dan Rasio Likuiditas Valas Perbankan perlu dipantau ketat,” papar Wakil Dekan I Fakultas Vokasi dalam keterangannya, Selasa (26/5/2026).
Risiko kedua adalah risiko pasar. Apabila bank memiliki posisi valas terbuka, maka akan terkena revaluasi. Jika terjadi net short valas pada bank, rugi selisih kurs langsung tercatat, berdampak pada laba rugi.
Sementara risiko ketiga mengarah pada sektor kredit. Terutama bagi para nasabah yang memiliki pinjaman dalam bentuk dolar AS tetapi menjalankan usahanya di dalam negeri dengan pendapatan rupiah, akan berat membayar bunga dan cicilan. Kredit bermasalah perbankan atau NPL berpotensi meningkat.
“Ini kan berat, ya. Artinya dia mendapatkan penghasilan rupiah, tapi harus mengangsur atau membayar dalam dolar AS. Sehingga ketiga risiko tersebut perlu dimitigasi oleh industri perbankan,” ucap Andi.
Masyarakat Perlu Tenang dan Bijak
Andi menambahkan bahwa perbankan nasional akan merespons penahanan dana likuiditas ini melalui penyesuaian tingkat suku bunga simpanan. Kondisi ini untuk menjaga kepercayaan nasabah dan menjaga likuiditas bank. Bank cenderung menaikkan tingkat bunga simpanan, tetapi untuk bunga pinjaman akan cenderung sulit jika langsung dinaikkan.
“Akibatnya Net Interest Margin (NIM) atau selisih bunga antara pinjaman terhadap simpanan akan semakin menipis. Artinya keuntungan bank makin mengecil sehingga bank harus lebih efisien dalam operasionalnya,” jelasnya.
Untuk menghadapi tantangan ekonomi ini, Andi menyarankan agar manajemen bank terus mengkomunikasikan kondisi pasar secara transparan dan menenangkan nasabahnya. “Jangan sampai terjadi seperti tahun 1997-1998, kurs rupiah terhadap dolar AS pada bulan Juni 1998 mencapai Rp 16.000,- lebih,” tegas Andi.
Sementara itu, dari sisi makro, pemerintah melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang melibatkan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, OJK, dan LPS harus memantau secara ketat dan memberi dukungan bauran kebijakan strategis. Seperti intervensi pasar, operasi moneter dan suku bunga, pengawasan bank, menjalankan makroprudensial, manajemen utang luar negeri, menjaga APBN dan kepercayaan masyarakat agar tidak menimbulkan kepanikan yang berlebih.
“Kalau saran saya ke masyarakat, meresponsnya dengan tenang dan bijak, tidak usah panik. Fokus pada pemenuhan kebutuhan bukan keinginan. Kalau mau investasi buat namanya portofolio investasi. Kita ingat istilah jangan menyimpan telur dalam satu keranjang yang sama, kalau keranjangnya jatuh pecah semua telurnya,” pungkas Andi
Menurutnya, masyarakat perlu mempelajari pengelolaan keuangan dengan baik di masa seperti ini, terutama pada portofolio tabungan. “Kelola keuangan kita dengan baik, portofolio ada di tabungan, sebagian deposito, sebagian logam mulia, atau saham, atau investasi langsung ke sektor riil yang tetap tumbuh dan aman seperti kafe. Singkatnya respons dan cara pandangan kita harus selalu positif dan mampu melihat hikmah dari setiap kejadian,” tutur Andi. nti





