Arumi Bachsin Ajak Generasi Muda Berani Speak Up Lawan KDRT

Talkshow mental health bersama film “Suamiku Lukaku” di Universitas Hayam Wuruk Perbanas Surabaya, Senin (18/5/2026).

SURABAYA (wartadigital.id) – Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Timur Arumi Bachsin Emil Dardak mengajak generasi muda untuk semakin peduli terhadap kesehatan mental sekaligus berani speak up melawan segala bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Hal tersebut disampaikan Arumi saat menjadi narasumber dalam talkshow mental health bersama film “Suamiku Lukaku” di Universitas Hayam Wuruk Perbanas Surabaya, Senin (18/5/2026).

Bacaan Lainnya

Talkshow tersebut juga menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Ayu Azhari, Tri Rismaharini, serta psikolog yang turut memberikan perspektif mengenai kesehatan mental, relasi sehat, dan pentingnya keberanian korban untuk mencari pertolongan.

Dalam kesempatan tersebut, Arumi menyampaikan bahwa film “Suamiku Lukaku” menghadirkan realitas kelam tentang KDRT yang masih banyak terjadi di tengah masyarakat. Film tersebut, lanjutnya, memberikan pesan moral yang kuat agar korban memiliki keberanian untuk speak up, mencari pertolongan, dan keluar dari lingkaran kekerasan.

“Film ini mengingatkan kita bahwa kekerasan dalam rumah tangga tidak boleh dianggap normal. Tidak ada cinta yang dibenarkan lewat kekerasan. Korban harus tahu bahwa mereka tidak sendiri dan berhak mendapatkan perlindungan serta kehidupan yang aman,” ujar Arumi.

Ia menegaskan bahwa menghargai pasangan bukan hanya tentang cinta, tetapi juga tentang rasa hormat, empati, dan perlakuan yang manusiawi. Karena itu, segala bentuk kekerasan, baik fisik maupun psikis, tidak boleh ditoleransi dalam hubungan rumah tangga.

Menurut Arumi, salah satu pesan penting yang diangkat dalam film tersebut adalah pentingnya komunikasi yang sehat dalam sebuah hubungan. Komunikasi menjadi kunci untuk membangun saling pengertian serta membuka ruang solusi dalam setiap persoalan rumah tangga maupun relasi sosial. “Ketika komunikasi dibangun dengan baik, maka setiap persoalan bisa dicari jalan keluarnya bersama. Sebaliknya, ketika komunikasi tertutup, emosi dipendam, dan tidak ada ruang saling mendengar, konflik bisa berkembang menjadi hubungan yang tidak sehat,” katanya.

Arumi menambahkan, komunikasi yang sehat bukan hanya soal berbicara, tetapi juga tentang kemampuan mendengar, memahami sudut pandang pasangan, serta menyampaikan perasaan tanpa menyakiti satu sama lain.

Selain itu, film tersebut juga mengedukasi masyarakat untuk lebih peka mengenali tanda-tanda toxic relationship. Banyak korban, kata dia, sering tidak menyadari bahwa dirinya berada dalam hubungan yang manipulatif, penuh tekanan, hingga perlahan merusak kesehatan mental. “Kadang kekerasan tidak selalu berbentuk fisik. Ada kekerasan verbal, kontrol berlebihan, manipulasi emosional, hingga intimidasi yang perlahan melukai mental seseorang. Ini yang harus kita sadari bersama,” ungkapnya.

Arumi juga menyoroti pentingnya lingkungan yang suportif bagi korban KDRT. Dukungan keluarga, sahabat, komunitas, maupun lingkungan sosial sangat dibutuhkan agar korban memiliki keberanian untuk keluar dari siklus kekerasan dan memulai proses pemulihan. “Sering kali korban memilih diam karena takut, malu, atau merasa tidak punya tempat untuk bercerita. Karena itu kita harus menjadi lingkungan yang hadir, mendengar, dan tidak menghakimi,” tuturnya.

Lebih lanjut, Arumi berharap para orangtua dapat lebih peka dalam mendidik anak, khususnya dalam menjaga suasana rumah yang sehat secara emosional. Menurutnya, pertengkaran orang tua yang diperlihatkan di depan anak dapat berdampak pada kondisi psikologis dan pembentukan karakter anak.

Ia menambahkan bahwa lingkungan keluarga menjadi ruang pertama bagi anak belajar tentang kasih sayang, komunikasi, serta cara menyelesaikan konflik. Oleh sebab itu, orang tua perlu memberikan teladan yang baik agar anak tumbuh dengan rasa aman dan sehat secara mental.

Lebih lanjut, Arumi mengatakan bahwa film “Suamiku Lukaku” juga membuka kesadaran masyarakat mengenai bahaya trauma akibat KDRT. Luka yang ditimbulkan bukan hanya bersifat fisik, tetapi juga meninggalkan dampak psikologis mendalam yang membutuhkan proses penyembuhan panjang.

Trauma tersebut, lanjutnya, dapat memengaruhi rasa percaya diri, relasi sosial, bahkan masa depan korban apabila tidak ditangani dengan baik. Oleh sebab itu, edukasi tentang kesehatan mental dan perlindungan terhadap korban kekerasan perlu terus diperkuat.

Arumi menilai film dapat menjadi media edukasi yang efektif dalam membangun kesadaran publik terhadap isu kesehatan mental dan kekerasan dalam rumah tangga. Melalui cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, masyarakat diajak lebih peka terhadap kondisi orang-orang di sekitar mereka.“Kita ingin generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang berani menyuarakan kebenaran, menghargai sesama, dan menciptakan hubungan yang sehat tanpa kekerasan,” tegasnya.

Talkshow berlangsung hangat dan interaktif dengan antusiasme mahasiswa yang aktif berdiskusi mengenai kesehatan mental, relasi sehat, hingga pentingnya keberanian untuk speak up terhadap kekerasan.

Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kesadaran masyarakat bahwa kesehatan mental dan perlindungan terhadap korban kekerasan merupakan tanggung jawab bersama demi terciptanya lingkungan yang aman, sehat, dan penuh empati. pri

Pos terkait