
Para siswa SMP Nurul Iman melaksanakan pengujian dan perlombaan mobil surya di Pulau Gili Iyang.
SUMENEP (wartadigital.id) – Program Airlangga Community Development Hub (ACDH) 2024 yang ditujukan untuk mendukung Kabupaten Sumenep, khususnya Pulau Gili Iyang, memiliki alasan kuat dalam pengenalan kendaraan listrik kepada siswa SMP.
Gili Iyang dikenal sebagai Pulau Oksigen dengan kualitas udara yang baik. Ini menjadikan pulau tersebut lokasi yang ideal untuk mendemonstrasikan konsep keberlanjutan, di mana teknologi kendaraan listrik yang memanfaatkan energi terbarukan seperti solar panel cocok untuk diterapkan. Hal ini juga memberikan peluang bagi siswa untuk memahami bagaimana daerah mereka bisa menjadi contoh dalam penerapan energi bersih.
Dalam rangka memperkenalkan teknologi ramah lingkungan, para siswa SMP di Gili Iyang, Madura, mendapatkan pengalaman langsung belajar tentang kendaraan listrik dan energi baru terbarukan (EBT). Kegiatan ini diadakan dalam bentuk pelatihan dan praktikum yang menggunakan modul mobil listrik bertenaga solar panel sebagai sumber energi yang dikonversi menjadi listrik.

Siswa SMP Islam Nurul Iman merakit didampingi mahasiswa dan dosen FTMM Unair.
Pelatihan yang dilaksanakan oleh Fakultas Teknologi Maju dan Multidisplin (FTMM) Universitas Airlangga melalui komunitas mahasiswa Electric Vehicle on Study (EV-OS) ini bertujuan memberikan pemahaman kepada generasi muda tentang pentingnya penggunaan energi bersih.
“Di tengah krisis energi global dan tantangan perubahan iklim, EBT sebagai solusi masa depan yang harus dikenalkan sejak dini, “ kata Dosen Prodi Teknik Elektro FTMM Yoga Uta Nugraha ST, MT ditemui di Pondok Oksigen Gili Iyang Sumenep, Minggu (20/10/2024).
Dijelaskan Yoga, modul praktikum yang digunakan dalam kegiatan ini melibatkan penggunaan solar panel untuk menangkap energi matahari, yang kemudian dikonversi menjadi energi listrik. “Energi ini dimanfaatkan untuk menggerakkan mobil listrik dalam skala kecil,” katanya.
Para siswa tidak hanya diajarkan teori tentang cara kerja sistem energi terbarukan, tetapi juga dilibatkan langsung dalam proses perakitan dan pengoperasian mobil listrik tersebut.
Menurut Yoga penggunaan metode praktikum ini sangat efektif dalam membantu siswa memahami konsep yang seringkali sulit dipahami jika hanya melalui penjelasan teori. “Dengan pengalaman langsung ini, siswa bisa melihat sendiri bagaimana energi matahari diubah menjadi energi listrik yang dapat menggerakkan kendaraan,” ujarnya.
Selain memperkenalkan teknologi, kegiatan ini juga bertujuan untuk membangun kesadaran lingkungan di kalangan siswa. Gili Iyang, yang dikenal sebagai Pulau Oksigen karena kualitas udaranya yang baik, diharapkan dapat menjadi contoh penerapan teknologi ramah lingkungan di masa depan. Melalui kegiatan ini, para siswa diharapkan dapat lebih memahami pentingnya EBT dan tertarik untuk mempelajari teknologi ramah lingkungan yang berkelanjutan.
Bahkan di akhir sesi dilakukan perlombaan performa mobil yang sudah dirakit oleh siswa. Berdasarkan hasil penilaian pre-post test menunjukkan bahwa setelah mengikuti kegiatan tersebut siswa menjadi lebih memahami tentang konsep kerja kendaraan listrik dan berbagai macam jenis EBT berikut dengan contoh-contoh yang ada di sekitar mereka.

Koordinator ACHD Gili Iyang sekaligus Wakil Dekan III Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Prof Dr Ir Retna Apsari MSi mengatakan pelatihan yang dilaksanakan ini sebagai salah satu wujud komitmen FTMM dalam mendukung ekosistem kendaraan listrik di Gili Iyang. Diharapkan ke depan konversi energi fosil menjadi energi listrik dapat terwujud di Pulau Gili Iyang. Kegiatan tersebut juga merupakan salah satu perwujudan SDGs 7(Affordable and Clean energy) dan SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure).
“Kolaborasi antara dosen, mahasiswa dan tenaga pendidik sangat solid pada pelatihan tersebut. Dengan audiensi 30 pelajar SMPI Nurul Iman maka diharapkan sejak dini para siswa sudah paham bermanfaatnya limpahan matahari di Gili Iyang, salah satunya untuk menggerakkan kendaraan listrik,” katanya. nti