Indonesia Prihatin atas Penculikan Presiden Maduro

Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyampaikan pidato di Dewan HAM PBB, Jenewa, Swiss

JAKARTA (wartadigital.id) – Pemerintah Indonesia menyampaikan keprihatinannya atas penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dalam operasi militer Amerika Serikat di Caracas.

Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyebut tindakan yang melibatkan penggunaan atau ancaman kekuatan berisiko menganggu stabilitas  dan perdamaian di kawasan.

Bacaan Lainnya

“Indonesia menyampaikan keprihatinan mendalam atas setiap tindakan yang melibatkan ancaman kekuatan, yang berisiko menciptakan preseden berbahaya dalam hubungan internasional. Tindakan tersebut dapat mengganggu stabilitas dan perdamaian kawasan, serta melemahkan prinsip kedaulatan dan diplomasi,” kata Sugiono.seperti dikuti di Instagram Menluri, Minggu (4/1/2026).

Menlu RI mengingatkan komunitas internasional untuk menghormati hak dan kedaulatan rakyat Venezuela. Menurutnya, dunia harus menghormati keinginan rakyat untuk menentukan nasib masa depan Venezuela.

“Penting bagi komunitas internasional untuk menghormati hak dan kehendak rakyat Venezuela dalam menjalankan kedaulatan mereka. Rakyat Venezuela berhak menentukan sendiri arah dan masa depan bangsa mereka,” ujarnya menegaskan.

Pemerintah Indonesia, kata Sugiono, menyerukan dunia agar menahan diri dan mematuhi hukum internasional. Ia juga meminta agar mengedepankan dialog dan perlindungan terhadap warga sipil.

“Indonesia menyerukan kepada semua pihak agar mengedepankan dialog, menahan diri, dan mematuhi hukum internasional, termasuk prinsip-prinsip dalam Piagam PBB. Serta, mematuhi hukum internasional, khususnya perlindungan terhadap warga sipil yang keselamatan dan kondisinya harus tetap menjadi prioritas utama,” kata Menlu.

Sekjen PBB Antonio Guterres melalui Juru Bicara Stephane Dujarric, menyampaikan kekhawatiran atas ketegangan di Venezuela. Menurut Gutteres, penangkapan Maduro oleh militer Amerika Serikat menjadi preseden yang berbahaya.

“Ini berpotensi menimbulkan implikasi yang mengkhawatirkan bagi kawasan ini. Terlepas dari situasi di Venezuela, perkembangan ini merupakan preseden yang berbahaya,” kata Dujarric seperti dikutip dari situs PBB.

Gutteres nenyampaikan keprihatinannya karena belum dipatuhinya hukum internasional, termasuk Piagam PBB. Oleh sebab itu, Gutteres menekankan pentingnya penghormatan penuh hukum internasional oleh semua negara.

Gutteres meminta pihak terlibat dalam gejolak di Venezuela untuk ssgera berdialog. Tentunya dengan mengedepankan hak asasi manusia (HAM) dan penghormatan atas penegakan hukum.

“Sekjen PBB sangat prihatin bahwa aturan hukum internasional belum dihormati. Sekjen juga menyerukan semua pihak di Venezuela untuk terlibat dalam dialog inklusif, tentunya dengan menghormati sepenuhnya hak asasi manusia dan supremasi hukum,” ujar Dujarric.

Sebelumnya, Amerika Serikat menculik Presiden Maduro dan istrinya Cilia Flores dalam serangan militer di kediamannya di Caracas. Keduanya digerebek dan ditangkap oleh satuan elite Angkatan Darat Amerika, Delta Force, pada tengah malam saat sedang tidur.

Selanjutnya Maduro dan istrinya dibawa dengan helikopter ke USS Iwo Jima, menuju New York. Keduanya dijebloskan ke pusat tahanan Brooklyn, New York. rai, nas

Pos terkait