
JAKARTA (wartadigital.id) — Ekspor minyak mentah Arab Saudi ke pasar utama Asia diperkirakan menurun pada April 2026 seiring eskalasi konflik di Timur Tengah yang mulai mengganggu stabilitas pasokan global.
Melansir Bloomberg, Kamis (26/3/2026), Saudi Aramco, eksportir minyak terbesar dunia, diproyeksikan hanya mengirim sekitar 40 juta barel minyak ke China bulan depan, lebih rendah dibandingkan realisasi Februari yang mencapai 48 juta barel.
Pengiriman ke India juga diperkirakan mengalami penurunan. Gejolak pasar energi dipicu konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang telah berlangsung hampir 1 bulan. Ketegangan meningkat setelah Teheran menyerang infrastruktur energi regional dan mendorong penutupan signifikan Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital distribusi minyak global menuju Asia.
Penurunan pasokan dari Arab Saudi menegaskan besarnya dampak ekonomi dari konflik tersebut. Negara importir kini dihadapkan pada biaya energi yang lebih tinggi serta kebutuhan mencari sumber alternatif untuk menjaga pasokan domestik. Presiden BlackRock Rob Kapito memperingatkan bahwa pelaku pasar berpotensi meremehkan risiko perang. Menurutnya, dampak konflik dapat menekan pertumbuhan ekonomi sekaligus memicu inflasi, bahkan jika ketegangan mereda dalam waktu dekat.
Sebagai respons terhadap gangguan distribusi melalui Teluk Persia, Saudi Aramco mulai mengalihkan sebagian pasokan melalui jalur pipa ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Namun, kapasitas ekspor Yanbu sekitar 5 juta barel per hari masih di bawah level pengiriman sebelumnya yang mencapai 7,2 juta barel per hari sebelum konflik. Selain itu, minyak yang dialirkan melalui Yanbu terbatas pada jenis Arab Light sehingga fleksibilitas pasokan menjadi lebih terbatas bagi pembeli.
Untuk pasar India, volume ekspor diperkirakan berada di kisaran 23 juta barel pada April, turun dari kisaran 25 juta hingga 28 juta barel pada Februari berdasarkan data pelacakan pengiriman. Arab Saudi sebelumnya juga telah menawarkan opsi kepada pelanggan kontrak jangka panjang untuk menerima pasokan dari Yanbu.
Sementara itu, beberapa kilang di Eropa dilaporkan mengalami pengurangan alokasi, bahkan ada yang tidak menerima pengiriman sama sekali. Di pasar global, harga minyak mentah Brent tercatat menguat sekitar 2% ke atas level 104 dolar AS per barel. Angka tersebut melonjak signifikan dibandingkan posisi sekitar 72 dolar AS per barel sebelum konflik pecah, mencerminkan meningkatnya premi risiko geopolitik di pasar energi. bis
