
WASHINGTON (wartadigital.id) – Amerika Serikat (AS) telah mengerahkan pesawat pembom di Afghanistan dalam perang melawan Taliban ketika kelompok itu terus menambah wilayah yang dikuasainya.
Washington telah mengirim beberapa pesawat pembom B-52 ke wilayah udara Afghanistan untuk pertama kalinya dalam lebih dari setahun.
Dijuluki “stratofortress”, B-52 yang telah diterbangkan Angkatan Udara AS sejak 1950-an adalah salah satu aset utamanya, yang mampu melakukan penghancuran besar-besaran.
Taliban pada Jumat mengklaim menguasai ibukota provinsi pertama sejak penarikan pasukan Barat setelah merebut Zaranj di Provinsi barat daya Nimroz.
Angkatan Udara Afghanistan telah berjuang tanpa adanya dukungan Barat. Afghanistan mengaku kekurangan amunisi, persediaan dan pilot jet tempur, karena “telah habis” untuk misi reguler.
Lebih dari sepertiga armada pemerintah Afghanistan yang terdiri atas 162 pesawat dan helikopter tidak dapat dioperasikan sejak kontraktor AS meninggalkan negara itu. Sumber pertahanan AS mengatakan kepada The Times bahwa pesawat B-52 terbang ke Afghanistan dari pangkalan udara Al-Udeid di Qatar. Pesawat pembom itu menyerang posisi Taliban di sekitar Kandahar, Herat dan Lashkar Gah, tiga kota yang berisiko dikuasai Taliban.
Sumber tersebut mengatakan drone bersenjata dan pesawat AC-130 Spectre yakni pesawat serang ikonik yang terbang rendah penuh dengan meriam berat bergaya howitzer, terbang setidaknya lima misi setiap hari.
Kapal induk USS Ronald Reagan di Laut Arab meluncurkan jet tempur cepat untuk mendukung misi tersebut. Sumber-sumber pertahanan mengatakan Washington memiliki niat melanjutkan serangan udara setelah 31 Agustus, ketika pasukan koalisi yang tersisa diperkirakan meninggalkan Afghanistan.
Rebut Ibukota Provinsi Kedua
Taliban merebut ibukota provinsi kedua yang menjadi basis pendukung seorang panglima perang pemerintah Afghanistan yang terkenal , Sabtu (7/8/2021). Dua ibukota provinsi kini telah dikuasai Taliban hanya dalam waktu kurang dari 24 jam.
Wakil gubernur Kota Sheberghan di Jawzjan mengatakan pasukan dan pejabat pemerintah telah mundur ke bandara di pinggiran kota Afghanistan utara, di mana mereka bersiap membela diri. “Sayangnya kota ini telah jatuh sepenuhnya,” ungkap Wakil Gubernur Jawzjan Qader Malia kepada AFP.
Kota ini adalah rumah bagi panglima perang terkenal Abdul Rashid Dostum, yang baru kembali ke Afghanistan pekan ini dari perawatan medis di Turki. Dia diyakini berada di Kabul. Taliban telah menguasai sebagian besar pedesaan Afghanistan sejak melancarkan serangkaian serangan pada Mei, bertepatan dengan dimulainya penarikan terakhir pasukan asing. “Pada Jumat, Kota Zaranj di Nimroz jatuh ke tangan Taliban tanpa perlawanan,” ungkap wakil gubernurnya.
Zaranj menjadi ibukota provinsi pertama yang direbut pemberontak Taliban. “Ada lebih banyak perlawanan di Sheberghan,” papar beberapa sumber kepada AFP, tetapi seorang pembantu Dostum mengkonfirmasi kota itu telah direbut.
Dostum telah mengawasi salah satu milisi terbesar di utara, yang menciptakan reputasi menakutkan dalam perjuangannya melawan Taliban pada 1990-an.
Dia dan pasukannya dituduh membantai ribuan tahanan perang pemberontak. Kekalahan atau mundurnya para pejuang yang setia pada Dostum akan merusak harapan pemerintah Kabul baru-baru ini bahwa kelompok-kelompok milisi dapat membantu memperkuat militer negara yang kewalahan melawan Taliban.
Wakil Gubernur Nimroz, Roh Gul Khairzad, mengatakan Zaranj telah jatuh “tanpa perlawanan.” Unggahan media sosial menunjukkan Taliban disambut beberapa penduduk kota gurun, yang telah lama memiliki reputasi pelanggaran hukum.
Mereka menunjukkan Humvee militer yang direbut, mobil SUV mewah, dan truk pikap yang melaju kencang di jalan-jalan, mengibarkan bendera putih Taliban ketika penduduk setempat yang kebanyakan pemuda menyemangati Taliban.
“Salah satu hal pertama yang dilakukan pemberontak saat memasuki Zaranj adalah membuka gerbang penjara lokal,” ujar para pejabat, membebaskan tahanan Taliban bersama dengan para penjahat biasa. riz, sin, afp