
JAKARTA (wartadigital.id) — Neraca Perdagangan Indonesia mencatatkan surplus sebesar 3,32 miliar dolar AS per Maret 2026. Dengan demikian, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan selama 71 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Capaian tersebut lebih tinggi dari surplus neraca dagang Indonesia pada Februari 2026 yang senilai 1,27 miliar dolar AS. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan bahwa Indonesia mencatatkan ekspor Maret 2026 mencapai 22,53 miliar dolar AS atau naik 3,10% dibandingkan Maret 2025 (year on year/YoY).
Nilai ekspor migas tercatat sebesar 1,28 miliar dolar AS atau turun 11,84%, sedangkan nilai ekspor nonmigas turun 2,52% dengan nilai pada Maret 2026 sebesar 21,25 miliar dolar AS. Ateng menyebut penurunan nilai ekspor Maret 2026 terutama didorong oleh ekspor nonmigas dari beberapa komoditas yaitu lemak/minyak nabati (HS 15) turun sebesar 27,02%, kakao dan olahannya (HS18) turun 50,89%, kopi/teh dan rempah-rempah (HS 0,9),turun 54,69%.
Adapun, nilai impor Maret 2026 mencapai 19,21 miliar atau naik 1,51% dibandingkan Maret 2025 (year on year/yoy). Nilai impor migas Maret 2026 mencapai 3,17 miliar dolar AS atau naik 1,34% secara yoy, sedangkan nilai impor nonmigas Maret 2026 mencapai 16,04 miliar dolar AS atau naik 1,54% secara yoy.
Ateng menyebut peningkatan impor Maret 2026 ini didorong oleh impor non migas dengan andil 1,29%. “Pada Maret 2026, neraca perdagangan barang tercatat surplus sebesar 3,32 miliar dolar AS. Neraca perdagangan Indonesia dengan ini telah mencatat surplus selama 71 bulan berturut turut sejak Mei 2020,” kata Ateng pada Senin (4/5/2026).
Surplus pada Maret 2026 lebih ditopang pada surplus komoditas non migas yaitu sebesar 5,21 miliar dolar AS dengan komoditas penyumbang surplus utama lemak dan minyak hewani nabati, kemudian bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Sebelumnya, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David Sumual memproyeksikan neraca dagang Maret 2026 akan membukukan surplus hingga 2,34 miliar dolar AS. David memprakirakan surplus ini dihasilkan dari kinerja ekspor yang terkontraksi 1,38% secara tahunan (yoy) namun tumbuh 3,43% secara bulanan (mom). Di sisi lain, impor meningkat pesat 8,79% (yoy) dan terkontraksi 1,48% (mom). “Surplus dagang diprediksi menguat, meski terms of trade mengecil karena harga komoditas impor lebih cepat naik daripada komoditas ekspor,” terang David.
Proyeksi tersebut, lanjutnya, terindikasi dari data sejumlah negara yang melaporkan peningkatan impor terhadap komoditas dari Indonesia oleh sejumlah negara. Utamanya yakni impor Thailand, Singapura dan China terhadap komoditas Indonesia yang lebih tinggi dibandingkan Februari 2026.
Senada, Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Andry Asmoro juga memperkirakan Indonesia masih mencatatkan surplus perdagangan. Namun, dia memprakirakan surplus akan lebih besar yakni 2,5 miliar dolar AS pada Maret 2026. Andry menyebut kenaikan ini ditopang oleh kenaikan harga komoditas seperti nikel dan produk energi sekaligus permintaan kuat dari China dan India. “Meski demikian, kenaikan ekspor CPO bisa jadi lebih terbatas seiring dengan pelemahan volume pengapalan secara tajam di Maret,” terangnya.
Andry meramal ekspor terkontraksi secara tahunan dan meningkat secara bulanan masing-masing sebesar -1,5% (yoy) dan 3,3% (mom) ke 22,9 miliar dolar AS. Demikian juga impor, yang diprakirakan meningkat hingga 8% (yoy) namun terkontraksi 2,2% (mom) ke 20,4 miliar dolar AS. Harga sejumlah komoditas dan produk naik masing-masing 6,2% (yoy) untuk nikel, 10% (yoy) untuk baja, dan 5,5% (yoy) untuk minyak sawit mentah (CPO).
Namun demikian, ekspor CPO tercatat anjlok 45,9% (mom) ke 1,28 juta ton dari 2,37 juta ton pada Februari 2026 berdasarkan Intertek Testing Services. Dari sisi negara tujuan, pengiriman ekspor ke China tetap diprakirakan menjadi kontributor terbesar dengan pertumbuhan 40,9% (mom) dan 76,2% (yoy). “Utamanya ekspor produk mineral ke China menanjak 250% (yoy) sedangkan baja naik 22% (yoy),” terang Andry. bis





