
SURABAYA (wartadigital.id) – Tempe adalah makanan bergizi yang banyak digemari masyarakat. Beragam jenis tempe dari bahan kedelai, kacang, lamtoro atau lainnya yang juga dikemas dalam aneka bentuk yang unik dan menarik.
Salah satu yang menarik adalah tempe bungkus pelepah pisang khas Pacitan atau yang dikenal dengan nama tempe debog. Itu merupakan salah satu kuliner tradisional asli dari daerah Lorok, Kecamatan Ngadirojo, Pacitan.
Nah, keberadaan tempe debog di sela-sela reuni Dewaseta 1983 yang digelar di Dusun Miren, Desa Sidoharjo, Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, Minggu (25/10/2026), karena salah satu peserta reuni dari Pacitan membawanya untuk oleh-oleh.
Adalah Nanik Kenjanarti, alumnus Dewaseta 1983, yang ingin berbagi tempe debog kepada rekan-rekannya. Bentuknya unik seperti debog untuk menancapkan wayang, tetapi dalam ukuran kecil. Kedelai yang sudah difermentasi ditaruh di tengah dan dijepit pelepah pisang. Kedua sisinya juga ditutup debog kecil.

Nanik lantas bercerita bahwa tempe debog itu asal dari wilayah Pacitan bagian timur, termasuk Lorok.
Daerah tersebut dikenal dengan budidaya pisang. Selain buahnya bisa dikonsumsi langsung, juga dibuat olahan dari pisang, di antaranya, criping pisang, pisang goreng, sale dan lain-lain.
“Nah, pohon yang sudah ditebang, dipakai untuk pembungkus tempe, jadi debog atau pohon pisangnya tidak menebang pohon yang belum dipetik buahnya, tapi yang sudah dipangkas buahnya. Jadi itu pemanfaatan limbahnya saja. Daerah tersebut memang sangat dikenal dengan olahan pisang tradisional yang telah menyebar ke seluruh Nusantara,” kata Nanik.
Tempe debog yang menjadi salah satu oleh-oleh reuni Dewaseta memang sempat ramai diperbincangkan di grup WhatsApp Dewaseta. Bahkan hingga berita ini ditulis.
“Saya belum pernah tahu yang seperti itu. Bentuknya unik. Biasanya tempe ‘kan dibungkus pakai daun jati, daun pisang, atau plastik. Seperti yang pernah saya tahu di Bojonegoro, dibungkus dengan daun jati atau daun pisang,” ujar Endah Lestari alumnus Dewaseta asli Bojonegoro yang kini menetap di Lamongan itu.

Kata Endah, di Bojonegoro dulu juga ada tempe yang diwadahi gedebok, tetapi tidak penuh seperti tempe debog Pacitan. Pelepah pisang satu lembar untuk menutup kedele yang sudah difermentasi kemudian pembungkus luarnya ditutup daun jati atau daun pisang.
Menurut Nanik, kalau di Lorok hanya pakai debog itu, yang lain belum pernah dijumpainya. “Kalau di Pacitan kota dan Punung, dibungkus dengan lapisan dalam dari pelepah pisang, sedangkan luarnya pakai kertas,” lanjutnya.
Lain halnya Sulistyowati, yang menyebut di Malang juga ada tempe khas, namanya tempe kacang, yang cara menggorengnya ditaburi tepung. “Makannya dengan petis plus lalap lombok ijo. Pokoknya mantap dah ! Atau biasanya dimasak sayur pedas. Daerah lain belum ada, sepanjang pengetahuan saya lho,” kata Lis Nyatis–sapaan akrab Sulistyowati.
Akan halnya tempe debog dari Lorok tersebut tidak dibungkus dengan daun pisang biasa–seperti lazimnya–ataupun plastik, melainkan menggunakan gedebok atau pelepah batang pisang bagian dalam yang berwarna putih kemerahan.

Tidak semua batang pisang bisa dijadikan pembungkus, namun hanya batang pohon pisang tertentu yang sudah pernah berbuah yang dipilih karena ukurannya besar dan tidak terlalu banyak mengandung air.
Seperti diketahui, sifat alami pelepah pisang yang dingin dan memiliki rongga sirkulasi udara membantu menjaga kelembaban optimal serta mempercepat proses fermentasi.
Tentu saja dari sisi ketahanan, bungkus pelepah pisang membuat tempe lebih awet, tidak mudah busuk, serta menghasilkan aroma dan rasa gurih yang khas saat dimakan.
Dari berbagai info yang diperoleh, kuliner tradisional ini boleh dikatakan ramah di kantong. Biasanya dijual dengan harga ribuan rupiah. Bahkan peminat tempe bisa pula memperoleh dan menemukannya secara daring atau online.
Yang jelas, tempe debog khas Pacitan yang masuk dalam kemasan oleh-oleh reuni Dewaseta 1983 menarik menjadi perbincangan di grup WhatsApp Dewaseta. Bahkan ada yang minta resep untuk dijadikan sambal tumpang dan lainnya.
“Terima kasih untuk semuanya, peyeknya mantap, kerupuk pulinya digoreng tanbah berkembang dan lebar. Sedangkan tempe debognya belum saya buka, tapi malah dijadikan alat bantu olahraga (maksudnya semacam barbel). Sekali lagi terima kasih,” kata Dyah Tri Retnowati yang asal Tulungagung. edt

