
SURABAYA (wartadigital.id) – Tim pengabdian masyarakat dari Departemen Anestesiologi dan Reanimasi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) bekerja sama dengan RSUD Dr Soetomo menyelenggarakan pelatihan Basic Life Support (BLS) atau Bantuan Hidup Dasar bagi diaspora Indonesia di Maroko. Kegiatan yang berlangsung di KBRI Rabat pada Selasa (21/4/2026) tersebut bertujuan untuk membekali WNI dengan keterampilan darurat medis yang krusial.
Hadir langsung dalam kegiatan, Duta Besar Republik Indonesia untuk Maroko, Yuyu Sutisna. Tidak hanya membuka acara, tetapi ia juga berpartisipasi aktif dalam sesi pelatihan. Dalam sambutannya, Yuyu memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif yang dinilai strategis bagi keselamatan masyarakat Indonesia di luar negeri.
“Para pemateri merupakan dokter ahli anestesi yang baru saja mengikuti World Congress of Anaesthesiologists ke-19 di Marrakech pada 15–19 April kemarin. Ini adalah kontribusi nyata untuk meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan diaspora kita melalui pengetahuan terkini dan praktik terbaik internasional,” ujar Yuyu Sutisna dalam keterangan resmi yang diterima di Surabaya, Senin (27/4/2026).
Ketua tim pelatihan, Dr dr Anna Surgean Veterini SpAn-TI SubspTI(K) MARS menekankan bahwa kemampuan menyelamatkan nyawa harus dimiliki oleh semua orang. Tidak terbatas pada tenaga medis saja. Mengingat kasus seperti serangan jantung atau kecelakaan dapat terjadi kapan saja, respons cepat dari orang sekitar sangat menentukan keselamatan korban.
“Kasus seperti serangan jantung, tersedak, atau kecelakaan listrik bisa terjadi kapan saja. Kita tidak pernah tahu kapan akan berhadapan dengan situasi tersebut. Karena itu, penting bagi semua orang memiliki pengetahuan dasar ini,” ungkap Dr Anna.
Pelatihan tersebut dirancang secara interaktif dan praktis. Dipandu oleh dua instruktur utama, dr Dyah Saraswati SpAn-TI dan dr Nenden Suliadiana Fajarini SpAn-TI, para peserta mendapatkan materi yang luas. Di antaranya meliputi Teknik Bantuan Hidup Dasar (BLS) dan Resusitasi Jantung Paru (RJP); Penanganan tersedak (choking); Pertolongan pertama pada cedera akibat listrik (electrical injury); Penanganan kondisi lingkungan ekstrem seperti heat stroke dan hipotermia; dan Simulasi penggunaan Automated External Defibrillator (AED), alat pacu jantung otomatis yang kini banyak tersedia di ruang publik.

Antusiasme peserta terlihat sangat tinggi, terutama saat sesi simulasi. Para diaspora Indonesia di Maroko berkesempatan mempraktikkan langsung teknik-teknik penyelamatan di bawah bimbingan langsung para ahli anestesi.
Wujud Pengabdian Internasional
Kegiatan ini mencatatkan sejarah sebagai salah satu pelatihan BLS pertama yang menyasar langsung komunitas diaspora Indonesia di Maroko. Dr. Anna juga memuji dukungan penuh dari pihak KBRI Rabat yang telah memfasilitasi kegiatan ini dengan sangat baik.
“Bapak Duta Besar dan seluruh jajaran KBRI sangat luar biasa. Keterlibatan mereka menjadi motivasi bagi tim. Kegiatan ini adalah bentuk nyata pengabdian masyarakat oleh civitas akademika Universitas Airlangga di tingkat internasional,” tambah Dr Anna.
Melalui pelatihan tersebut, harapannya diaspora Indonesia di Maroko tidak hanya memiliki keterampilan teknis. Tetapi juga membangun kepedulian sosial untuk menjadi garda terdepan dalam memberikan pertolongan pertama. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mempertegas peran tenaga medis Indonesia dalam kontribusi kesehatan global. nti




