Performa Operasional dan Keuangan Kompak Tumbuh, PGE Perkuat Langkah Menuju 100 Tahun Panas Bumi

Paparan PGE dalam Media Briefing Kinerja Semester I 2026 yang digelar di Jakarta, Selasa (4/8/2026), 

JAKARTA (wartadigital.id) — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) membukukan pertumbuhan kinerja operasional dan keuangan yang solid sepanjang semester I 2026. Capaian tersebut disampaikan dalam Media Briefing Kinerja Semester I 2026 yang digelar di Jakarta,  Selasa (4/8/2026), setelah Perseroan menyelenggarakan paparan publik kinerja keuangan atau earnings call secara virtual pada Senin (3/8/2026).

Media briefing tersebut dihadiri seluruh jajaran Direksi PGE, yaitu Direktur Utama PGE Ahmad Yani, Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE Edwil Suzandi, Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho, serta Direktur Keuangan PGE Fransetya Hutabarat.

Bacaan Lainnya

Sepanjang semester I 2026, produksi listrik PGE mencapai 2.745 gigawatt-hour (GWh), tumbuh 13,62 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) dari 2.416 GWh pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perseroan juga mencetak availability factor sebesar 99,71 persen, capacity factor sebesar 90,42 persen, serta unplanned outage rate yang terjaga rendah pada level 0,11 persen.

Capaian tersebut mencerminkan tingginya pemanfaatan aset pembangkit sekaligus konsistensi Perseroan dalam menjaga operasi yang aman, andal, dan efisien. Capacity factor PGE juga berada jauh di atas rata-rata perusahaan panas bumi global yang umumnya berkisar antara 75 hingga 80 persen.

Pertumbuhan produksi ditopang oleh kontribusi hampir seluruh wilayah operasi PGE, termasuk Kamojang, Ulubelu, Lahendong, Karaha, serta kontribusi penuh PLTP Lumut Balai Unit 2 yang mulai beroperasi secara komersial pada akhir Juni 2025. Produksi Lumut Balai Unit 1 dan 2 meningkat 108,2 persen secara YoY, didukung oleh operasi penuh Unit 2, peningkatan permintaan listrik, serta pasokan uap yang andal.

Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan kinerja semester I 2026 menjadi fondasi bagi Perseroan untuk memasuki babak pertumbuhan berikutnya. “PGE memiliki sumber daya panas bumi lebih dari 3 gigawatt (GW), salah satu portofolio terbesar di dunia saat ini. Prioritas kami adalah mengubah potensi tersebut menjadi kapasitas pembangkit yang bermanfaat bagi masyarakat. Visi kami jelas, yakni menjadikan PGE sebagai world leading geothermal producer dengan roadmap pertumbuhan yang terukur. Kami menargetkan kapasitas terpasang 1 GW pada 2028, 1,8 GW pada 2033, dan terus tumbuh hingga Indonesia menjadi negara dengan kapasitas panas bumi terbesar di dunia,” ungkapnya.

Pada 2026, PGE menargetkan produksi listrik dan uap terkonsolidasi mencapai 5.255 GWh, tumbuh sekitar 3,14 persen secara YoY dan berpotensi menjadi rekor produksi tertinggi Perseroan. Target tersebut ditopang oleh kontribusi penuh Lumut Balai Unit 2 sepanjang tahun serta berbagai inisiatif untuk meningkatkan keandalan dan mengoptimalkan load factor pembangkit.

Laba Bersih Tumbuh 15,48 Persen

Pertumbuhan produksi turut terefleksi pada kinerja keuangan Perseroan. Mengacu pada laporan keuangan interim per 30 Juni 2026, PGE membukukan pendapatan sebesar 235,027 juta dolar AS, tumbuh 14,7 persen secara YoY.

Pertumbuhan pendapatan yang kuat, didukung disiplin operasional yang berkelanjutan, mendorong laba bersih Perseroan meningkat 15,48 persen secara YoY menjadi 79,605 juta dolar AS. Laba kotor Perseroan turut meningkat 8,11 persen menjadi 130,4 juta dolar AS.

Ringkasan kinerja keuangan PGE per 30 Juni 2026:

  • Pendapatan : 235,027 juta dolar AS
  • Laba Bersih :   79,605 juta dolar AS
  • Total Aset :    2,967 miliar dolar AS
  • Ekuitas :    2,006 miliar dolar AS
  • Kas dan Setara Kas : 656,634 juta dolar AS

Momentum 100 Tahun Panas Bumi Percepat Akselerasi Pertumbuhan

Capaian tersebut hadir pada momentum penting bagi industri energi nasional. Tahun 2026 menandai satu abad pengembangan panas bumi Indonesia, sejak kegiatan eksplorasi pertama kali dilakukan di Kamojang, Jawa Barat, pada 1926.

Sebagai perusahaan yang wilayah kerjanya berkontribusi sekitar 70 persen terhadap kapasitas terpasang panas bumi nasional, PGE berkomitmen menjadikan momentum satu abad tersebut sebagai titik luncur untuk memperkuat peran Indonesia sebagai salah satu produsen panas bumi terkemuka dunia.

Bertepatan dengan itu, arah kebijakan pemerintah melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 yang menargetkan penambahan kapasitas panas bumi sebesar 5,2 GW membuka peluang percepatan pengembangan sektor panas bumi.

PGE berada pada posisi yang siap menangkap momentum tersebut. Saat ini Perseroan mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan total kapasitas terpasang 1.932 MW, terdiri atas 727 MW yang dioperasikan langsung oleh PGE dan 1.205 MW melalui skema Kontrak Operasi Bersama.

Tiga proyek strategis PGE, yaitu PLTP Lumut Balai Unit 3 (55 MW), Lumut Balai Unit 4 (55 MW), serta Lahendong Unit 7 dan 8 (50 MW), telah masuk dalam Green Book 2026 Kementerian PPN/Bappenas. Status tersebut membuka peluang akses terhadap pendanaan internasional untuk mendukung percepatan pengembangan proyek.

Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE Edwil Suzandi mengatakan fokus Perseroan ke depan adalah memastikan potensi sumber daya panas bumi dapat dikonversi menjadi proyek yang layak secara teknis, ekonomis, dan berkelanjutan. “Dengan portofolio sumber daya yang besar, pipeline proyek yang matang, dan eksekusi yang disiplin, PGE optimistis mencapai target pertumbuhan kapasitas. Sepanjang semester pertama tahun ini, kami berfokus pada empat pilar utama, yaitu commercial readiness, subsurface readiness, execution readiness, dan project funding, untuk memastikan setiap proyek berjalan optimal dan berkelanjutan. Melalui pendekatan tersebut, kami berupaya memastikan setiap proyek memiliki tingkat kesiapan yang semakin tinggi sebelum memasuki tahap investasi maupun tahap eksekusi proyek,” ujarnya. nti

Pos terkait