
JAKARTA (wartadigital.id) -Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah pada perdagangan Selasa (12/5/2026) di tengah tekanan terhadap mata uang domestik.
Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup turun 115 poin atau 0,66 persen ke level Rp 17.529 per dolar AS.
Pelemahan ini melanjutkan tren negatif setelah mata uang Garuda sempat menyentuh Rp 17.535 per dolar AS, level terlemah sepanjang sejarah.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah dalam 12 tahun terakhir menunjukkan persoalan serius yang belum terselesaikan.
Ia mengatakan, selama ini pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terus menggunakan narasi bahwa rupiah berada di bawah nilai wajarnya atau undervalued dalam berbagai situasi, mulai dari gejolak geopolitik, pandemi, hingga saat pasar relatif stabil. “Narasi tersebut ya terus berulang dikatakan ya di berbagai situasi,” kata Ibrahim dalam keterangannya.
Namun menurut Ibrahim, narasi tersebut patut dipertanyakan karena tren jangka panjang rupiah justru terus mengalami pelemahan dari Rp 12.000 per dolar AS pada 2014 lalu menjadi Rp 17.500 saat ini.
Untuk itu, ia tidak menutup kemungkinan rupiah akan semakin terperosok ke Rp 22.000 per dolar AS. “Sebagai ekonom saya mempertanyakan relevansi narasi undervalued itu, karena tren jangka panjang rupiah kemungkinan masih akan melemah, bahkan bisa menuju Rp 22.000 per dolar AS,” ujarnya.
Ia mendorong pemerintah dan BI melakukan evaluasi lebih mendalam terkait penggunaan istilah undervalued dalam komunikasi ekonomi.
Menurutnya, istilah tersebut kini cenderung bergeser fungsi, dari analisis ekonomi menjadi alat komunikasi untuk meredam kepanikan pasar. Sementara itu, sampai berita ini diturunkan BI masih belum buka suara soal kondisi rupiah yang terus terpuruk. rmo





