
Sejumlah gedung hancur akibat pertempuran di Mariupol.
MARIUPOL (wartadigital.id) – Pasukan Rusia telah sepenuhnya merebut kota pelabuhan utama Mariupol di Laut Hitam. Pernyataan resmi itu diungkapkan Menteri Pertahanan Sergey Shoigu kepada Presiden Rusia Vladimir Putin, Kamis (21/4/2022).
Meski demikian, lebih dari 2.000 “militan” Ukraina masih bercokol di pabrik baja Azovstal di kota itu. Shoigu menjelaskan, ketika Mariupol dikepung pada awal Maret, sekitar 8.100 tentara Ukraina, tentara bayaran asing, dan militan nasionalis, termasuk anggota Batalyon Azov yang terkenal kejam, tetap berada di dalam kota itu. “Lebih dari 1.400 gerilyawan telah meletakkan senjata mereka,” ungkap Shoigu, dilansir RT.com.
Dia menambahkan lebih dari 142.000 warga sipil juga telah dievakuasi dari kota yang telah dikepung selama berminggu-minggu itu. “Pasukan Rusia dan milisi dari republik Donbass akan membutuhkan antara tiga dan empat hari untuk merebut pabrik baja Azovstal,” ujar Shoigu.
Rusia telah dua kali berusaha membangun koridor kemanusiaan bagi mereka yang ingin meninggalkan pabrik baja itu dalam beberapa hari terakhir, tetapi kedua upaya itu gagal.
Pasukan Ukraina pembela terakhir kota Mariupol yang hancur menolak untuk menyerah pada militer Rusia. Namun, mereka meminta jaminan dari para pemimpin dunia.
Mariupol telah dikepung sejak invasi dimulai 24 Februari telah di ambang diambil alih total kendalinya oleh pasukan Rusia. Kota pelabuhan Ukraina itu dilanda penembakan yang nyaris tanpa henti, yang memaksa sebagian besar dari 450.000 penduduknya mengungsi. Kemarin, Moskow mengeluarkan seruan lain agar para pembela kota itu menyerah.
Tetapi ultimatum itu berlalu dan pasukan Ukraina tetap menolak menyerah, bersembunyi di pabrik baja Azovstal yang luas. Menurut seorang penasihat walikota setempat, pabrik itu juga tempat perlindungan bagi sekitar 2.000 warga sipil. Namun, jumlah pasti orang yang berlindung di sana belum bisa diverifikasi. Seorang komandan Ukraina di pabrik itu mengeluarkan permohonan bantuan yang putus asa kemarin, menuduh Rusia gagal memenuhi janji untuk mengizinkan warga sipil keluar kota dengan aman. “Saya ingin menyerukan kepada semua (pemimpin) dunia beradab untuk bergabung dengan jaminan keamanan,” kata Wakil Komandan Resimen Azov sayap kanan, Kapten Sviatoslav Palamar, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip AFP, Kamis (21/4/2022).
Tetapi koridor kemanusiaan diduga telah dibuka kembali, di mana pihak berwenang Ukraina melaporkan hari ini bahwa empat bus telah meninggalkan Mariupol.
Mariupol telah menjadi simbol perlawanan sengit Ukraina yang tak terduga sejak pasukan Rusia menginvasi negara pecahan Soviet itu pada 24 Februari. Merebut Mariupol akan memberi Rusia jembatan darat antara semenanjung Crimea—wilayah yang melepaskan diri dari Ukraina dan bergabung dengan Rusia pada 2014— dan dua wilayah yang dikuasai separatis pro-Moskow di timur Ukraina.
Zelensky mengatakan negaranya masih tidak memiliki cukup senjata untuk melawan invasi Rusia, meskipun banyak bantuan militer dari sekutu Barat sudah mengalir ke Kiev. sin, ins