
JAKARTA (wartadigital.id) — Neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit pada Juni 2026 sebesar 450 juta dolar AS. Defisit terjadi karena realisasi impor melampaui ekspor. Kendati demikian, angka defisit neraca perdagangan pada Juni 2026 ini lebih rendah jika dibandingkan pada Mei 2026 yang sebesar 1,61 miliar dolar AS.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan Indonesia mencatatkan ekspor Juni 2026 mencapai 25,46 miliar dolar AS atau naik 8,84% jika dibandingkan Juni 2025 (year on year/YoY). Nilai ekspor migas tercatat sebesar 1,07 miliar dolar AS atau turun 3,78%, sedangkan nilai ekspor nonmigas naik 9,46% dengan nilai pada Juni 2026 sebesar 24,39 miliar dolar AS.
Ateng menyebut kenaikan nilai ekspor Juni 2026 terutama didorong oleh ekspor non migas dari beberapa komoditas yaitu bahan bakar mineral (HS27) naik 49,67%, nikel dan barang daripadanya (HS75) naik 69,30%, lemak minyak hewani/nabati (HS15) naik 10,45%. Adapun, nilai impor Juni 2026 mencapai 25,91 miliar dolar AS atau naik 34,27% dibandingkan Juni 2025 (year on year/yoy). Nilai impor migas Juni 2026 mencapai 4,56 miliar dolar AS atau naik 105,15% secara yoy, sedangkan nilai impor nonmigas Mei 2026 mencapai 21,35 miliar dolar AS atau naik 25,05% secara yoy.
Ateng menyebut peningkatan impor Juni 2026 ini didorong oleh impor non migas dengan andil sebesar 22,17%. “Pada Juni 2026, neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar 0,45 miliar dolar AS. Defisit pada bulan Juni 2026 disebabkan terutama defisit pada komoditas migas, defisitnya sebesar 3,49 miliar dolar AS dengan komoditas utama penyumbang defisitnya yaitu dari hasil minyak dan minyak mentah,” kata Ateng pada Senin, (3/8/2026).
Lebih lanjut, Ateng mengatakan pada saat yang sama neraca perdagangan komoditas non migas tercatat surplus 3,04 miliar dolar AS dengan komoditas penyumbang surplus utama lemak dan minyak hewani nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Sebelumnya, ekonom memproyeksikan neraca perdagangan Indonesia masih akan mencatatkan defisit pada Juni 2026. Kendati membaik dari bulan sebelumnya, pulihnya ekspor belum mengimbangi tingginya kenaikan impor Indonesia dari luar negeri.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede sebelumnya memproyeksikan neraca dagang Juni 2026 masih mencatatkan defisit sekitar 1 miliar dolar AS. “Jadi, peluang untuk kembali surplus tetap ada, tetapi belum menjadi skenario utama,” kata Josua kepada Bisnis, Minggu (2/8/2026). Perbaikan terutama ditopang oleh pemulihan ekspor dan lebih rendahnya harga minyak selama sebagian besar Juni. Dengan begitu, nilai impor migas dapat dikurangi. Sementara itu, ekspor diproyeksikan tumbuh sekitar 1,86% (YoY) atau berbalik dari kontraksi 5,73% (YoY) pada Mei 2026. Ekspor Juni didorong oleh permintaan dari mitra dagang utama yang masih terjaga, sejalan dengan kegiatan manufaktur China, Amerika Serikat, Jepang, dan India dalam zona ekspansi.
Kendati demikian, harga batu bara dan minyak sawit telah lebih normal, sehingga kenaikan volume ekspor belum tentu menghasilkan peningkatan nilai ekspor yang besar. Di sisi lain, impor diperkirakan tumbuh jauh lebih cepat. Kendati ekspor sudah berbalik tumbuh positif, Josua memperkirakan impor Juni 2026 tumbuh lebih tinggi dari bulan sebelumnya yakni menjadi 28,66% (YoY).
Menurutnya, hal ini mencerminkan permintaan dalam negeri, kebutuhan bahan baku dan barang modal, serta kebijakan pemerintah yang mendorong pertumbuhan. “Data perdagangan Tiongkok juga menunjukkan peningkatan ekspor yang besar ke Indonesia pada Juni. Kondisi ini menyebabkan pemulihan ekspor belum cukup untuk sepenuhnya mengimbangi kenaikan impor,” terang Josua.
Josua memandang neraca dagang bisa kembali surplus apabila ekspor komoditas dan manufaktur melampaui perkiraan atau impor migas serta barang modal turun lebih tajam. Namun, dengan laju pertumbuhan impor yang jauh lebih tinggi daripada ekspor, peluang tersebut relatif terbatas. Hasil yang lebih mungkin, lanjutnya, adalah defisit yang mengecil, bukan langsung kembali ke surplus. Hanya saja, baginya defisit perdagangan satu atau dua bulan tidak selalu buruk apabila kenaikan impor terutama berupa mesin, peralatan, dan bahan baku yang meningkatkan kapasitas produksi. bis




