
PROBOLINGGO (wartadigital.id) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo melakukan pengendalian demam berdarah dengue (DBD) melalui kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) oleh anak sekolah di Auditorium Madakaripura Kantor Bupati Probolinggo, Senin (9/12/2024).
Kegiatan ini diikuti oleh 149 orang peserta terdiri dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikdaya) Kabupaten Probolinggo sebanyak 1 orang, Korwil Bidang Dikdaya Kecamatan sebanyak 24 orang, Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo sebanyak 1 orang, Pengawas MI/MTs Kemenag sebanyak 24 orang, PP DBD Puskesmas sebanyak 33 orang dan Kader Jumantik masing-masing Puskesmas 2 orang sebanyak 66 orang.
Selama kegiatan mereka mendapatkan materi analisa situasi DBD Kabupaten Probolinggo, sosialisasi pengendalian DBD dan sosialisasi pembentukan Jumantik Anak Sekolah di Kabupaten Probolinggo.
Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Hariawan Dwi Tamtomo melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr. Nina Kartika mengatakan secara umum kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan peran masyarakat dalam pencegahan dan pengendalian DBD.
“Secara khusus tujuannya agar memahami situasi kasus DBD di Kabupaten Probolinggo, memahami upaya pengendalian DBD yang efektif, efisien dan berkesinambungan serta meningkatkan peran sekolah untuk pelaksanaan jumantik dan PSN anak sekolah,” katanya.
Nina menjelaskan DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang ditandai dengan demam mendadak, sakit kepala, nyeri belakang bola mata, mual dan manifestasi perdarahan seperti uji tourniquet (rumple lead) positif, bintik-bintik merah di kulit (petekie), mimisan, gusi berdarah dan lain sebagainya.
“Sampai saat ini penyakit Arbovirus, khususnya DBD ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi. Kerugian sosial yang terjadi antara lain karena menimbulkan kepanikan dalam keluarga, kematian anggota keluarga dan berkurangnya usia harapan hidup masyarakat. Kelompok paling rentan terjangkit DBD adalah usia anak-anak terutama pada anak sekolah,” ujarnya.
Menurut Nina, peran serta masyarakat merupakan komponen utama dalam pengendalian DBD, mengingat peran serta masyarakat merupakan komponen utama dalam pengendalian DBD, mengingat vektor DBD nyamuk Aedes jentiknya ada di sekitar permukiman dan tempat istirahat nyamuk dewasa sebagian besar ada di dalam rumah.
“Peran serta masyarakat dalam hal ini adalah peran serta sebagai kader juru pemantau jentik (jumantik) yang melaksanakan pemantauan jentik dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dilakukan secara rutin seminggu sekali, meliputi kegiatan menguras, menutup dan mengubur atau memanfaatkan kembali barang-barang yang bernilai ekonomis (3M). PSN 3M secara rutin dapat membantu menurunkan kepadatan vektor, berdampak pada menurunnya kontak antara manusia dengan vektor, akhirnya terjadinya penurunan kasus DBD,” tuturnya.
Nina menerangkan kelompok anak sekolah merupakan bagian kelompok masyarakat yang dapat berperan strategis, mengingat jumlahnya sangat banyak sekitar 20% dari jumlah penduduk Indonesia adalah anak sekolah SD, SMP dan SMA. Anak sekolah tersebar di semua wilayah Indonesia, baik daerah perkotaan maupun pedesaan.
“Peran serta anak sekolah sebagai jumantik dapat digunakan untuk menanamkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada usia dini, yang akan digunakan sebagai dasar dan perilakunya dimasa yang akan datang. Selain itu, menggerakkan anak sekolah lebih mudah dibandingkan dengan orang dewasa dalam pelaksanaan PSN,” tegasnya.
Lebih lanjut Nina menjelaskan jumlah kasus DBD yang dilaporkan pada tahun 2023 di Kabupaten Probolinggo sebanyak 741 kasus dengan kasus kematian 22 orang, tahun 2024 terdapat 2.502 kasus dengan kematian 24 orang. Sedang pada tahun-tahun sebelumnya pada tahun 2016 dari 478 kasus terdapat 10 kematian. Tahun 2017 dari 241 kasus terdapat 5 kematian. Pada tahun 2018 dari 80 kasus terdapat 4 kematian. Pada tahun 2019 dari 440 kasus terdapat 5 kematian. Pada tahun 2020 dari 170 kasus terdapat 1 kematian.
“Dalam kurun waktu tahun 2021 sampai dengan 2024 ada kenaikan kasus DBD dan kematian sehingga untuk mengantisipasi melonjaknya kasus DBD di tahun 2025 dan dalam memasuki musim penghujan di akhir tahun 2024 dan awal tahun 2025, Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo mengambil langkah-langkah sebagai kewaspadaan dini terhadap KLB DBD dan melakukan upaya untuk menekan angka CFR yang tinggi dengan kegiatan koordinasi pengendalian DBD melalui kegiatan PSN anak sekolah,” kata dia. oli, ins





