
SURABAYA (wartadigital.id) – Pemprov Jatim memperkuat kemitraan dengan Pemerintah Australia melalui Program SIAP SIAGA guna meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan memperkuat kapasitas penanggulangan bencana hingga tingkat desa.
“Sebuah desa tidak bisa disebut Desa Tangguh Bencana bila tidak ada relawan terlatih di kecamatan dan desa,” kata Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam keterangan diterima di Surabaya, Rabu (17/6/2026).
Ia mengatakan penguatan kapasitas relawan di tingkat desa dan kecamatan menjadi aspek penting dalam mewujudkan ketangguhan masyarakat menghadapi bencana. Relawan dinilai berperan sebagai garda terdepan dalam mitigasi, tanggap darurat, dan pemulihan pasca-bencana.
Selain itu, Pemprov Jatim mendorong pembentukan Lumbung Sosial di Desa Tangguh Bencana untuk mendukung ketersediaan logistik dan peralatan yang dibutuhkan masyarakat di kawasan rawan bencana.
Dalam pertemuan tersebut, Pemprov Jatim juga menyoroti pengembangan Pesantren Tangguh Bencana (PESTANA) sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan lingkungan pondok pesantren terhadap berbagai potensi bencana.
Saat ini, terdapat 7.425 pondok pesantren di Jawa Timur dengan lebih dari 486 ribu santri dan sekitar 36 ribu tenaga pengajar yang dinilai perlu mendapatkan penguatan kapasitas mitigasi dan kesiapsiagaan bencana. “Pesantren perlu diperkuat juga ketangguhannya dalam menghadapi bencana. Relawan dari pesantren ya dilatih, bagaimana menyiapkan mereka agar menjadi tangguh. Lalu, akan diujicoba di pesantren mana pelatihan itu,” ujar Khofifah.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur Gatot Soebroto mengatakan kapasitas pesantren perlu dipetakan dan dipelajari secara menyeluruh karena santri dan tenaga pengajar tinggal dalam jangka waktu lama di lingkungan pesantren. “Baik santri maupun pengajarnya tinggal menetap dan belajar dalam jangka waktu lama di area pesantren. Mereka berpotensi terdampak bencana,” katanya.
Dia menjelaskan konsep PESTANA dikembangkan dengan pendekatan serupa Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Saat ini, modul kebencanaan dan metode pembelajaran program tersebut masih dalam tahap penyusunan.
Head of Sub-National Programs Program SIAP SIAGA Deswanto Marbun menyampaikan apresiasi atas dukungan dan masukan diberikan Pemprov Jatim terhadap pelaksanaan program kemitraan Indonesia-Australia tersebut.
“Ibu Gubernur memberikan berbagai masukan. Salah satu poin penting yang disampaikan adalah perlunya melibatkan seluruh pemangku kepentingan hingga tingkat kecamatan dan desa agar respons terhadap bencana lebih efektif dan tepat sasaran,” ujarnya.
Program SIAP SIAGA merupakan kemitraan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Australia untuk manajemen risiko bencana yang telah berjalan di Jawa Timur sejak 2020.
Program ini berfokus pada peningkatan kemampuan masyarakat dalam mencegah, mempersiapkan, merespons, dan memulihkan diri dari bencana. Jawa Timur menjadi salah satu daerah prioritas program tersebut karena memiliki 14 jenis risiko bencana yang tersebar di berbagai wilayah.
Bersama BPBD Jatim, Program SIAP SIAGA telah melaksanakan simulasi evakuasi mandiri tsunami di Pantai Bulu, Desa Tegalrejo, Kabupaten Lumajang. Pada awal Juli 2026, program tersebut juga akan menggelar simulasi penanganan erupsi gunung api di Kabupaten Malang.
Pelaksana Tugas Wakil Konsul Jenderal Australia di Surabaya Will Lee mengatakan kerja sama penanganan kebencanaan menjadi salah satu simbol kuat hubungan Indonesia dan Australia.
“Pengalaman itu menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Australia sangat penting,” katanya merujuk keterlibatan personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam membantu penanganan kebakaran hutan besar di New South Wales, Australia pada 2019. pri





