
PROBOLINGGO (wartadigital.id) — Di tengah meningkatnya tekanan global terhadap sektor pariwisata untuk berbenah dari dampak lingkungan, Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga menghadirkan ruang diskusi yang tepat waktu. Pada hari keempat rangkaian Sustainable Energy and Green Technology Applications (SEGTA) 2026, peserta dari berbagai negara berkumpul di Probolinggo, Minggu (2/8/2026) untuk membahas satu pertanyaan yang semakin mendesak: bagaimana sebuah destinasi wisata bisa tumbuh tanpa mengorbankan lingkungan yang membuatnya layak dikunjungi.
Sesi course and discussion kali ini mengangkat tema pengembangan destinasi rendah karbon dan pemanfaatan energi terbarukan dalam pariwisata berkelanjutan, dua isu yang saling terkait dan sama-sama membutuhkan aksi konkret. Kegiatan ini mendukung berbagai Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya SDG 4: Quality Education, SDG 7: Affordable and Clean Energy, SDG 8: Decent Work and Economic Growth, SDG 11: Sustainable Cities and Communities, serta SDG 13: Climate Action.
Sesi pertama dipandu oleh Dr Suhailah selaku moderator dan dibuka oleh Dr Sri Endah Nurhidayati SSos, MSi dari Universitas Airlangga dengan paparan bertajuk “The Concept and Strategy for Developing Low Carbon Destinations Towards a Green Global Agenda.” Dr Sri Endah membuka dengan data yang tidak bisa diabaikan: sektor transportasi menyumbang 49% dari jejak karbon pariwisata global, sementara food loss and waste di Indonesia telah mencapai 115–184 kg per kapita per tahun atau setara dengan 23–44 juta ton sampah makanan setiap tahunnya. Belum lagi fenomena overtourism yang mulai menggerogoti daya dukung destinasi ikonik seperti Bali dan Gunung Bromo pada musim puncak.
Dalam paparannya, ia mendefinisikan low carbon destination bukan sekadar destinasi “ramah lingkungan” dalam pengertian umum, melainkan kawasan wisata yang secara terencana meminimalkan emisi karbon sambil memastikan kelestarian ekosistem alam dan warisan budaya lokal. “Konsep ini mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam seluruh dimensi pengembangan pariwisata, mulai dari penggunaan energi, sistem transportasi, standar akomodasi, aktivitas wisata, hingga partisipasi komunitas,” tegasnya, Minggu (2/8/2026).

Strategi yang ia tawarkan mencakup enam pilar yakni tata kelola kebijakan yang beraliansi dengan Paris Agreement dan SDGs melalui pembentukan Destination Management Organization (DMO), infrastruktur dan teknologi berbasis energi terbarukan dan IoT, pengelolaan sampah dan air menuju konsep zero-waste tourism; program carbon offset dengan pendekatan Plan–Reduce–Neutralize, green branding yang memanfaatkan green storytelling dan sertifikasi ekolabel internasional serta pengembangan produk wisata ramah lingkungan mulai dari eco-hotel hingga paket wisata budaya berbasis homestay.
Tidak ketinggalan, Dr. Sri Endah menyoroti pentingnya carbon justice, sebuah konsep akademik yang menekankan perlunya keadilan dalam distribusi beban dan manfaat dari pengurangan karbon, khususnya agar negara berkembang tidak menanggung dampak regulasi iklim global secara tidak proporsional.
Narasumber kedua, Yoga Uta Nugraha ST, MT membawa perspektif yang berbeda namun sama-sama relevan. Alih-alih membahas pariwisata dari sudut daya tarik dan daya saing, ia justru memulai dari kondisi paling ekstrem: ketika bencana meluluhlantakkan sebuah daerah dan akses energi sepenuhnya terputus.
Melalui presentasi bertajuk “Renewable Energy as a Rapid Response: Accelerating Post-Disaster Power Recovery through Sustainable Solutions”, Yoga memaparkan pengalaman langsung Tim Tanggap Darurat Bencana Universitas Airlangga di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, salah satu wilayah yang paling terdampak banjir bandang dan longsor pada 2025. Jembatan putus, sinyal komunikasi hilang, sumber air bersih rusak. “Dalam kondisi seperti itu, energi bukan lagi soal kenyamanan, ia adalah soal keselamatan,” kata Yoga.

Tim FTMM UNAIR merespons dengan merancang Airlangga Solar Shelter and Communication, yakni sebuah unit portabel yang mengintegrasikan panel surya 620 WP, inverter, Starlink, dan sistem filtrasi air bersih. Komponen dirakit di Surabaya, dikirim via kargo udara Bandara Juanda, diterima di Padang, lalu diangkut ke lokasi bencana di Jorong Limo Badak, yang aksesnya hanya bisa ditempuh dengan sepeda motor atau jalan kaki sejauh 1 km dari jalur utama, dan 3 km dari jembatan yang runtuh. Panel surya dan inverter bahkan harus diangkat secara gotong royong bersama warga.
Yang terpasang akhirnya adalah 6 panel surya (6 × 620 WP) di atap Masjid Nurul Falah, 3 titik Starlink, sistem filtrasi air bersih, serta penampungan air sanitasi, semuanya berada di kompleks masjid yang menjadi pusat kehidupan komunitas. Setelah instalasi selesai, tim memberikan pelatihan pengoperasian sistem PLTS dan perawatan panel surya kepada warga, sebelum secara resmi menyerahkan seluruh peralatan kepada Kepala Jorong Limo Badak, Zuriyo.
Di luar konteks bencana, Yoga juga memaparkan aplikasi serupa di destinasi wisata yakni instalasi panel surya di Pantai Ngiroboyo Pacitan, solar dryer untuk UMKM di Mojokerto hingga Airlangga Solar Shelter di Desa Pengudang, Batam. Pesan yang ia sampaikan konsisten, bahwasanya energi terbarukan bukan sekadar pilihan yang lebih bersih, ia adalah infrastruktur yang menentukan ketangguhan sebuah destinasi, baik di tengah krisis maupun dalam kondisi normal.
Sesi diskusi berlangsung dengan antusias. Peserta internasional tidak hanya menyimak, tetapi aktif berbagi pengalaman dari negara masing-masing, mulai dari keberhasilan yang sudah terukur hingga tantangan implementasi yang masih dihadapi di lapangan. Forum ini membuktikan bahwa solusi terbaik sering kali lahir bukan dari teori semata, melainkan dari percakapan jujur antar praktisi yang benar-benar ada di lapangan. Melalui rangkaian kegiatan ini, FTMM Universitas Airlangga menegaskan posisinya sebagai institusi yang tidak hanya menghasilkan lulusan berkualitas, tetapi juga berkontribusi aktif dalam merumuskan solusi nyata terhadap tantangan global. nti





