
SURABAYA (wartadigital.id) – Universitas Airlangga (Unair) menerima kunjungan kerja dari Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kepala BPS beserta jajarannya. Penyambutan kunjungan tersebut berlangsung di Ruang Sidang Pleno, Balai RUA, Lt 4 Kantor Manajemen Kampus MERR-C, Sabtu (12/7/2025). Kunjungan tersebut menjadi penanda adanya sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam mewujudkan pembangunan nasional, sekaligus dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Dalam sambutannya, Prof Madyan memaparkan capaian dan rekognisi global yang Unair terima selama setahun terakhir. “Unair Terus meningkatkan posisi di kancah internasional. Pada pemeringkatan QS WUR, Unair berada pada top 287 dunia. Hal ini mencerminkan pengakuan dan kontribusi global yang terus Unair lakukan melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Lebih lanjut, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) itu juga menyebut bahwa capaian-capaian ini menandakan bahwa Unair telah mencatatkan kontribusi dan dampak yang lebih luas. Terbukti dengan posisi Unair dalam pemeringkatan THE Impact Rankings, di mana Unair menduduki posisi ke-9 dunia dan ke-1 di Asia.
Saat ini, kata Prof Madyan, Unair juga terus berupaya melanjutkan hilirisasi hasil riset hingga ke sektor industri. Dengan demikian, hasil riset-riset Unair dapat lebih meluas dan dapat menjangkau masyarakat.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Prof Dr Ir Rachmat Pambudy MS memberikan apresiasi atas capaian Unair. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) itu juga menyebut bahwa berkolaborasi dengan Unair menjadi jalur yang pas untuk pembangunan nasional. “Saya memiliki gagasan, bagaimana kita membuat kompas dari kampus. Kampus mengarahkan kita, ke mana Indonesia harus melanjutkan pembangunan. Mengapa dulu kita bisa membangun dengan benar? Karena kampus dekat dengan pemerintah,” terangnya.
Senada dengan Prof Rachmat, Kepala BPS Dr Ir Amalia Adininggar Widyasanti MT mengatakan bahwa saat ini pihaknya terus melakukan pendekatan dengan universitas. Salah satu kolaborasi yang BPS lakukan adalah membangun Pojok Statistik di universitas seluruh Indonesia. “Saat ini, sudah ada 166 Pojok Statistik di Indonesia, dan 55 di Jawa Timur. Namun, sayangnya di Unair belum ada, sehingga kami ingin mendorong kolaborasi tersebut di Unair,” ucapnya.
Kerjasama tersebut bertujuan untuk meningkatkan literasi statistik. Selain itu, ia juga ingin mahasiswa dapat mengelola dan memanfaatkan data-data statistik yang dimiliki oleh BPS. “Tidak hanya data di sektor ekonomi, tapi juga sektor lain, seperti statistik peternakan dan industri. Kami ingin data statistik kami ini bermanfaat bagi mahasiswa untuk menghasilkan riset agar lebih baik,” paparnya.
Selanjutnya, ia juga membuka peluang kerjasama akademik dalam bentuk pertukaran mahasiswa dan program double degree. “Kami memiliki sekolah statistik. Nah, nanti bisa kita kerjasama, bisa berupa pertukaran mahasiswa maupun program double degree misalnya,” tegasnya. nti




