Soft Launching Antologi Puisi Surabaya Post “Setelah Tanpa Deadline”: Gayeng!

Mereka yang hadir dalam soft launching dan halal bihalal berfoto bersama

SURABAYA (wartadigital.id) – Halal bihalal sekaligus soft launching antologi atau kumpulan puisi dan geguritan Setelah Tanpa Deadline di Kafe Omah Lawas, Jl Taman Putro Agung No 6, Rangkah, Surabaya, Jumat (18/4/2025) sore, berlangsung gayeng.

Karya-karya puisi dan geguritan yang ditulis wartawan mantan Surabaya Post itu seolah menunjukkan bahwa wartawan pun bisa berpuisi. Wartawan pun bisa berkarya dan bersastra dengan apik, walau ada yang “dipaksa” untuk menciptakannya secara dadakan.

Bacaan Lainnya

Toh setidaknya ada 39 personal yang unjuk karya dengan total 305 buah karya, baik yang dikoleksi dari mereka yang sudah tiada atau almarhum maupun karya-karya yang benar-benar lihai di jalurnya hingga yang hanya dadakan alias terpaksa.

Dalam buku antologi setebal 307 halaman itu diawali dengan bagian 1 yang memuat tiga karya almarhum A Azis, yang merupakan pendiri dan pemimpin umum Harian Sore Surabaya Post. Ada tiga judul yakni Djandji, Djiwa Moeda dan Bersatoelah!

Kemudian berturut-turut setiap penulis termuat di tiap bagian hingga total ada 39 bagian, yang masing-masing maksimal enam karya dan minimal dua karya puisi.

Dalam soft launching Jumat sore itu, juga dibacakan puisi karya Zainal Arifin MK yang berjudul Alasanku Menangis. Kemudian Heti Palestina, salah satu putri almarhum RM Yunani Prawiranegara, budayawan yang juga mantan wartawan senior Surabaya Post. Heti membaca puisi berjudul Tenggat. Dilanjutkan dengan puisi Setelah Berjuang.

Project Officer Imung Mulyanto melantunkan lagu

Setelahnya, secara bergiliran mereka satu persatu ke depan untuk beraksi membacakan puisi. Termasuk puisi dalam bahasa Jawa atau geguritan. Ada pula yang bisa menulis puisi tetapi tidak berani membacakan di depan umum. Sebagai gantinya, dia menyanyi dengan iringan gitar tunggal Arul Lamandau.

Project Officer Antologi Puisi Surabaya Post “Setelah Tanpa Deadline”, Imung Mulyanto, saat menyampaikan kata sambutan tak kuasa menahan air mata. Ia terharu, karena wartawan dan jajaran lainnya mantan Surabaya Post masih bisa terus berkumpul dalam berbagai acara dan kesempatan.

Ketika ditanya soal judul antologi Setelah Tanpa Deadline, Imung menyatakan, awalnya Jil Kalaran, salah satu wartawan senior memberikan judul Deadline. Dalam perkembangannya, M. Anis, wartawan senior lainnya, menyatakan, saat ini sudah tidak dikejar deadline lagi.

“Mas Anis mengusulkan judul Setelah Tanpa Deadline. Cukup lama dalam perjalanan antara saya, Jil dan Mas Anis untuk menentukan itu. Akhirnya kita sepakat dengan judul Setelah Tanpa Deadline. Itu sangat pas dengan kondisi kita,” tutur Imung.

Lurahe Ex-SP Mang Bes juga berpuisi ria

Ke depan, sedang dirancang grand launching antologi puisi Setelah Tanpa Deadline itu dalam sebuah pergelaran yang megah. Tentu diperlukan dukungan semua pihak, selain dari internal eks-Surabaya Post. Bisa saja melibatkan instansi lain atau perusahaan, atau komunitas yang ada di masyarakat.

Saat hal itu ditawarkan ke forum halal bihalal dan soft launching kemarin sore, mendapat respons positif. Mereka bersemangat untuk bisa menggelar tribute Surabaya Post yang lebih megah dan berkesan. “Mudah-mudahan bisa terlaksana, karena kami melihat potensi rekan-rekan dan semangatnya yang luar biasa,” lanjutnya.

Halal bihalal dan soft launching antologi puisi Setelah Tanpa Deadline pun diakhiri dengan foto -foto dan nyanyi bersama. “Terimakasih kawan-kawan semua, terkhusus terimakasih pada Mbak Nunung Harso, yang menyediakan tempat untuk kami,” ujarnya. edt

 

Pos terkait