Jangan Remehkan Benjolan di Payudara, Segera Periksa ke Dokter

Breast Surgeon RS Onkologi Surabaya dr Bob Joctovianus dalam acara Pink Movie & Talk with RS Onkologi di Double Tree by Hilton Surabaya, Selasa (11/10/2022).

 

SURABAYA (wartadigital.id) – Ini peringatan bagi para wanita. Saat merasakan ada benjolan di payudara, sebaiknya segera periksa ke dokter.  Dengan pemeriksaan tepat akan diketahui secara dini apakah benjolan itu berbahaya atau tidak. Jika berpotensi menjadi kanker payudara juga bisa lebih cepat disembuhkan.

Bacaan Lainnya

Pemeriksaan dini ini penting, mengingat problem terbesar penanganan payudara  adalah terlambatnya  penderita datang berobat ke rumah sakit. Bahkan di Indonesia  lebih dari 70% kasus kanker payudara datang terlambat (stadium III dan IV).  Dan hingga kini kasus kanker payudara di Indonesia cukup tinggi. Mencapai 21,5 pada setiap 100.000 wanita. Tingginya angka kasus kanker di Tanah Air patut diwaspadai karena kasus ini juga memiliki kasus kematian yang cukup tinggi.

“Rata-rata mereka tidak merasakan sakit meski awalnya ada benjolan di payudara. Jadi kurang mendapat perhatian. Dan datang ke rumah sakit saat kondisi terlambat, berada di stadium III dan IV dengan diameter sel kanker lebih 2 cm, punya kemampuan menyebar tinggi, ” kata Breast Surgeon RS Onkologi Surabaya dr  Bob J Octovianus dalam acara Pink Movie & Talk with RS Onkologi  di Double Tree by Hilton Surabaya, Selasa (11/10/2022).

Belum lagi ditambah mereka kerap mengabaikan munculnya benjolan karena merasa di keluarganya tidak ada riwayat kena penyakit kanker payudara. Padahal faktanya pasien dengan riwayat kanker keluarga hanya 10-15%, selebihnya karena terjadi sporadis dan faktor lingkungan termasuk gaya hidup.

Dijelaskan dr Bob, kalau benjolan di payudara segera diperiksa ke dokter, akan diketahui apakah benjolan itu punya kemampuan menembus ke tempat lain dan melakukan penyebaran atau tidak, benjolan itu cair atau padat. Atau sebaliknya benjolan itu tidak berbahaya atau muncul karena faktor hormonal. Jika berpotensi kanker, dokter akan memastikan dengan melakukan biopsi jaringan untuk mengetahui secara pasti ganas tidaknya sel kanker. Dan terakhir dokter akan melakukan penentuan diagnosa untuk mengambil tindakan operasi.

“Jadi tidak semua benjolan di payudara itu berbahaya. Dokter akan menentukannya melewati serangkaian pemeriksaan mulai USG hingga skrining mamografi. Sebelum melakukan serangkaian pemeriksaan, dokter tak akan mengambil tindakan operasi. Jika sejak dini ditemukan adanya sel kanker, kanker payudara dapat disembuhkan,” katanya.

Dijelaskan dr Bob, 70% kanker payudara dipengaruhi oleh hormon  estrogen. Selain faktor gaya  hidup mulai kurangnya aktivitas fisik, tingginya kandungan lemak dalam tubuh (obesitas), stres hingga kurangan asupan vitamin D yang kaya manfaat untuk mencegah kanker. Wanita yang menstruasi lebih awal dan lambat menopause berisiko kena kanker payudara. Demikian halnya wanita yang tidak pernah hamil, tidak memiliki anak dan tidak pernah menyusui.

“Semakin lama wanita terpapar estrogen, risiko kena penyakit kanker payudara makin besar. Saat dia hamil, menyusui, paparan estrogen semacam ada diskon, menjadi berkurang sehingga risiko kena kanker payudara juga berkurang,” katanya.

Dalam talkshow kemarin juga menghadirkan Nisya Lina (38), pasien kanker payudara yang berhasil sembuh. Nisya menceritakan tujuh tahun lalu saat dia baru memiliki 1 buah hati, merasakan ada benjolan di payudaranya. Sebelum ke RS Onkologi, dia sempat periksa ke salah satu dokter di Surabaya. Dia dideteksi kena kanker payudara dan harus segera operasi.  Namun dia belum memutuskan, masih menimbang-nimbang dulu hingga 3 bulan. Dia akhirnya tergerak periksa ke RS Onkologi setelah dokter yang hendak ditemui di Graha Amerta keluar negeri. Melalui prosedur USG hingga mamografi, diagnosa di RS Onkologi sama. Dia kena kanker payudara stadium IIIA dan harus segera operasi. “Setelah mendapat dukungan suami dan keluarga dan menguatkan hati saya,  saya putuskan untuk operasi. Saya tidak mau kankernya makin menyebar,” katanya.

Sebulan setelah operasi, dia menjalani kemoterapi. “Jangan ditanya sakitnya. Saya melalui semua itu karena ingin sembuh, saya ingin melihat anak saya tumbuh. Saya ada keluarga yang harus saya dampingi, ” katanya.
Kuatnya semangat untuk sembuh ini mempercepat pemulihan Nisya pasca kemoterapi.  Dia selalu lahap makan. “Dokter menyarankan saya makan apa saja, habis kemoterapi bisa makan lahap itu sesuatu yang luar biasa. Sebagian penderita kanker  habis kemoterapi sulit makan, mual, muntah, diare. Alhamdulillah saya tidak mengalami itu,” katanya.

Setelah kemoterapi selesai dan sudah tidak ada sel kanker di tubuhnya, dia melakukan rekonstruksi untuk pemulihan bentuk payudara. Kondisi ini membuatnya makin percaya diri. Bahkan dia diperbolehkan untuk hamil anak kedua setelah dua tahun usai kemoterapi. “Bahkan saat ini saya berencana nambah anak lagi, semoga dimudahkan semuanya,” katanya.

Nisya juga menjalani hidup sehat pasca operasi dan kemoterapi. Tidak stres. Makan makanan sehat, olahraga. Saat kemoterapi dia juga rutin minum obat-obatan yang diberikan dokter. Dan dia berharap sel kanker tidak menghampirinya lagi. Apa yang dialami Nisya mematahkan mitos jika kanker payudara tidak bisa disembuhkan. nti