Rupiah-IHSG Ambruk, Kamis Besok Dolar AS Diprediksi Tembus Rp 18 Ribu

Nilai tukar Rupiah diperkirakan bisa menembus level Rp 18.000 per Dolar Amerika Serikat (AS) dalam waktu dekat.

JAKARTA (wartadigital.id) -Pasar keuangan domestik kompak mengalami tekanan pada penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok lebih dari 4 persen, sementara nilai tukar Rupiah kian mendekati level Rp 18.000 per Dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data RTI Business, IHSG ditutup merosot 254 poin atau 4,11 persen ke level 5.941. Nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat mencapai Rp 25,2 triliun dengan volume perdagangan 40 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 2,7 juta kali.

Bacaan Lainnya

Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 692 saham melemah,  69 saham menguat, sementara 54 saham lainnya bergerak stagnan.

Pada saat yang sama, Rupiah ikut tertekan. Mengutip data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup melemah 127 poin atau 0,71 persen ke posisi Rp 17.966 per Dolar AS. Level tersebut menjadi salah satu posisi penutupan terlemah rupiah sepanjang sejarah.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai sentimen negatif di pasar dipicu kombinasi faktor domestik dan global yang membuat investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

Dari dalam negeri, inflasi Mei 2026 tercatat meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi bulanan sebesar 0,28 persen, lebih tinggi dibandingkan April yang sebesar 0,13 persen. “Sentimen mata uang Garuda memburuk setelah inflasi Mei 2026 mencapai 0,28 persen secara bulanan (MtM), naik dari posisi April 2026 yang sebesar 0,13 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026. Secara tahunan Indonesia mencatatkan inflasi 3,08 persen secara tahun kalender,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulisnya.

Kenaikan inflasi ini kata Ibrahim dipengaruhi oleh harga pangan, energi, tarif yang diatur pemerintah, serta pelemahan nilai tukar Rupiah.

Selain itu, surplus neraca perdagangan Indonesia pada April 2026 menyusut menjadi hanya 89,1 juta Dolar AS dari surplus Maret 2026 sebesar 3,32 miliar Dolar AS, meski masih mempertahankan tren surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

“Namun kalau dilihat secara statistik, surplus perdagangan April menyempit tajam, menggarisbawahi tekanan pada daya beli dan ketahanan eksternal akibat pasokan global yang tersendat akibat Selat Hormuz diblokade oleh pasukan Garda Revolusi Iran yang sampai saat ini belum ada kejelasan kapan akan dibuka kembali,” jelas Ibrahim.

Menurutnya, kondisi tersebut memperburuk persepsi investor terhadap ketahanan eksternal Indonesia di tengah meningkatnya risiko global.

Dari luar negeri, pasar masih dibayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Investor terus mencermati perkembangan konflik yang melibatkan Israel, Lebanon, Iran, dan Amerika Serikat, terutama karena kawasan tersebut berkaitan langsung dengan jalur distribusi energi dunia.

Ketidakpastian di sekitar Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.

Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan pasar tenaga kerja yang masih solid. Kondisi itu memperkuat ekspektasi bahwa Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Menurutnya, penguatan Dolar AS akibat prospek suku bunga yang tetap tinggi semakin menekan mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah. “Untuk perdagangan besok, mata uang Rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.960-Rp 18.030,” pungkas Ibrahim.  rmo

Pos terkait