Dua Rakaat di Kamar Mbah Hasyim Asyari

OLEH : FAISOL RAMDHONI  

Penulis adalah Ketua LWPNU Sampang & Ketua Komisi Ekonomi MUI Sampang

Bacaan Lainnya
Faisol Ramdhoni

Ketika Muktamar NU ke-35  menyebut Gus Kikin sebagai nahkoda baru, ingatan saya justru berlayar jauh ke masa beberapa waktu lalu. Jauh dari riuh arena muktamar, jauh dari panggung, spanduk, dan percakapan tentang siapa memimpin siapa. Ingatan itu berhenti pada sebuah kamar kecil di Ndalem Kasepuhan Pesantren Tebuireng. Kamar tempat Mbah Hasyim Asy’ari dahulu bertafakur dan menunaikan salat malam.

Konon, tidak semua orang bisa masuk ke kamar tersebut. Sesekali orang-orang penting, pejabat negara, atau tamu kehormatan diberi kesempatan untuk duduk sejenak di sana, bertafakur atau sekadar memanjatkan doa untuk Mbah Hasyim.

Kamar itu tidak luas. Barangkali hanya sekitar empat kali empat meter. Di dalamnya terdapat dua lukisan besar KH Hasyim Asy’ari. Beberapa kitab tersusun rapi di dalam lemari. Tidak ada sesuatu yang tampak mewah. Justru kesederhanaannya yang membuat ruang itu terasa begitu dalam.

Saya bisa diterima di sana bukan karena saya pantas,bukan karena saya seorang alim, bukan karena saya kiai/Gus, Bukan karena saya memiliki kedudukan. Kitab kuning pun belum benar-benar akrab dengan saya. Bahkan, dalam urusan bangun Subuh, saya masih sering kalah oleh lelap.

Tetapi  saya datang bersama orang-orang yang saya yakini membawa barokah. Para kiai, para pemilik doa,para pejuang yang menghabiskan hidupnya untuk pesantren, umat, dan agama.

Karena itu, ketika saat itu saya dibolehkan memasuki kamar itu, saya menyebutnya sebagai barokah. Dan barangkali, begitulah barokah bekerja. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk sesuatu yang besar. Kadang ia hanya berupa sebuah pintu yang terbuka.Sebuah kesempatan yang tidak kita cari.Sebuah pertemuan yang tidak kita rencanakan.

Maka, saat itu  saya pun merasa bukan sedang memperoleh sebuah kesempatan biasa. Saya seperti sedang dipinjamkan sedikit keberuntungan oleh mereka yang hidupnya lebih dekat kepada keberkahan. Memasuki kamar itu merasa seperti sedang memasuki ruang yang bukan sekadar memiliki sejarah, tetapi juga menyimpan kesunyian yang panjang.

Hari itu, saya dan para pemilik barokah masuk ke kamar dengan diantar oleh Gus Kikin. Hingga saat ini masih teringat suasananya. Tidak ada jarak yang dibuat-buat. Tidak ada protokol yang terasa kaku. Ia menerima kami dengan sederhana di ruang tamu, sebagaimana seorang tuan rumah menerima tamunya. Setelah itu, kami dipersilahkan  masuk secara bergantian  ke kamar Mbah Hasyim.

Saya sempat bertanya kepada salah satu  kiai yang turut serta, apa yang sebaiknya dilakukan di sana. “Salat dua rakaat saja,” jawabnya. “Salat sunnah apa saja. Bisa hajat.”

Saya pun mengambil wudhu dan mengerjakan salat  dua rakaat yang sederhana. Setelah salam, saya duduk sebentar. Tidak ada wirid panjang. Tidak ada doa yang saya susun dengan kalimat-kalimat indah. Saya hanya berusaha merasakan sesuatu yang barangkali tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dalam kesunyian itu, entah mengapa, imajinasi saya membawa saya pada sosok seorang lelaki yang duduk di bawah cahaya lampu minyak. Di hadapannya terbuka sebuah kitab yang mulai menguning.

Tetapi saya merasa lelaki itu bukan sedang membaca huruf-huruf Arab. Ia sedang membaca zaman. Lelaki itu adalah Kyai Hasyim Asy’ari.

Mungkin begitulah NU pada mulanya. Ia tidak lahir dari gedung yang megah. Bukan dari panggung dengan sorot lampu. Bukan pula dari perhitungan tentang siapa memperoleh apa.

NU lahir dari kegelisahan. Kegelisahan para ulama ketika zaman bergerak terlalu cepat. Kegelisahan ketika perubahan keagamaan di tanah Hijaz bersentuhan dengan tradisi keislaman yang telah tumbuh di Nusantara. Kegelisahan melihat kolonialisme, perubahan sosial, dan masa depan umat yang belum jelas arahnya.

Di antara kegelisahan itu ada nama-nama besar: Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syansuri dan para ulama lainnya. Dan di balik lahirnya sebuah organisasi besar itu, ada kisah yang jauh lebih sunyi daripada hiruk-pikuk sebuah konferensi. Ada tongkat dan tasbih Kiai Kholil Bangkalan yang dikirim melalui Kiai As’ad Syamsul Arifin. Ada pesan yang tidak disampaikan dengan pidato panjang. Ada “Ya Jabbar, Ya Qahhar”. Ada air mata para kiai.

Barangkali karena itulah NU sejak awal bukan sekadar organisasi. Ia adalah kegelisahan spiritual yang menemukan bentuknya dalam khidmah. Sebelum ada struktur, ada niat. Sebelum ada kekuatan, ada pengorbanan. Sebelum ada suara yang didengar banyak orang, ada suara hati yang terlebih dahulu didengarkan oleh para pendirinya.

Kini, setelah Muktamar sukses digelar, tak terasa  bahtera NU telah berlayar hampir satu abad. Bahtera yang membawa tradisi, pesantren, jutaan warga, sekaligus harapan besar umat.

Dalam satu abad ini, terlihat  NU tumbuh bahkan tumbuh besar. Dari pesantren ke kampus, dari madrasah ke ruang-ruang sosial, dari mimbar ke birokrasi, dari sarung ke jas, bahkan hingga panggung internasional. Pesantren berkembang, lembaga pendidikan berdiri, jaringan sosial dan ekonomi meluas. Anak-anak santri memasuki dunia teknologi, bisnis, pemerintahan, politik, dan berbagai ruang kehidupan modern.

Itu semua patut disyukuri. NU tidak harus miskin untuk disebut sederhana, tidak harus tertinggal untuk disebut tradisional. Menjadi besar bukan dosa. Memiliki kekuatan ekonomi bukan pula kesalahan. Justru umat membutuhkan kekuatan agar tidak selalu menjadi penonton di tengah perubahan zaman.

Tetapi setiap pertumbuhan membawa satu pertanyaan: tumbuh ke mana? Sebab sebuah pohon tidak hanya diukur dari tingginya batang, tetapi dari apakah ia masih memberi teduh.

Begitu pula NU, kebesaran organisasi tidak semestinya hanya diukur dari luasnya jaringan, banyaknya aset, kuatnya pengaruh, atau kedekatannya dengan pusat kekuasaan. Ukuran yang lebih sederhana justru ada di bawah: apakah petani merasa lebih ringan, santri merasa lebih diperhatikan, pesantren kecil merasa memiliki tempat berpijak, dan orang-orang kecil masih menemukan pintu ketika hidup sedang sulit?

Jangan sampai kita terlalu sibuk menghitung seberapa besar NU, tetapi lupa menghitung berapa banyak orang yang merasa tertolong karenanya.

NU tentu tidak harus menjauh dari kekuasaan. Negara adalah ruang pengabdian, bukan sesuatu yang harus dimusuhi. Kerjasama dengan pemerintah pun diperlukan. Tetapi yang harus tetap dijaga adalah jarak moral: cukup dekat untuk bekerja sama, cukup bebas untuk mengingatkan.

Sebab bahaya terbesar kedekatan dengan kekuasaan bukan hanya ketika seseorang tergoda mengambil keuntungan. Yang lebih halus adalah ketika keberanian untuk berkata “tidak” perlahan hilang, karena terlalu terbiasa mendengar kata “iya”.

Begitu pula dengan ekonomi. NU membutuhkan kemandirian. Pesantren membutuhkan penguatan. Umat membutuhkan akses dan kesempatan. Tetapi harus ada garis yang terus dijaga: membangun ekonomi umat jangan sampai berubah menjadi membangun ekonomi elite atas nama umat. Sebab keberhasilan ekonomi bukan sekadar berapa banyak aset yang terkumpul, melainkan berapa banyak kehidupan yang menjadi lebih ringan.

Nah, tantangan-tantangan  tersebutlah  yang tersisa dari Muktamar NU ke-35. Tantangan yang harus segera dijawab untuk meredakan sebagian keraguan. Untuk membuktikan bahwa kepemimpinan bukan sekadar pergantian nama.

Sebab memimpin NU bukan sekadar memenangkan ruang Muktamar. Ia adalah perjalanan panjang untuk memastikan bahwa orang-orang kecil tetap memiliki rumah, pesantren tetap memiliki sandaran, dan suara ulama tetap memiliki keberanian untuk mengatakan yang benar.

NU boleh memiliki pengaruh sebesar apa pun. Boleh memiliki kekuatan ekonomi, jaringan, dan kedekatan dengan kekuasaan.Tetapi pada akhirnya, semua itu hanya akan menemukan maknanya jika kembali kepada satu kata yang menjadi ruh kelahirannya yakni khidmah.

Di titik itulah, ingatan pada kesyuina kamar kecil Mbah Hasyim Asyari semakin menguat. Ingatan yang memiliki makna bahwa kebesaran tidak selalu butuh banyak suara. Di sana hanya ada kitab, kesunyian, dan jejak seorang ulama yang menghabiskan malam-malamnya untuk mendekat kepada Allah.

Mungkin setelah Muktamar, NU juga membutuhkan sedikit kesunyian itu. Agar setelah memilih pemimpin, kita tidak lupa memilih kembali jalan yang hendak ditempuh. Agar setelah menghitung kemenangan, kita kembali menghitung pengabdian.

Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang dari sebuah kepemimpinan bukan berapa lama ia berada di puncak, tetapi berapa banyak orang yang merasa hidupnya lebih baik karena amanah itu. *

Pos terkait