Pasar Krempyeng di Wilayah Magetan, Potret Perputaran Ekonomi Skala Desa

Suasana Pasar Wagen yang ada di kawasan Tebon, Barat, Kabupaten Magetan, dengan aneka macam dagangan.

 

MAGETAN (wartadigital.id) – Perekonomian desa kadangkala dipandang sebelah mata. Ada yang menilai susah hidup di desa dengan segala pernik-pernik yang menyertai. Namun jangan sepelekan  mereka yang ulet dan bertipe pekerja keras.

Bacaan Lainnya

Orang-orang ulet itulah yang mampu bertahan dan eksis dalam kehidupan perekonomian desa. Ekonomi mereka bisa bagus dan mapan bila diimbangi kerja keras, kerja cerdas walau dengan lingkup yang terbatas.

Jumat (8/3/2024) pagi di kawasan Tebon, Desa Barat, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan, ada sebuah pasar krempyeng di kawasan jalan depan pasar hewan ke utara sepanjang 2 km. Itu merupakan pasar yang muncul setiap lima hari sekali, sesuai hari pasaran.

Kebetulan yang di Tebon itu bertepatan dengan hari pasaran Wage dalam penanggalan Jawa. Jadi wajar pasar krempyeng itu disebut Pasar Wagen, karena ada pas hari pasaran Wage. Posisi jualan di sisi kanan dan kiri jalan.

Kemudian ada juga Pasar Paingan di jalan menuju Barat dari arah Jalan Raya Maospati-Madiun, seberang utara Lanud Iswahyudi, ke arah utara. Keberadaan mereka di tepi kanan dan kiri jalan juga kurang lebih 2 km.

Calon pembeli hilir mudik melihat dagangan yang hendak mereka beli.

Demikian juga di wilayah Gunungan yang masuk Kecamatan Kartoharjo, dan masih berada di wilayah Kabupaten Magetan. Kemungkinan besar pedagangnya juga nyaris tak berbeda, orang-orang yang sama.

Aneka macam dagangan yang diperjualbelikan, seperti sembako yakni beras, minyak, telor, gula, sayur dan buah, daging sapi, ayam dan ikan. Kemudian kebutuhan sandang juga tersedia di sana, dan peralatan dapur maupun rumah tangga lainnya.

“Pokoknya komplet. Apa-apa ada, tinggal pilih saja. Pala pendem seperti ubi, singkong, talas dan lain-lain juga ada. Memang kebanyakan yang jual ya orang-orang itu juga. Mereka muter saja dari pasaran satu ke pasaran yang lain,” kata Darmanto, warga Pelem, Kecamatan Karangrejo, Magetan.

Para pedagang di pasar krempyeng itu seolah tak mengenal lelah. Mereka adalah orang-orang ulet dan pekerja keras. Seperti Abdul, pedagang belimbing madu asal Blitar, yang pada Jumat (8/3/2024) pagi, diserbu para pembeli.

Belimbing madu asal Blitar yang dijual dengan harga Rp 10 ribu dan pembeli mendapatkan 2 kilogram.

 

Bila waktu pasaran bertepatan dengan hari libur atau Minggu, suasananya lebih ramai. Bahkan kendaraan roda dua pun tak jarang kesulitan melintas di sana, apalagi roda empat harus mencari alternatif jalan lain.

Belimbing madu yang dijual Abdul di atas mobil bak terbuka itu memang laris manis. Umumnya belimbing madu dijual perkilo gram Rp 10 ribu atau kurang sedikit. Namun Abdul menjualnya dengan harga Rp 10 ribu namun mendapatkan 2 kg.

Tidak sedikit pembeli yang membeli dalam jumlah banyak. Ada yang 7 kg, 5 kg, dan bahkan lebih. “Iya ini nanti saya jual lagi. Mumpung ini ada harga murah, ya nanti untungnya juga lumayan,” kata ibu salah satu pembeli dalam jumlah banyak itu.

Pedagang lain, Eko asal Ngawi, dagangannya berupa manggis, duku, semangka dan lainnya, juga banyak didatangi pembeli. Namun rata-rata orang memilah dan memilih manggis. “Ini manggis dari Tasikmalaya,” kata Eko yang menjual manggisnya perkilogram Rp 8 ribu, atau 2 kg dengan harga Rp 15 ribu.

Sebenarnya ada juga penjual manggis lain yang memasang harga di atas dagangannya. Ada yang Rp 6 ribu dan ada juga Rp 7 ribu tiap kilogramnya.

Salah satu pembeli, Sri Rahayuningsih, asal Surabaya, terlanjur membeli di lapak Eko, walau tiap 2 kg dari total 4 kg manggis  yang dibelinya, dilebihi beberapa buah. “Saya nggak tahu, karena tidak ditulis harganya, tapi nggak apa-apa, rejekinya dia,” kata Yuyun–sapaan Sri Rahayuningsih.

Pasar krempyeng di wilayah Kabupaten Magetan atau mungkin juga di wilayah kabupaten sekitar, setidaknya memberdayakan perekonomian desa. Sehingga pencanangan program kembali ke desa yang pernah viral di era pemerintahan beberapa waktu lalu, benar-benar dirasakan masyarakat. edt